Udah Selesai Belum Emosinya?

UpsetHari Sabtu malam yang lalu, Aya marah dan kecewa, atau tepatnya frustrasi karena UAS yang awalnya dijadwalkan tanggal 23 Mei berubah jadi tanggal 16 Mei.  Rasa frustrasinya dilampiaskan dengan marah-marah.  “That’s it!  I’m not going to do the exam,” hardik Aya dengan muka nyebelin.  Udah bisa ditebak, segala sesuatu yang saya katakan ke dia pasti dibantah terus dan itulah yang terjadi malam itu.

“Kak, I understand that the news may have frustrated you.  Come, let me hug you,” saya coba untuk berempati, mencoba ‘menyelesaikan emosinya’.  Saya pikir dengan kata-kata empati tersebut emosi Aya akan turun.  Ternyata nggak.  Emosinya masih tinggi, saking tingginya dipeluk aja nggak mau.  Dia pun merepet (nular dari siapa ya?  ya dari saya lah karena dulu saya suka merepet).

“It’s not fair.  I was told the exam in on the 23rd.  Now it is on the 16th.  Do you think it’s easy to do an exam which questions are in Indonesian that I have never came across before?” repet Aya.  Saya cuma dengerin, gak di potong, dan gak saya tanggepin dengan kata-kata.

“That’s it.  I’m going to fail!  I hate this.  Why is Indonesian education is so inconsistent!  This is why I want to change my citizenship!” lanjutnya.  Dalam hati saya bilang ‘ya ampun, segitu keselnya dia sampe mau pindah warga negara?’.

Setelah Aya puas merepet, dan emosinya mulai stabil (meskipun nggak 100% kembali normal), giliran saya yang ngomong.

  • Saya: “Kak, I understand that it’s not easy to do an exam in Indonesian language and you think it’s unfair that the exam is changed to the 16th instead of the 23rd.  Now tell me, what do you want?”
  • Aya: “I just want to get it over and done with and get a good mark on my exams,” jawab Aya.
  • Saya: “That’s good.  Kamu tau apa yang kamu mau dan sekarang kita liat kondisinya ya.  Which date will get the exam over and done with sooner, the 16th or the 23rd?”
  • Aya: “The 16th, but the time to study for the exam is less now.”

Aha!  Ini dia yang jadi sumber kekesalan Aya.  Jadi tugas saya adalah membuat dia realise bahwa masih ada waktu kok untuk belajar supaya apa yang dia inginkan bisa tercapai.

  • Saya: “Kalau Aya nggak ngerjain examnya, you will not get any mark at all kan?”
  • Aya: “Yes”
  • Saya: “Jadi lebih baik ngerjain exam kan daripa nggak ngerjain sama sekali?”
  • Aya: “Yes”
  • Saya: “Nah kamu pengen examnya cepet selesai dengan nilai bagus kan?”
  • Aya: “Yes.”
  • Saya: “Meskipun waktunya lebih sedikit untuk belajar, but you still have time right?”
  • Aya: “Yes.”
  • Saya: “Sekarang Aya juga sekolah nggak seharian seperti dulu, dan seminggu juga cuma 2 hari kan?”
  • Aya: “Yes”
  • Saya: “Artinya, meskipun tanggal 16 tinggal sebentar lagi, dengan berkurangnya jam belajar di sekolah, Aya justru punya waktu belajar lebih banyak.”
  • Aya: “Yes”

Udah lebih dari 3 kata YES, artinya udah ada buy in dari dia dan emosinya dia juga kembali netral.  Dan kondisi ini saya pake untuk ngelanjutin percakapan.

  • Saya: “So, what do you think you should do given the plenty of time you have to get the exam over and done with and with a good mark?”
  • Aya: “Ya I have no choice but to do the exam on the 16th, trus belajar”
  • Saya: “Great!  Kalo gitu kapan Aya mau mulai belajar?”
  • Aya: “Besok”
  • Saya: “Berapa lama Aya belajarnya?”
  • Aya: “Half an hour aja untuk semua subject!”
  • Saya: “Yakin?  Mama nggak mau bikin keputusan ya buat kamu.  Kalo emang cuma mau belajar setengah jam, itu pilihan kamu ya.  Bukan pilihan mama.  But I’ll be around if you need me.”
  • Aya: “Yaudah setengah jam per subject per day”
  • Saya: “Great.  I’m proud of you because you decided not to give up.”

Meskipun tujuan tercapai tapi Aya yang emosinya tadi udah netral, balik kesel lagi until the rest of the evening.  Dan malam itu pun dia mutusin tidur sendiri, which is a good thing karena selama ini dia takut tidur sendiri.  Dan besok malam setelah saya dan suami kembali dari training seharian, dengan bangga dan senyum lebar Aya laporan.

“Ma, I did 40 sample Math questions today.  But I haven’t done the other 3 subjects because I spent more than 30 minutes on Math.  Aya masih mau belajar tapi temenin ya.”

Saya cuma liat-liatan sama suami.  “That’s the spirit Ay, proud of you for keeping your words!”

Berkaca dari pengalaman diatas, kira-kira kesimpulannya seperti ini:

  • Emosi itu menular (seperti ulasan cikgu).  Dulu kalo Aya udah kesel dan mulai jutek, saya gampang banget kepecut ikut kesel dan jutek.  Kesannya gak mau kalah sama anak.  Sekarang setelah sadar, saya berusaha untuk gak gampang kepancing dan berusaha tenang (bismillah dan insyaallah bisa).  Step back, disociate sama diri sendiri biar emosi kita gak kepancing karena lebih bagus ikan yang kepancing daripada emosi.
  • Saat anak atau siapa pun kawan bicara kita emosi, gak usah diajak diskusi sebelum emosinya selesai karena yang ada malah jadi berantem.  Dulu karena kepancing emosi saya jadi merepet seperti knalpot bocor.
  • Fokus sama tujuan.  Dulu kalo udah merepet saya jadi lupa sendiri apa tujuan saya ngomong in the first place.  Dalam pengalaman ini saya hindari merepet supaya pikiran jernih dan tujuan saya bikin Aya nyadar kalo dia masih ada waktu untuk belajar dan supaya dia belajar tercapai.
  • Bangun kedekatan.  Dulu, gimana kedekatan bisa terbangun wong saya merepet berkepanjangan.  Sekarang saya coba bangun kedekatan dengan memastikan apa yang saya pikirkan matching atau disetujui sama Aya dengan ngedapetin beberapa kali “Yes” dari dia.  Sayangnya, kenapa pula saya bilang ke dia “Kalo emang cuma mau belajar setengah jam, itu pilihan kamu ya.  Bukan pilihan mama.”  Kalimat terakhir saya justru bikin saya ngejauh dari dia, which gak konsisten dengan keinginan saya untuk bangun kedekatan.  Makanya dia kesel lagi padahal sebelumnya emosinya udah mulai netral.
  • Minta anak yang bikin keputusan supaya dia belajar bikin keputusan dan punya ownership terhadap keputusan tersebut.  Ketika mereka nggak konsisten dengan keputusannya, jadi lebih gampang untuk minta mereka ngerjain apa yang mereka janjikan karena pada dasarnya manusia gak gampang untuk menghianati diri sendiri.

So reader…. ask yourself: udah selesai belum emosinya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s