Nuntut itu Emang Enak

DemandingMenuntut itu gampang.  Beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah postingan yang sepertinya jeritan hati banget dari seorang istri.  Suamiku… aku ingin pendapatku dihargai, Suamiku… aku ingin ucapanku di dengarkan, Suamiku… aku ingin keinginanku dikabulkan…, Suamiku… aku ingin bla…bla…bla

Duh, rasanya apa yang di posting tersebut kena banget.  Itulah kira-kira tuntutan saya terhadap suami, terutamanya saya kepingin pendapat saya dihargai, nggak perlu dituruti tapi nggak perlu juga di bantah karena punya pendapat itu kan hak semua orang.  Saya ingin ucapan saya di dengarkan, ketika saya ngomong harusnya saya yang jadi vocal point pandangan suami.  Dan… itu lho yang namanya HP tolong dijauhin dulu deh kalau sedang ngobrol sama saya.  Saya ingin semua keinginan saya dikabulkan.  Saya jarang sekali minta materi karena ngerasa bisa beli sendiri, pake duit sendiri jadi gengsi dong minta-minta.  Jadi sudah sepantasnya dong suami mengabulkan keinginan saya yang non materi.  Itulah TRITURI (tiga tuntutan istri) dari saya kepada suami yang kerap jadi sumber pertarungan argumentasi antara saya dengan suami.  Bayangin, 12 tahun lho kancah persilatan lidah saya dengan suami nggak selesai-selesai cuma karena tuntutan-tuntutan yang nggak dikabulkan.

Tapi itu dulu.  Sekarang bisa dibilang arena pertarungannya sepi, sunyi senyap.  Dulu saya bilang kalau mau orang lain berubah kita harus berubah duluan.  Tapi saya cuma sekedar ngomong, nggak dikerjain.  Dua bulan yang lalu saya putuskan untuk flexible dalam tindakan saya dan nggak nunggu suami berubah baru saya berubah.  Semua emosi negative terhadap suami saya selesaikan dulu dengan me-reframe mindset saya.  Contoh: suami itu keras kepala, nggak mau ngalah dan nggak peduli dengan saya karen kalo sayang ngomong jaran didengerin.  Setelah reframe: suami saya punya pendirian teguh, saking teguhnya pendirian dia ucapan saya yang nggak sesuai bisa mental jadi approach saya dalam berkomunikasi harus lebih efektif.  Dan setiap kali emosi negative muncul, saya berusaha untuk mundur, literally mundur selangkah atau dua langkah hanya untuk memutus ‘hubungan’ saya dengan kenyataan supaya bisa melihat kenyataan dari sudut pandang yang berbeda.  It worked dan inilah kisahnya.

Sebagai istri diplomat, tahun terakhir penempatan itu adalah tahun genjot tabungan dan tahun ngiket pinggang.  Dari awal tahun saya udah degdegan, kira-kira bagaimana kehidupan kami saat kembali ke Jakarta di akhir tahun nanti.  Yang paling jadi momok adalah soal keuangan dan pendidikan anak.  Alhamdulillah yang namanya rejeki nggak akan lari kemana-mana kalo kita berusaha dan berdoa.  Rejeki itu pun datang pada saya dan atas persetujuan suami, tawaran yang datang pun saya ambil maka saya pun harus kembali ke Jakarta bulan July ini.  Bertepatan dengan mulainya tahun ajaran baru.

Sebagai seorang ibu, tentu saja saya ingin anak-anak ikut pulang ke Jakarta bersama saya supaya bisa mulai sekolah di awal tahun ajaran.  Reaksi awal dari suami adalah tidak mengijinkan anak-anak untuk ikut dengan saya, dengan alasan dia tidak mau kesepian. Sweet… suami saya ternyata seorang ayah yang ingin selalu dekat dengan anak-anaknya – frame positif yang segera saya munculkan di otak saya.

