Pindahnya Keyakinan

Children

Dari kecil hingga dewasa, wejangan tentang anak yang sering saya dengar, kemudian saya amini adalah anak itu titipan Sang Khalik, karenanya sebagai orang tua kita harus menjaga agar titipan tersebut tidak hilang atau rusak.  Pas apa nggak ya jargon tersebut?  Jujur saja, saya nggak pernah mikirin sampe sekarang ini.

Apa yang saya lakukan jika seseorang menitipkan barangnya pada saya? Kalau saya dititipi barang biasanya yang saya lakukan adalah menyimpan barang itu baik-baik di tempat yang aman.  Seringkali, saking pengen aman, saya lupa dimana barang tersebut disimpan apalagi kalau yang nitip nggak sempat ngambil atau lupa ngambil barangnya.  Ketika analogi ini saya bawa kedalam kehidupan nyata, saya jadi terperangah sendiri.  Jika anak adalah titipan dan jika seperti ini saya memperlakukan titipan, maka ada kemungkinan anak saya simpan dirumah saja biar nggak hilang dalam rimba kehidupan, dan bahkan saya bisa juga lupa kalo saya punya anak!  Pernahkah saya begini?  Nyimpen anak di rumah?  Untungnya nggak pernah.  Lupa kalo saya punya anak?  Pernah.  Anda yang membaca kemungkinan besar akan berkata “you are not ready to be a mother” atau “you’re a bad mother” atau label-label negatif lainnya.

Apa alasan saya lupa?  Saya sibuk di kantor, bekerja membantu suami yang gajinya menurut saya nggak sebanding dengan pengabdiannya, untuk menafkahi keluarga kecil kami.  Mungkin Allah membuka pintu rejeki keluarga kami lewat saya.  Kalau dulu alasan tersebut saya maklumi dan paksa orang lain untuk maklumi, sekarang saya malu sendiri udah make alasan tersebut.  Kenapa?  Lha wong kalau ada tamu yang datang bertandang atau menginap di rumah, saya bener-bener memastikan tamu tersebut di service dengan baik di rumah kami, dan saya nggak pernah lupa tuh kalau ada tamu di rumah.  Kenapa saya kok bisa lupa saya punya anak?

Minggu lalu, sahabat, kakak ketemu gede dan mentor saya, Mbak Okina Fitriani mengatakan bahwa anak adalah tamu istimewa yang hadir atas seijin Allah.  Intriguing, yes?  Belum pernah saya nyamain anak dengan tamu.  Tapi jika saya ambil analogi ini dan saya sematkan pada kebiasaan saya memperlakukan tamu, maka sudah pasti saya akan menservice tamu saya dengan baik, berusaha dia nyaman di rumah saya sehingga ketika tamu tersebut keluar dari rumah, ingatannya akan kembali ke rumah, maka anak sebagai tamu istimewa lebih cocok dibanding anak itu titipan.  Saya pun berpindah keyakinan, murtad terhadap keyakinan lama saya bahwa anak itu titipan.  Bagi saya memandang anak sebagai titipan kok terasa lebih berat, parno, tapi less challenging sementara memandang anak sebagai tamu istimewa terasa lebih ringan, membanggakan (istimewa lho!) dan challenging.  Parno hilang (meskipun gak 100% karena sengaja saya simpan sedikit untuk penyeimbang), beban lupa sama anak hilang dan thrilled at the same time.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s