Marah Tanpa Marah-Marah

AngryHari ini saat jam makan siang, saya dapet telpon dari Yai, mini me yang berumur 7 tahun.  “Ma, kata Azka (teman dekatnya) Yai disuruh ke rumah Azka.  Kita mau belajar bareng.”  Sebenarnya saya udah tau kalo Yai yang pengen ke rumah Azka dan kemungkinan krucil-krucil itu belajar bareng kecil banget, tapi saya pikir ini adalah kesempatan untuk menanamkan value jujur pada Yai.  Maka sebelum saya meng-iya-kan, ada beberapa hal yang perlu saya konfirmasi pada dia untuk dapet komitmen.

“Yai udah makan?”, tanya saya.  Jawabannya ‘belum’.  “Yai udah sholat?”, tanya saya lagi.  Jawabannya ‘belum’.  Tapi kemudian dia bilang, “Yai makan dan sholat dulu sebelum ke rumah Azka.”  Good, dia tau kalau syarat untuk pergi ke rumah temannya adalah harus sholat dan makan dulu dan dia yang berkomitment untuk melakukan 2 kegiatan tersebut sebelum pergi ke rumah Azka (so I praised her).  Mengingat Yai punya kebiasaan males pulang kalo udah asyik main, saya perlu dapet komitmen ke-2, “Jam berapa Yai mau pulang?”.  Dia pun mengatakan akan pulang jam 3 sore.  Done, saya dapet komitmen untuk sholat dan makan sebelum ke rumah Azka, sekaligus komitmen untuk pulang ke rumah jam 3.

Sore harinya saat waktu Ashar hampir habis, saya tanya ke Yai apakah tadi sebelum ke rumah Azka jadi makan?  Dari cara dia ngejawab, saya yakin dia makan. Tapi ketika saya tanya apakah dia sholat sebelum ke rumah Azka dan apa yang dia pelajari di rumah Azka, kepalanya langsung dia tutup selimut which is kebiasaan dia kalau merasa bersalah dan kalau udah begini, Yai nggak akan bisa langsung diajak bicara.  Jadi saya putuskan untuk nggak maksain bicara karena saya takut mulut saya berubah jadi knalpot bocor, merepet nggak jelas ujungnya.  Yang saya katakan pada Yai cuma, “Okay Yai, sekarang hampir masuk waktu Maghrib, mama yakin Yai tau apa yang wajib Yai kerjakan sekarang.”

Perlahan dia merosot dari tempat tidur (masih dengan selimut menutupi kepala dan seluruh badannya) kemudian ngibrit ke kamar mandi untuk berwudhu.  Setelah sholat Ashar dia mandi, ganti baju dan lanjut sholat Maghrib tanpa saya suruh.  Saya masih belum mau ngajak dia bicara.  Disamping untuk ngasih space buat dia, saya juga pingin membuat dia ‘ngeh kalau saya kecewa karena dia nggak nepatin janjinya tadi siang.  Saya ngediemin Yai kurang lebih selama 15 setelah dia selesai sholat Maghrib, baru kemudian saya ajak dia bicara.

Saat itu dia duduk di kursi pendek, dan saya jongkok di lantai sehingga posisi kami sejajar.  Saya pegang tangannya dan saya katakan pada dia, “Yai, tadi siang Yai janji mau makan dan sholat sebelum ke rumah Azka kan?”.  Dia jawab dengan anggukan.  “Yai bilang mau belajar di rumah Azka.”  Dia ngangguk lagi.  “Ternyata Yai nggak belajar di rumah Azka karena yang Yai bawa kesana mainan, bukan buku.”  Sekali lagi, dia ngangguk.  “Trus, Yai juga nggak sholat sebelum ke rumah Azka.”  Kepalanya langsung nunduk, sambil ngangguk.  “Kalau mama nggak nepatin janji ke Yai, Yai kesel nggak?”.  Dijawab pelan, “iya, kesel.”  Abis itu saya tatap terus wajahnya dan merubah posisi saya sehingga saya jadi lebih tinggi dari dia sambil berkata tegas, “Yai, mama senang karena Yai pulang ke rumah jam 3 seperti janji Yai, tapi kecewa sama Yai karena Yai nggak nepatin janji untuk sholat dan bohong karena ternyata Yai main bukan belajar”, trus saya rubah lagi posisi seperti semula sambil saya pegang tangannya dan berkata, “karena Yai nggak nepatin janji dan bohong sama mama, Yai nggak boleh ke rumah Azka selama seminggu dan kalau diajak belajar sama Azka, Yai ajak Azka yang kesini.”

Saya pikir dia bakal uring-uringan dan nutup kepalanya dengan selimut lagi karena dilarang ke rumah Azka.  Ternyata dugaan saya salah, dia malah senyum dan meluk saya sambil bilang, “sorry ya ma, Yai bohong sama mama.”  I think she realised what she’s done wrong.

Saya boleh marah, tapi saya milih nggak marah-marah.  Makanya punishment yang saya berikan masih tetap bisa memberdayakan dia dengan tidak ‘memutus’ hobby kumpul-kumpul Yai sama teman-temannya.  Saya cuma mindahin lokasinya ke rumah kami supaya bisa lebih termonitor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s