Looking Through the Eyes of Love

Sibling FightKata-kata adalah doa karena doa terdiri dari kata-kata.  Saat kata-kata diucapkan sepenuh hati, kata-kata di ijabah, doa di ijabah.  Maka berhati-hatilah dengan kata-kata jika kita nggak menginginkannya untuk di ijabah Yang Maha Mengabulkan Doa.

“Kalian ini suka banget sih berantem, ntar mama kurung, mau?”  Kayaknya kalimat itu masih sering terngiang-ngiang di kuping, sambil tepok-tepok jidat.  Dipikir-pikir, memalukan banget bilang ke anak kalo mereka “suka” berantem seolah-olah berantem itu seperti sebuah hobby.  Mungkin saking keseringan teriak-teriak seperti itu, masuklah kata-kata saya tadi ke alam bawah sadar mereka dan akhirnya anak-anak malah jadi sering berantem.  Berantem pun beneran jadi hobby.  May be, and that’s scary.  Lalu pertanyaan bernada ngancem “mama kurung, mau?” – please deh.  Siapa pula yang mau dikurung, jelaslah anak-anak akan bilang nggak mau atau bisa jadi dalam hati mereka malah bilang “ah, emangnya mama bakal ngurung kita beneran?”

Kalau orang dewasa yang udah punya pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain lebih banyak aja bisa berselisih pendapat apalagi anak-anak.  Jadi harusnya sih nggak usah terlalu lebay lah liat anak berantem dan denger teriakan-teriakan mereka, tapi…. ya, pasti ada tapinya.  Celakanya kelanjutan si ‘tapi’ ini suka dijadikan excuse untuk melakukan suatu tindakan yang gegabah, seperti kalimat ‘sakti’ saya diatas.

Untungnya itu dulu.  Sekarang saya nyoba untuk berubah dan pake cara lain yang lebih efektif untuk menyelesaikan pertengkaran mereka.  Jadi saat mereka berantem saya nggak nanggepin perkelahian mereka pake urat leher, tapi pake akal sehat.  Jari telunjuk nih seakan joged-joged di depan mata sambil ngomong “eits… loe boleh marah tapi jangan marah-marah, okeh!”

Akal sehat menggiring saya untuk bisa disosiasi dari situasi, melihat apa yang jadi penyebab perkelahian Aya dan Yai yang ternyata lebih sering disebabkan oleh perbedaan pendapat atau kekurangpahaman.

Saat udah bisa ngeliat situasi dengan kacamata yang objective, ngomong sama mereka pun jadi lebih enak.  Yang jelas gak pake nada penyanyi seriosa, jauh lebih santai daripada jaman jahiliyah dulu, dan yang paling penting adalah outcome yang dicapai dari percakapan dengan Yai.  Maka ketika suatu hari Yai ngambek (tepatnya nangis) karena berantem sama Aya, reaksi pertama saya adalah menyelesaikan emosinya.  How?  Pelukan.  Yai suka saya peluk, seperti anak-anak pada umumnya.  Maka ketika saya peluk, tangisannya pun cepat reda.  Dalam hati saya bilang, kenapa nggak dari dulu saya beginiin dia setiap kali dia nangis sih?

Mungkin pelukan saya tadi udah merupakan sebuah acknowledgement saya terhadap emosinya.  Jadi saya langsung nanya, “Cerita yuk ke mama, apa yang bikin Yai nangis?” Maka mengalirlah ceritanya yang intinya adalah dia kesel sama Aya ketika disuruh buang biscuit crumbs yang dia makan yang udah di untel-untel pake tissue (dengan sedikit bumbu, katanya dia juga disuruh buang tissue bekas buang ingus Aya)  karena menurut Yai, Aya nyuruh-nyuruh dia terus.  Yai capek disuruh-suruh, begitu katanya.  Karena capek dia pun ngelawan kakaknya, kakanya kesel dan ngusir dia dari kamarnya.

Next saya minta dia duduk di pangkuan saya, dan memintanya mengulang cerita tersebut.  Tujuannya supaya dia bisa ngeliat pertengkaran diantara mereka dengan pandangan yang lebih netral.  Setelah ceritanya selesai saya minta dia pindah, duduk di tempat lain yang bukan tempat dia duduk sebelumnya.  “De, ceritanya Yai kakak nih, kok kakak bisa marah?” tanya saya pada Yai.  Liat dari raut wajahnya saya tau kalau saat itu Yai udah ngerti alasan kakaknya dan kebetulan banget saat itu Aya masuk ke kamar.  Ngeliat kita lagi ngobrol, Aya langsung bereaksi.  Mungkin dalam hatinya dia bilang ‘huuuhhh ngadu apa lagi sih nih si Yai, mama bakalan ngoceh panjang lebar deh’.  Dan ketika saya ngajak Aya ngomong, dia langsung bilang, “come on ma, you’ll yap again.  I don’t want to deal with this now.”  Penolakan dari Aya karena dulu saya memang suka merepet, tapi saya udah pernah buktiin ke dia kalau saya bisa nggak merepet.  Mungkin sebaiknya saya leave her alone, tapi saat itu saya pengen get the problem over and done with.

Saya minta Aya untuk ceritain apa yang terjadi dan ceritanya checked out (except tentang tissue bekas ingus), and basically took her through the process I went through with Yai.  Alasan Aya kesel dan marah sama Yai karena Aya nggak suka tempat tidurnya kotor dan dia nggak tahan sama biscuit crums.  Yai denger semua yang dikatakan kakaknya dan saya melihat kesempatan untuk mereka reconcile.  So saya pegang tangan Aya dan Yai, dan saya minta Yai untuk kasih tau ke kakaknya apa yang dia rasakan.  “Yai nggak suka kakak nyuruh-nyuruh Yai terus.  Yai kan capek, kak,” katanya.  “Makanya kamu jangan suka bikin tempat tidur kakak berantakan.  Dan kalo udah nyampah ya langsung dibuang,” ucap Aya.  “Tapi Yai kan capek disuruh-suruh terus.  Yai juga buang-buangin sampah kakak,” sambung Yai lagi ngebela diri.  “Ya udah, kalo gitu kakak nggak nyuruh-nyuruh lagi, kakak minta tolong aja,” tegas Aya.

Nah, kalimat terakhir itu bikin Yai lega karena malam sebelumnya saya pernah ngebahas sama dia tentang ngebantuin orang yang minta tolong.  “Tapi Yai janji kalo udah ngotorin kamar kakak harus langsung bersihin,” lanjut Aya yang di balas anggukan Yai.  Case close, mereka baekan lagi, dan saya lega karena penyelesaian masalahnya gak perlu berlama-lama dan saya juga nggak perlu teriak-teriak seperti dulu.

What just happened?  Saya berhati-hati dengan kata-kata saya ketika saya marah.  Makanya saya coba pake teknik yang namanya Perceptual Position tapi dengan sedikit twist – dibikin simple, karena jujur aja saya gak terlalu yakin anak-anak bisa melakukannya (ternyata not bad… mereka bisa).  Menurut saya teknik ini bagus banget untuk ngajarin anak-anak berempati pada orang lain dan melihat permasalahan dari sisi yang berbeda dengan bingkai yang berbeda.  Saya juga sering pake teknik ini untuk diri saya sendiri ketika dealing sama anak-anak dan keunikan mereka.  Intinya, it helps me look through the eyes of love…. uhuy….!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s