Meningkat Tanpa Bermanfaat Bagai Dendeng Balado Tanpa Lado

Love handsSekitar empat tahun yang lalu ada seseorang yang bertanya pada saya, “Git, dalam hidup loe udah berapa orang yang berhasil mendapat manfaat dari loe?”  At first saya nggak ngerti maksud dia apa, dan immediately saya berpikir orang ini gila.  Ngapain pula saya ngitung jumlah orang yang mendapatkan manfaat dari keberadaan saya?  Ketika saya balik bertanya, dengan bangga orang itu bilang, “sekitar 3000 orang lah, mungkin lebih.”  Ishh belagu banget.  Saya langsung ilfil sama orang itu.

Sekarang saya mengerti maksud pertanyaan tadi setelah menempuh perjalanan keluar masuk training dan diskusi dengan orang lain dan diri sendiri.  Pada dasarnya kita diciptakan Sang Pencipta untuk jadi khalifah di muka bumi.  Kita diberikan akal sehat yang sering dibikin sakit oleh kata-kata yang kita ucapkan sendiri dalam hati, berulang-ulang sehingga terbentuklah sebuah persepsi, yang kemudian jadi belief dan berlanjut ke identitas.  Saya mengalami menjadi orang yang begitu negatif, tapi kemudian selalu ada bisikan yang makin hari makin berisik memarahi saya yang kemudian menyadarkan diri saya sendiri, “Kamu mau jadi khalifah yang bagus apa yang jelek?”  Jawabannya obvious lah, yang BAGUS, itu sebabnya saya selalu ingin meningkat.  Apa pun saya lakukan agar sebagai manusia saya bisa ‘meningkat’.  Tapi meningkat tanpa bermanfaat seperti makan dendeng balado tapi gak ada cabenya, kurang nendang lah kira-kira.

Diawali dengan kebersyukuran diberikan ilmu yang bermanfaat dan dikelilingi keluarga dan teman-teman yang luar biasa, saya mulai ketularan belief baru untuk tidak pernah malu jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain diluar keluarga saya sendiri.  Emangnya dulu malu?  Iya, dulu malu karena saya pernah dianggap dan mengamini anggapan bahwa saya ini sotoy, sok menggurui, sok pinter.  Maka apa pun ilmu bagus yang saya miliki, I kept it to myself atau paling banter di share ke keluarga dan orang-orang yang mau dibagi ilmu aja.  Tapi itu dulu, saya rubah belief tersebut.  Jika saya punya ilmu yang bakal bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun kadarnya akan sangat tidak bersyukurnya saya atas ilmu tersebut jika tidak saya tularkan ke orang-orang di sekitar saya.  Mau dicap sama diri sendiri sebagai orang yang TIDAK BERSYUKUR dan TIDAK BERMANFAAT?  Ya, nggak lah!  Saya pun melakukan Sleigh of Mouth pada diri saya sendiri, me-metamodel, meletakkan makna baru dan belief baru.  Makna barunya: berbagi ilmu itu nabung lho!

And so the journey began last week when a bunch of happy, eager to learn ladies mau diajak untuk saling berbagi dalam kelas Enlightening Parenting dengan materi dari my cikgu Okina Fitriani.  I must say, these ladies were amazing!  Saya terkagum-kagum dengan semangat, dan keterbukaan pikiran mereka dalam menimba ilmu dan berbagi pengalaman dengan saya dan sesama peserta.  Yang lebih amazing lagi adalah ketika mereka juga mau mengimplementasikan dengan mempraktekkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.  Saya pun jadi banyak belajar juga dari mereka.  So… dendeng balado yang tadinya tanpa lado pun jadi lebih bermanfaat buat taste buds saya karena ilmu yang dimiliki jadi bermanfaat juga buat teman-teman saya, vise versa… pengalaman mereka bermanfaat buat saya.

Berawal dari reframing, sebuah makna dan belief baru tercipta.  Dan segala sesuatu yang dulu keliatan buruk, seketika berubah jadi indah.  Feed yourself with beautiful words for they will frame a beautiful picture of a meaningless reality because you are responsible to put meaning into that reality.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s