Masih Gengsi Untuk Berubah?

Beberapa waktu yang lalu beberapa teman saya mendebatkan soal mana yang lebih baik, jadi ibu berkarir atau jadi ibu rumah tangga.  Ada yang mengatakan jadi ibu rumah tangga itu lebih mulia karena kita jadi bisa mendidik anak 100% sementara yang lain mengatakan jadi ibu berkarir lebih mulia karena selain bisa mendidik anak, kita juga bisa membantu keuangan rumah tangga.  Whatever the argument is, buat saya hal ini nggak bisa di pukul rata kepada semua wanita di dunia karena tidak ada satu wanita pun yang persis sama kehidupannya dan menurut saya jadi ibu rumah tangga 100% atau ibu berkarir tidak berbanding lurus dengan hasil akhirnya – anak.

Saya pernah mengalami jadi ibu rumah tangga, semi ibu rumah tangga dan ibu berkarir.  Waktu efektif saya bersama anak-anak kurang lebih sama, yaitu di sore hari menjelang sholat Maghrib sampai mereka tidur dan weekend.  Jadi dari sisi menghabiskan waktu bersama tidak ada bedanya antara ketiga ‘profesi’ tersebut.

Bagaimana jika dilihat dari sisi kualitas waktu bersama?  Nggak ada bedanya juga karena saya sibuk dengan handphone, anak-anak belajar dengan tutor mereka, dan ujung-ujungnya waktu saya dengan mereka pun nggak efektif dan nggak berkualitas.  Sudahlah waktu bersama mereka terbatas, nggak efektif dan nggak berkualitas, dasar emak-emak, saya pun banyak tuntutan terhadap mereka.  Mulai dari sholat tanpa disuruh sampai pulang ke rumah dengan nilai yang selalu meningkat (meskipun tanpa ranking).

Soal sholat, kedua anak saya selalu harus di ingatkan padahal Aya (11) dan Yai (7) saya ajarkan sholat sedini mungkin.  Soal nilai pelajaran, Aya tidak mengkhawatirkan sementara Yai tidak konsisten. Ini baru dua tuntutan, belum tuntutan lainnya yang jika di tulis satu-satu nggak akan ada habisnya.  Jika tuntutan-tuntutan saya tersebut tidak mereka penuhi, mulut ini merepet seperti knalpot rusak.  Kebayang kan apa yang ada dalam pikiran anak-anak?  “Mama ngantor atau nggak, nggak ada bedanya. Tetap sibuk sama handphone, tetap banyak tuntutan dan tetap merepet kalau kesel.” Begitulah kira-kira, dan ngomong dengan anak pun berasa ngomong sama tembok.  Bikin gondok!

Akibat rasa frustrasi menghadapi Aya, ABG yang lebih doyan mainin HP dan Yai yang isi otaknya main dan main lagi, dan nuntut mereka untuk berubah juga sepertinya sulit sekali karena sampai mulut berbusa ngomong dengan nada bersahabat sampai nada berdesibel super tinggi tetap saja mereka nggak berubah.  Mayday…. mayday….!  Saya takut anak-anak saya jadi tipe anak yang menakutkan (silahkan bayangkan anak seperti apa yang bikin orang tuanya bergidig ya).  Bagaimana pertanggungjawaban saya nanti?

A wise person a long long time ago yang kebetulan lecturer saya dalam mata kuliah Change Management pernah mengatakan: “Gita, don’t expect others to change if they don’t see the urgency to change and don’t expect others to change if you yourself don’t change.”  Bagian pertama kalimat tersebut sering saya dengan ketika saya bekerja namun sekarang bagian kedua kalimat tersebut lebih sering saya dengar lagi.  Urgency untuk sebuah perubahan dalam keluarga terutama hubungan dengan anak sudah terasa, dan saya setuju perubahan tersebut harus datang dari saya meskipun saya statusnya ibu mereka.  Gengsi?  Bah… kalau sahabat-sahabat baru saya mengalami sebuah revolusi positif dalam keluarga mereka terutama hubungan mereka dengan anak-anak artinya gengsi berubah karena kita orang tua udah nggak laku lagi sekarang.

Therefore…. ketika pesawat saya mendarat di Yangon pada tanggal 25 April lalu, saya pun bertransformasi.  Sekarang sudah hampir 2 minggu, perubahan saya di ikuti dengan perubahan anak-anak.  Apa itu?  Simak aja terus ya…..

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s