Awalnya saya putuskan untuk menuruti keinginan suami, after all he is the imam in this family.  Sampai guru sekaligus sahabat saya, Mbak Okina bertanya pada saya ketika beliau datang ke Yangon: “Ngeliat progress loe dengan anak-anak, elu yakin mau ninggalin mereka disini?  Sayang, Git.  Mereka butuh kualitas dan kuantitas keberadaan dan kebersamaan dengan elu.  Coba nego lagi sama uda.  Kalo nggak boleh, mending nggak usah diambil tawarannya.  Rejeki itu udah diatur Allah, pasti ada aja deh pintu yang terbuka.”  Kalo yang ngomong Mbak Okina, udah deh… susah ngebantahnya, sama kayak ngomong sama nyokap.  Akhirnya saya putuskan untuk segera ngomong sama suami keesokan harinya, pagi-pagi bangun tidur karena ini adalah saat emosi dan pikiran kami masih fresh, belum terkontaminasi.

Dulu kalau saya ngomong bisa panjang lebar, tapi pagi itu saya ngerasa nggak punya waktu untuk ngomong panjang lebar.  “Da, you know… I appreciate you a lot for wanting to be close to the girls sampe Uda.  I think all fathers should be like that.  Apalagi kalau para bapak yang seperti Uda ini juga bisa ngerti circumstances surrounding their kids.  Gita jadi inget waktu SD dulu, pulang dari Cairo pas di tengah-tengah tahun ajaran, sampe Jakarta ngejar pelajaran kok rasanya susaaaahhh banget, sampe stress.  Kira-kira kalau anak-anak mulai di tengah tahun ajaran, bisa gak ya mereka ngikutin pelajaran tanpa stress seperti yang Gita alami?”  Jawaban suami, “Tanya dulu deh sama sekolahnya.  Kalo mereka bilang lebih baik di awal tahun ajaran, ya si Kakak aja yang pulang duluan.  Kan SMP lebih susah dibanding SD.”  Saya cukup puas dengan jawaban tersebut karena menurut saya ini adalah progress dan bukti bahwa perkataan saya dipikirkan oleh suami.  Untuk sementara saya gak mau mendesak suami.  Kebetulan pihak sekolah anak-anak juga mengatakan bahwa kepindahan Yai ke sekolah baru nanti nggak semudah kepindahan Aya dan secara administrasi Yai baru bisa pindah di tengah tahun ajaran.

Hari pun berganti minggu.  Yai yang udah pasang ancang-ancang bakal ditinggal Aya pulang ke Jakarta duluan mulai lebih sering gelendotan sama kakaknya.  Saya pun bertekad untuk bicara lagi dengan suami, maka hari Minggu yang lalu saya bicara dengannya karena kebetulan suami notice perubahan hubungan Aya dan Yai.  Ketika dia mengatakan, “anak-anak jadi lebih gampang diatur ya sekarang dan Yai jadi lebih sering ngikutin Aya.”  Ting…ting…ting… ini cue buat saya masukin belief baru ke suami.  “Wah… ternyata meskipun sibuk, Uda notice juga ya perubahan mereka.  Mereka lagi deket-deketnya, trus sebentar lagi si Aya pulang ke Jakarta.  Kasian deh Yai, dia bakal sendirian, gak ada tempat curhat lagi apalagi kalo Uda sibuk.”

Denger ucapan saya itu, suami pun diam dan beberapa saat kemudian dia bilang, “Iya ya, kalo gitu Yai pulang aja bareng Kakak deh.  Coba diusakan supaya dia bisa mulai sekolah di awal tahun ajaran.  Jangan gara-gara ego kita anak-anak jadi korban.”  Ahhh…. hati ini rasanya berbunga-bunga.  Tanpa harus ngomong panjang lebar, tanpa harus maksa, tanpa harus ngerasa menuntut, keinginan saya terkabul.

Pelajaran yang saya dapat dari pengalaman saya ini adalah, ketika kita mau berubah duluan, tidak termakan emosi negatif, acknowledge untuk membangun kedekatan, mau flexible dalam bertindak, menggunakan ketajaman indera dan tetap fokus pada tujuan somehow semesta mendukung tercapainya tujuan tersebut.  In the end, sah sah aja sih kalo punya tuntutan ini dan itu terhadap orang lain asal jangan cuma bisa nuntut doang tanpa memberlakukan tuntutan tersebut pada diri sendiri terlebih dahulu.  Bottom line: You want your demands met? Then don’t be a bitch.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s