A Little Flexibility

mother daughtersBagi anda yang pernah baca postingan saya di Facebook tempo hari mungkin udah paham bagaimana persepsi saya terhadap mobile phone.  Nggak megang HP rasanya bagai nggak punya pegangan hidup.  Padahal nggak di pegang juga hidup jalan terus.

Nah, dalam keluarga kecil saya keberadaan telpon genggam emang hits banget.  Kita berempat, antar anggota keluarga jadi cuek beibeh satu sama lain.  Celakanya, kita (tepatnya saya) menuntut anak-anak untuk mengurangi durasi genggam-genggam si telepon genggam sementara saya sendiri tetap gak bisa pisah sama si HTC pujaan hati itu.  Sampai suatu hari ketika saya dikelilingi oleh teman-teman senasib, saya menyadari kalo mau sampe rambut ini 100% uban semua jangan pernah ngerepin mereka akan mengurangi durasi megang HP kalo kita nggak ngurangin duluan.

Sekarang udah hampir 2 minggu saya dan anak-anak memberlakukan bebas HP dari jam 6 – 9 malam.  Berat?  Nggak kok.  Malah sekarang nggak bawa HP juga gak berasa ada yang hilang.  Selama 3 jam saya hanya fokus ke anak-anak.  Pembagian waktunya kira-kira begini: 30 menit nemenin dan bantuin mereka mengulang pelajaran, 1 jam makan malam bersama lanjut ngobrol, 15 menit fokus sama Aya, 15 menit fokus sama Yai, 1 jam main atau nonton DVD pilihan mereka sama-sama.  Memang nggak selalu strict seperti itu karena esensinya adalah menghabiskan waktu bersama dan memberikan perhatian khusus untuk masing-masing anak.

Mau tau hasilnya dong setelah hampir dua minggu ini?  Ini dia hasilnya:

  • Hubungan dengan anak-anak jadi lebih seru
  • Banyak informasi yang sebelumnya saya nggak tau tentang mereka yang mereka sampaikan ke saya tanpa malu-malu dan sungkan
  • Saya jadi ngerasa dibutuhin (ge-er dikit boleh kan) karena kalau saya ada acara antara jam 6-9 mereka sekarang nanya “harus pergi ya? nggak seru nggak ada mama”
  • Komunikasi dengan mereka lebih lancar.  Kalo dulu nyuruh sholat aja mulut bisa berbusa, sekarang cuma dengan ngomong “udah jam berapa ya sekarang?” mereka otomatis ambil wudhu kalau mereka belum sholat, atau kalau pertanyaannya “siapa yang udah sholat?” mereka akan menyerukan nama masing-masing (kalau udah sholat) atau jalan ke kamar mandi untuk ambil wudhu.

Masih banyak lagi sih hasilnya, tapi yang jelas kualitas hubungan ibu dan anak jadi jauh lebih baik.  So it doesn’t matter whether you’re a stay home mom, a semi stay home mom or a career mom, the essence of a quality mother-children or parents-children relationship is in your willingness to be flexible. Even a little flexibility creates a huge change.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s