Di Anchor Aja…

IMG-20160603-WA0029 (1)“Nggak mau, pokoknya Aya nggak mau main piano sendirian in front of a lot of people!” ucap Aya waktu saya menyampaikan pesan dari salah seorang gurunya yang meminta Aya main piano pada acara peresmian gedung sekolah yang baru.  Waktu itu hari Senin dan Aya diminta tampil hari Jumat.  Sebenarnya saya udah nebak reaksi dia bakal seperti ini karena Aya paling nggak suka melakukan sesuatu tanpa persiapan yang matang.  Tapi apa boleh buat, kalau Aya tidak tampil acara tersebut akan kekurangan hiburan dan saya nggak tega juga nolaknya.

Menerima penolakan dari Aya, reaksi pertama adalah minta maaf (kalo dulu, reaksinya bakal ngotot maksa dia untuk perform).  “Maaf ya Kak, harusnya mama nanya dulu sama kamu sebelum bilang iya ke Pak Joko.  Tapi Pak Joko tuh suka banget dengan permainan kamu, makanya beliau minta ijin mama.”  Dia langsung buang muka.  Nyebelin kan?  Emang sih, sepertinya nyebelin tapi saya tau dia sebenernya suka kalau saya minta maaf dan dapat pujian dari pak guru, cuma gengsi dong nunjukin perasaan hati setelah nolak permintaan saya.  Saya biarkan Aya beberapa saat sebelum kemudian bertanya apa kira-kira yang membuat dia nggak mau perform sendirian, apa pun bentuk performancenya.

“I don’t like people looking at me.  I will make a mistake because I haven’t practiced,” itulah alasannya.  Ya, Aya memang sulit sekali diminta untuk tampil solo dan tambah susah lagi kalo dia tidak punya cukup waktu (dalam definisi dia) untuk latihan.  Saya nggak kehabisan akal dong, karena saya melihat ada peluang ditengah-tengah limiting belief dia.

“I see… jadi kalau nggak latihan kamu takut bikin salah.  Sekarang baru hari Senin, kamu perform hari Jumat.  So you still have time right?”  Aya pun mengiyakan, tapi kemudian dia bilang gini, “Aya nggak mau diliatin kalo lagi perform, they can sit but I don’t want them to look or hear me play because they will judge me.”  Lha gimana, namanya juga perform in public ya pasti ada yang liat dan denger dia main lah.  Saya jadi geli sendiri, ngebayangin para penonton duduk dengan telinga disumbat ear plug dan mata tertutup.  But yet… imajinasi itu justru ngasih saya ide cemerlang.  Tapi sebelum ide tersebut saya tawarin ke Aya, saya merasa perlu mengetahui potensi dirinya karena dulu dia pernah story telling dalam Bahasa Myanmar tanpa kesulitan dan acara ngambek seperti ini.

Saya coba coaching Aya dengan melakukan sedikit metamodel.  “Darimana Aya tau kalo orang-orang yang nonton kamu itu ngejudge Aya?”

Dia pun terdiam sejenak.  “Ya menurut Aya aja soalnya Aya suka begitu kalo nonton orang perform,” katanya.

“Just because kamu begitu ke orang, apakah kamu bisa pastikan orang lain juga akan begitu ke kamu?” saya pun bertanya lagi.

“Ya nggak sih…, next time I saw someone perform I will never ever judge them,” lanjut Aya.  Ada raut penyesalan juga di mukanya, which is good.  Dia belajar untuk tidak nge-judge orang karena sekarang dia dihantui perasaan di judge sama orang dan perasaan itu nggak enak buat dia.

“What if you stop worrying about your own negative thoughts about others judging you, instead let’s work on your confidence to reduce your nervousness.  Kakak pernah kan perform in public without being nervous?  Waktu kamu menang lomba story telling Bahasa Myanmar itu, kamu confident banget kak.”  Saya berusaha ngajak Aya untuk berenti memunculkan pikiran-pikiran negatif dan memodel dirinya sendiri saat dulu bisa perform dengan penuh percaya diri.

“But it’s different, ma.  I prepared for it for weeks.  Ini cuma beberapa hari,” bantah Aya.

“Kalo gitu, ada nggak orang yang menurut kamu super confident, yang bisa perform dengan baik despite minimum preparation?” tanya saya yang memancing Aya untuk berpikir sejenak.

“Ada,” jawab Aya singkat.

Good, artinya dia punya role model untuk dia contoh.  Awalnya Aya menolak ketika saya meminta dia memilih satu gerakan yang akan dijadikan semacam “tombol” untuk memicu rasa percaya dirinya, tapi setelah saya jelasin, dia pun nurut.  Gerakan yang dia pilih adalah gerakan menginjak pedal piano.  Kemudian saya minta dia menghadirkan sosok yang dia jadikan role model sejelas-jelasnya.  Malam itu, melalui proses Circle of Excellence saya membantu Aya membuat ‘anchor’ percaya diri seperti yang dia inginkan.

Hari Jumat pun tiba.  Saat menunggu giliran dia perform, perasaan nervous Aya menyerang lagi.  Mulutnya mulai mengeluarkan kata-kata yang bikin dia tambah nervous dan bete.  Pokoknya ini terakhir kalinya Aya perform di sekolah ini.  Pokoknya nggak boleh di rekam.  Pokoknya nggak boleh di foto.  Pokoknya… pokoknya… dan Pokoknya dengerin dia ngomong tuh berpotensi darah tinggi deh.  Saya bilang sama Aya, “Ay, kemaren udah dibikin anchor coba diaktifin dulu anchornya sebelum your negative thoughts bikin kamu nervous breakdown.”  Tiba-tiba dia nyadar.  Kaki kanannya langsung bikin gerakan seperti nginjek pedal.  Dan ketika namanya dipanggil, dengan confident dia naik ke panggung memainkan lagu Fur Elise dengan lancar, nggak pake ngebut.  Malah ketika papanya ucluk-ucluk maju ke dekat panggung untuk ngambil beberapa foto, dia santai aja nggak ngegubris papanya yang asik moto-moto.

Aya performed really well.  Saya pun nanya sama dia, gimana tadi rasanya diatas panggung.  Jawabannya, “All I heard was me playing.  I didn’t see anyone, didn’t even feel that everyone was watching until I finished playing and heard them clapping.”

Anchoring worked.  Cuma dengan membayangkan, memvisualisasikan dan berpura-pura dengan amat sangat sungguh-sungguh tentang satu kondisi yang di inginkan, kita bisa menciptakan sebuah anchor yang berfungsi sebagai tombol (seperti tombol lampu) untuk memunculkan kembali kondisi tersebut ketika menginginkannya.  Amazing the power of pretence, imagination, visualisation and unconscious mind can be!  Anak pun bisa diajak untuk melakukannya.  Mau pede, di anchor ajah…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s