Jangan Sotoy Untuk Beramal

giving

“Hari Sabtu minggu pertama Ramadhan giliran ibu ya yang menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk masyarakat.  Ingat lho bu, jangan sampai kurang porsinya.  Lebih baik berlebih daripada kekurangan!”   Kalimat bernada tinggi itu terngiang-ngiang terus ditelingaku seperti alarm yang bunyinya sangat nyaring.  Aku nggak keberatan sih menyediakan makanan, tapi kenapa harus weekend?  Gondok rasanya mendengar kalimat si ibu pengurus masjid itu yang se-enaknya kasih perintah tanpa menanyakan kesanggupanku dulu!  Namun sebagai orang yang masih dianggap pendatang baru, aku ingin bias diterima menjadi bagian dari komunitas Indonesia di Yangon dan ini merupakan kesempatan bagus untuk berkumpul bersama masyarakat Indonesia di perantauan ini.  Siapa lagi yang bisa dijadikan saudara saat kita rindu keluarga di tanah air kalau bukan masyarakat Indonesia yang sama-sama merantau di negri seribu Pagoda ini?

Bagiku, Ramadhan kali ini adalah yang kedua di Myanmar.  Aku tidak terlalu aktif saat Ramadhan terdahulu.  Maklum, sebagai seorang expatriate yang baru menjejakkan kaki di negri ini, fokusku adalah untuk menyesuaikan diri dan membangun relasi dengan rekan-rekan kerjaku sehingga waktuku lebih banyak dihabiskan di kantor.  Jarang sekali aku ikut kegiatan di masjid maupun kegiatan masyarakat Indonesia.  Namun kali ini aku sudah settle di tempat kerjaku, anak-anak pun sudah settle di sekolah dengan kegiatan mereka sendiri.  Sekaranglah saatnya untuk menjalin tali silaturahmi dengan sesama perantau sekalian beribadah di bulan suci Ramadhan ini.

Teringat aku akan surat Al-Baqarah ayat 183 yang terjemahannya berbunyi:  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).  Lebih lanjut lagi aku pun teringat perkataan guru-guruku terdahulu bahwa memberi makan orang yang berpuasa itu berlipat ganda pahalanya sebagaiman yang dihaditskan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:  “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR Tarmidzi, 807)

Kalau memberi makan orang berpuasa itu akan berbuah tabungan segudang pahala dan bukti keimananku pada Allah SWT sang Pencipta alam semesta ini, lalu apa sih yang membuat aku bête saat si ibu pengurus masjid itu meminta aku menyediakan makanan berbuka puasa?  Apakah cara dia berbicara?  Apa karena jumlah yang harus disiapkan melebihi hari-hari non-weekend?  Apakah sayang mengeluarkan uang sekian banyak untuk beli bahan makanan karena kepingin banget beli cincin ruby bertahtakan berlian yang aku taksir di pasar Bogyoke tempo hari dan cicilan apartemen yang aku beli bersama suami bulan ini belum dibayar?  Apa karena kegiatan memasaknya itu sendiri yang ngebayanginnya aja udah bikin capek?  Apa karena sekarang tanggal tua?  Jawabannya ya, aku tidak suka cara ibu itu memerintahkan aku se-enak jidatnya.  Ya, memang jumlah jamaah weekend lebih banyak dari hari-hari biasanya.  Ya, aku memang pingin sekali punya satu cincin Ruby mogok yang terkenal itu, masak sudah sampai di Myanmar gak punya cincin dengan batu permata khas negeri ini sih?  Ya, aku dan suami harus mengirim uang ke Jakarta untuk membayar cicilan apartemen kami bulan ini.  Ya, memasak itu bikin capek dan aku paling tidak suka pergi ke dapur.  Ya, sekarang tanggal tua, aku harus pintar mengatur keuangan, jangan sampai tabunganku terpakai.

