Is Love Enough to Connect?

Mother and kids“…What matters is that a mother loves her children deeply” sebuah kutipan dari kata-kata seseorang yang sempat saya lihat di sosmed.  Emangnya anak bisa idup cuma pake cinta seorang ibu tanpa aplikasi cinta tersebut dalam bentuk kasih sayang, perhatian dan lain sebagainya khususnya dalam pembentukan karakter seorang anak?

Saya nggak mau ngebahas soal peran ayah dalam membentuk karakter anak, karena saya percaya dan nggak pernah ngebantah bahwa ayah punya tanggung jawab yang sama besarnya dalam ngedidik dan ngebentuk karakter anak.  After all, anak adalah tamu istimewa yang hadir atas undangan orang tuanya dan atas persetujuan dari Allah.

Jujur saja, dulu saya berpikiran yang penting saat saya berada bersama anak-anak, saya fokus pada mereka.  Maka ketika dulu saya jadi wanita berkarir, dalih tersebut yang saya pergunakan sebagai excuse untuk mengatur waktu: 75% lebih banyak diluar rumah karena kerjaan plus tugas lainnya, dan 25% bersama anak-anak.  Nggak usah ditanya lah yang 25% itu ngapain aja.  Yang jelas, saya memastikan saya berada di dekat anak-anak, nonton TV bareng atau sekedar ngajak mereka jalan saat weekend tiba.  Tapi puaskah anak-anak akan kehadiran saya?  Ya, mereka puas saking puasnya mereka nggak sabar nunggu malam berganti pagi dan hari Minggu berganti Senin.  Kenapa?  Meskipun saya berada bersama mereka, they couldn’t wait to get rid of me!

Yang muncul dalam benak saya pertama kali adalah mungkin mereka butuh kehadiran saya lebih banyak lagi.  Entah darimana pula pikiran tersebut karena jelas-jelas nggak nyambung dengan fakta bahwa mereka nggak sabaran saya pergi ke kantor.  Akhirnya tahun lalu, tepat sebelum bulan Ramadhan tiba, saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan hanya jadi pekerja ‘asongan’.  Saya hanya mengerjakan proyek-proyek pendek supaya lebih banyak punya waktu dengan anak-anak.  Ternyata, hubungan dengan anak-anak malah tambah parah.  Si kakak lebih memilih untuk menenggelamkan diri di tumpukan buku-buku bacaannya yang tebal-tebal dan rata-rata sudah lebih dari dua kali dia baca, sementara Yai lebih suka main sama teman atau pembantu.  Apa pun yang saya lakukan untuk bisa dekat dan berkomunikasi dengan mereka rasanya nggak dapat respon yang berarti.  Paling mereka memperhatikan saya beberapa saat aja, abis itu cus… saya ditinggal lagi.

Ternyata meningkatnya keberadaan saya ditengah-tengah mereka nggak menjamin kedekatan saya dengan anak-anak, sampai akhirnya saya mencoba mengerti mereka.  Selama ini, saya hanya mengedepankan keinginan saya.  Saya menuntut anak-anak untuk bisa mengerti kondisi saya yang kadang sibuk dengan proyek-proyek singkat dan tugas-tugas lain sebagai istri diplomat.  Cara saya berkomunikasi dengan mereka seolah-olah mereka sudah bisa mengerti jalan pikiran perempuan seumur saya.  Ketika mereka ‘menolak’ kehadiaran saya, saya malah push them to accept me tanpa memberi ruang buat mereka berpikir tentang keberadaan saya.  Saat mereka tidak menuruti keinginan saya, saya tidak berusaha mengerti alasan mereka dan merubah cara saya dalam menyampaikan keinginan saya.  Saat mereka tidak menepati janji, saya menceramahi mereka seolah-olah saya adalah orang yang selalu menepati janji saya.  Saya jadi momzilla yang beda-beda tipis lah dengan godzilla.  Saya jadi ibu yang galak dan menyeramkan, terutama saat marah.  Saya menjadi ibu yang punya jarak dengan anak-anak karena mereka lebih suka curhat ke diary mereka dibanding kepada saya.  Saya pun frustrasi dan sempat menyalahkan mereka.  Alasan saya mengandung mereka selama 9 bulan, bekerja supaya bisa memberikan lebih dari apa yang mereka dapatkan dan alasan-alasan lain saya jadikan justification untuk membela diri.  Saya dan anak-anak totally tulalit!

Saya pun tertohok dengan rasa frustrasi saya.  Dua bulan yang lalu akhirnya saya memutuskan untuk ngerubah approach saya terhadap mereka.  Berkomunikasi dengan anak-anak saya rupanya seperti main layangan.  Kadang di tarik, kadang di ulur.  Setelah sukses nerapin mobile phone free time, hubungan kami semakin baik.  Suara melengking dan merepet seperti knalpot bocor udah tidak pernah terdengar lagi.  Saya jadi orang yang dicari dan di kangenin sama anak-anak.  Nggak jarang mereka tiba-tiba minta di peluk atau meluk.  Si kakak yang udah mulai jadi ABG nggak pernah lagi malu dipeluk atau minta saya peluk sekalipun di depan umum.  Ngebujuk Yai untuk berenti ngambek nggak pernah sesulit dulu.  Contohnya semalam, ketika dia saya larang main HP temannya usai sholat Tarawih.  Yai langsung ngambek dan airmatanya pun menetes, padahal saya mau ngajak dia makan salad buah yang sudah disediakan.

Seperti biasa saya berusaha menyelesaikan emosinya, tapi mungkin saat itu kekesalan dia udah sampe di ubun-ubun karena semua temannya mainin HP dan badan dia pun juga udah capek.  Menyelesaikan emosi kadang-kadang nggak harus dengan ngomong, atau meluk, atau ngelus, atau nyium.  Yang saya lakukan pada Yai adalah memberinya pilihan dengan tujuan berenti ngambek, memintanya membuat keputusan terbaik buat dirinya saat itu, dan memberikan space buat dia berpikir dan menetralisir emosinya.  Pilihan yang saya berikan sama Yai adalah: Yai bisa berenti ngambek sekarang lalu kita makan salad buah sama-sama, atau Yai bisa berenti ngambeknya 10 menit lagi abis itu mama akan samperin Yai lagi dan kita makan salad buah sama-sama.  Apa pun keputusan yang dia ambil, ujung-ujungnya bermuara ke berenti ngambek.  Dia milih untuk tetap ngambek selama 10 menit lagi dan seketika itu juga saya tinggal dia sendiri.

Nggak sampe 10 menit, saya lihat Yai udah lari-lari dengan teman-temannya yang ikut berenti main HP ketika saya ngelarang Yai main HP.  Dan saat dia melihat saya, dia cuma bilang “Sorry ya ma, tadi Yai ngambek. Boleh nggak Yai main aja dan nggak makan salad buah?”

So, balik ke quote di awal tulisan ini, nggak akan ada ibu yang nggak mencintai anaknya sepenuh hati.  Tapi yang jadi pertanyaan adalah: seberapa sungguh-sungguhkah para ibu mencintai anaknya dengan cara yang dimengerti oleh sang anak sehingga mereka mudah diberikan nilai-nilai positif, mudah dididik dan mudah dibentuk karakternya?  Seberapa sungguh-sungguhkah para ibu menjelmakan diri mereka menjadi ibu buat anak-anak mereka dengan melepaskan HP, gadget, pikiran pada hal lain selain anak, dan hal-hal lain yang nggak ada hubungannya dengan anak?  Bagi yang mengamini quote tersebut, coba di pikir lagi deh, because your kids need more than just love to connect with you!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s