Seperti biasanya, saat aku kesal aku langsung menelpon mama di Jakarta.  Mamaku ini perempuan hebat.  Seorang mantan wanita karir yang sekarang mengabdikan dirinya memberikan pendidikan dan fasilitas kesehatan kepada anak-anak tidak mampu.  Beliau selalu mampu put things into perspective.  Aku tumpahkan kekesalanku pada mama lewat telpon.  “Ma, orang-orang itu mikir gak sih merintahin orang lain untuk masak.  Ini tanggal tua, aku disuruh masak untuk berbuka puasa di masjid, weekend lagi yang jumlah orangnya lebih banyak dari hari biasa!  Nggak nanya-nanya apa aku sanggup apa nggak!  Ini kan tanggal tua!  Mana aku harus bayar cicilan apartemen.  Trus kemarin aku juga naksir cincin Ruby bertahtakan berlian, lumayan kan ma buat disimpan.  Mama tau sendiri kan aku paling gak suka ke dapur.  Bete deh ma!” demikian umpatku pada beliau.  “Sudah selesai ngomelnya?” jawab mamaku.  “Kak, bulan Ramadhan itu datang hanya setahun sekali.  Bulan ini adalah bulan penuh berkah, dimana pahala kita dilipatgandakan oleh Allah SWT.  Itu sebabnya orang berlomba-lomba untuk nabung pahala saat bulan Ramadhan.  Dari kecil kamu sudah melakukan itu, berlomba untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, berlomba bersedekah dan lain sebagainya.  Apa bedanya dengan sekarang saat kamu diminta memberi makan orang untuk berbuka puasa?  Soal bayar cicilan apartemen itu sudah menjadi kewajiban kamu karena kamu sendiri yang beli apartemen dengan cara nyicil.  Kalau kamu gak bayar, kamu tambah berhutang.  Kamu gak suka ke dapur, tapi kamu kan ada pembantu dirumah yang sudah pintar masak masakan Indonesia.  Kamu tinggal buat menunya, beli bahan-bahannya dan minta tolong dia untuk memasaknya buat kamu.  Soal cincin yang kamu mau beli, nak….bulan Ramadhan tahun ini tidak bisa kamu tunda.  Untuk masuk ke dalam bulan Ramadhan lagi, kamu harus menunggu satu tahun lamanya.  Beli cincin itu lebih bisa kamu tunda kan?  Kalau pun kamu tetap ingin membelinya, bulan depan pun bisa kamu beli.  Minta saja penjualnya untuk simpankan.  Ingat kak, kalau kamu beli cincin, senangnya hanya kamu yang merasakan, sementara kalau kamu memberi makan orang yang berpuasa, senangnya dirasakan banyak orang.”

Selepas aku berbicara pada mamaku, aku berfikir lagi, mengingat dan mencoba memahami arti ayat 183 surat Al-Baqarah, hadits HR Tarmidzi 807 dan perkataan mama tadi.  Dalam ayat 183 surat Al-Baqarah, Allah SWT menyerukan, memerintahkan umatNya yang beriman kepadaNya dan Rasulullah untuk berpuasa.  “Hai orang-orang yang beriman…..”  Apakah aku termasuk dalam golongan orang yang beriman?  Of course!  Aku tidak mau jadi orang musyrik, orang yang tidak beriman.  Lantas kalau memang aku mengaku sebagai orang yang beriman, kenapa aku harus ngedumel saat diminta untuk memberi makan orang yang berpuasa padahal itu ada hadits sahihnya yang diriwayatkan dalam HR Tarmidzi 807?  Pertanyaan itu muncul lagi.  Sejenak aku mulai berfikir bahwa pahala yang aku dapatkan sebagai orang yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah akan dilipatgandakan di bulan Ramadhan ini.  Pahala memberi makan orang yang berpuasa juga akan dilipat gandakan.  Pastinya lebih dari investasi apartemen atau cincin Ruby yang aku inginkan itu.  Apartemen dan cincin itu tidak akan memperberat timbangan amalku, sementara keimananku dan perbuatan baikku justru bisa memperberat timbangan amalku nanti.

Masih belum puas, aku mulau browsing di internet.  Mencari tahu tentang makna haditz HR Tarmidzi 807.  Sampailah aku pada sebuat tulisan tentang do’a yang di ijabah oleh Allah SWT.  Rasulullah pernah bersabda:  “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” Dan waktu berbuka puasa adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.  Berarti, kalau para jamaah itu mendoakan aku Allah SWT akan mengabulkan doa mereka untukku dong, Insya Allah.

Berbekal keyakinan itu, aku mulai merenung, mengosongkan pikiran, menenangkan diriku.  Aku tarik napas dalam-dalam, kututup mataku dan semakin tenang yang aku rasakan.  Aku mulai membayangkan wajah jamaah masjid saat bedug berbuka puasa ditabuh.  Allahuma lakasumtu, wa bika aamantu, wa’ala rizkika afthartu, birahmatika yaa arhamarrahimiin….  Mulut mereka komat kamit melafalkan doa berbuak puasa.  Kemudian jamaah mulai berbaris rapih disekitar meja makan, satu-satu mengambil ta’jil dan makanan yang aku hidangkan, melepas dahaga dan lapar setelah seharian berpuasa.  Nikmat rasanya, nikmat pula pemandangan yang aku lihat dalam benakku.  Perlahan aku perjelas pemandangan itu sampai seolah aku pun mendengar komentar-komentar bahagia dari anak-anak dan jamaah lainnya, betapa mereka bersyukur dan menikmati makanan yang aku sajikan.  Ada perasaan bahagia yang sulit dijelaskan.  Inikah rasanya ikhlas?  Perlahan kubuka mata saat perasaan bahagia itu masih pada puncaknya.  Aku ucapkan Alhamdulillah dan Bismillahirahmanirahiim karena saat itu juga aku putuskan untuk pergi ke pasar.

Dengan senyum di bibir segera kuambil kunci mobil dan meluncur ke salah satu pasar di Yangon yang cukup semrawut.  Kalau biasanya aku banyak mengeluh karena lalu lintas di sekitar pasar mengingatkanku pada kemacetan dan kesemrawutan pasar Tanah Abang, kali ini aku sangat menikmati kekisruhan disekitarku.  Sambil berdendang mengikuti lagu yang kuputar, mataku mulai mencari tempat parkir yang segera aku dapatkan.  Kemudian aku mulai melangkah ke dalam pasar, membeli daging, sayur, ikan, dan buah-buahan yang lokasinya berdekatan satu sama lain.  Dengan bahasa isyarat dan modal telunjuk, aku berkomunikasi dengan pedagang di pasar itu.  Saat aku hendak membayar belanjaanku di seorang pedagang buah, dia memberiku satu buah nanas, satu kotak berisi durian dan satu kantong plastik rambutan.  “Madame, present for you…. Present for Ramadhan.  You muslim ya?  Today ramadhan, this for open fasting,” ujar si pedagang buah dalam bahasa Inggris seadanya.  Subhanallah…. Kok banyak sekali hadiah yang dia berikan untukku?  Bukan hanya itu, pedagang daging pun memberiku satu kantong plastic tetelan.  “Madame, this for soup.  Good le!  Soup with fat….water tasty le!” demikian kata sang penjual daging.  Ya Allah…. Nambah lagi hadiah dari pedagang di pasar ini dan kebetulan sekali aku memang berniat membuat soto Padang sebagai menu berbuka puasa nanti.

Setibanya dirumah aku kembali merenung.  Aku ambil Al-Qur’an dan kubuka surat Ar-Rahman ayat 13.  “Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?”.  Ayat yang diulang sampai 31 kali dalam surat tersebut membuatku tertunduk, malu.  Ya… aku malu karena sempat bête saat diminta menyediakan makanan berbuka puasa padahal justru disitulah terdapat nikmat Allah bagiku.  Aku malu, karena sempat mementingkan nafsuku untuk membeli cincin Ruby bertahtakan berlian yang bikin silau mataku sendiri padahal dengan uang tersebut aku bisa memberi makan ratusan anak yatim.  Aku malu, karena sempat pelit mengeluarkan uang di ‘tanggal tua’ untuk membuat makanan berbuka puasa jamaah masjid, padahal uang yang aku keluarkan tidak seberapa malah limpahan hadiah aku dapatkan dari para pedagang tersebut.

Maka….nikmat Allah mana yang aku bisa dustakan lagi kalau hanya dengan keikhlasan berbuat baik Allah justru memberikan limpahan nikmatNya?  Jawabannya: TIDAK ADA, makannya jangan sotoy untuk beramal!

PS: This is a fictional story, written to put into context the meaning around Ramadhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s