Ketika Efek Kritikan Seperti Pulang Nyalon Ketiup Angin

ArgumentMengakui kekurangan dan kesalahan itu tidak selalu mudah.  Pasalnya kita selalu punya justification yang kita anggap valid saat melakukan kesalahan kita tersebut.  Karena justification tersebut kita anggap valid, maka saat kritikan menerpa bak angin puting beliung, reaksi kita pun bagai orang yang baru pulang dari salon.  Rambut yang udah di blow kriwil-kriwil rusak total gara-gara angin kencang tadi, padahal bayar capsternya mahal dan effort nyalonnya udah luar biasa.  Yang kita tidak sadari adalah kondisi udara yang tidak selalu bisa di tebak.  But that’s life kadang ada angin, kadang tidak, kadang hujan, kadang panas terik luar biasa.  Dan kita hanya manusia, yang berencana tapi tidak pernah bisa mengontrol faktor diluar diri kita sendiri.

Lalu apa yang harus dilakukan saat kita menerima kritikan baik langsung mau pun tidak langsung?  Untungnya saya tipe orang yang bisa-bisa aja nelen kritikan tanpa harus mencak-mencak atau kejet-kejet kejang otak.  Saya menganggap kritikan orang lain itu berupa feedback bahwa ada hal yang harus saya perbaiki.  Saya selalu mencoba ngeliat konten dan konteks.  Ketika orang ngritik saya, ya saya anggap kritikan tersebut sebagai masukan.  Emang sih kadang saya kepikiran sampe suka sariawan gara-gara mikirin solusi untuk memperbaiki diri.  Nah sayangnya, ketika yang ngritik adalah suami sendiri saya kesulitan meletakkan makna positif terhadap kritikan suami.  Kalo suami yang ngritik, rasanya seperti kena tampol dan pengen nampol balik, yang untungnya saya nggak pernah lakukan karena badan suami saya jauh lebih gede dan nampol dia balik cuma nyari kerjaan extra aja.  Tapi sakitnya tuh disini kalo di kritik sama suami (sambil nunjuk dada, gigi dan kepala) .

Suami saya itu paling sering ngatain saya tukang mengeneralisir segala sesuatu.  Saya nggak ngerti maksudnya dan nggak pernah mau mengerti karena saya nggak ngerasa seperti itu.  Dan kalau udah dikritik seperti itu, saya bisa ngotot berdebat sama suami dengan pitch suara yang semakin tinggi sampe urat leher keluar semua.  Kalau tenggorokan belom gatel saya nggak berenti, ngotot sampe bego lah pokoknya.  Tapi itu dulu ya… sekarang udah nggak lagi.

Perdebatan sengit kami terakhir terjadi dua bulan yang lalu ketika kami menyortir baju-baju yang akan kami donasikan.  Topik perdebatan kami adalah: baju bekas yang udah gak layak pakai menurut saya (karena bagian dalam kerahnya udah mulai koyak) tidak patut di donasikan karen bagi saya itu sebuah penghinaan bagi yang menerima, sementara suami merasa baju tersebut masih layak pakai dan nggak ada tuh istilah ngasih baju bekas yang sedikit koyak sebagai suatu penghinaan.  Alih-alih mau ngumpulin baju untuk di donasikan, kami berdua malah saling ngotot.  Saya ngotot, suami pun lebih ngotot lagi dan saya pun ngebalas dengan lebih ngotot lagi dari suami plus mata mlotot.  Ujung-ujungnya saya dibilang tukang generalisir.  Maksud loe????

Biasanya kalo perdebatan berujung saling ngata-ngatain, saya akan diem.  Mute dengan mulut monyong sambil buang muka dan kibas rambut atau kerudung.  Tapi entah kenapa saat itu, terlepas memanasnya suhu hati karena ngotot-ngototan dan dikatain tukang generalisir sebelum akhirnya saya memutuskan untuk berhenti ngotot, hati saya yang panas cepet sekali mendingin.  Saya menutup perdebatan dengan: “you and I are entitled to our own opinion, let’s just agree to disagree.”  Dengan sedikit senyuman saya tinggalkan suami yang masih ngos-ngosan berdebat dengan saya.  Saat itu juga saya bisa menerima pendapat suami saya, simply karena setiap orang berhak punya pendapat.  Mungkin persepsi saya terhadap baju yang dianggap masih layak pakai berbeda dengan suami.  Mungkin bagi dia selama yang koyak itu di bagian yang tidak terlihat, baju tersebut masih layak pakai.  Which… bener juga.  Siapa sih yang merhatiin bagian dalam kerah baju?

Suami saya itu orang baik yang paling jarang minta maaf.  Mungkin gengsi.  Dia hanya akan bersikap manis sebagai bentuk penyesalannya.  Saya suka maksa dia minta maaf, dan ketika dia minta maaf saya marahin lagi karena minta maaf kok harus disuruh.  Pasti dalam hatinya dia bilang saya ini maunya apa sebenernya.  Kali itu, setelah seharian nggak ketemu karena kesibukan kami masing-masing, suami minta maaf duluan atas perdebatan sengit kami tadi dan label tukang generalisir yang dia sematkan pada saya.  “Ney, maafin uda ya tadi pagi ngotot nggak mau denger pendapat kamu dan ngatain kamu tukang generalisir.  Sebenernya yang kamu bilang itu ada benernya.”  Wuidihh… hati ini pengen teriak, “kemane aje loe???” tapi saya urungkan daripada dia narik permintaan maafnya yang langka seperti Harimau Sumatra.

Apa yang terjadi?  Saya nggak percaya dengan yang namanya win-win solution dalam sebuah perdebatan.  Yang ada adalah acceptance to compromise, admitting that there are two sides of a coin, bahwa segala sesuatu punya intensi positif.  Ketika kita sudah bisa melihat intensi positif dari sesuatu yang kita anggap salah, maka persepsi kita akan lebih luas dan kita akan lebih bisa menerima pendapat orang lain dengan lapang dada dan merespons perbedaan pendapat dengan lebih elegan.  Dengan mereframe saya bisa melihat intensi positif dari pendapat suami dan saya rasa suami juga melakukan hal yang sama.  Dan saat kami sama-sama bisa melihat intensi positif dari pendapat kami masing-masing, kami pun bisa mencari jalan keluar yang terbaik.  Baju-baju yang sedikit cacat tapi masih layak pakai akan langsung di donasikan, sementara baju-baju bekas layak pakai tanpa cacat akan kami jual di acara Garage Sale KBRI dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan pada bulan July nanti dimana uang yang berhasil dikumpulkan akan dibelikan sembako untuk dibagi-bagi pada pekerja/buruh di KBRI.  Fair kan?

 

Nah, terkait dengan permintaan maaf, we often take family members for granted.  Just because you treat them nicely after a big argument doesn’t mean they forget the emotionally draining experience of arguing or debating.  Jadi, nggak ada salahnya lho mengakui kesalahan untuk menyelesaikan emosi kawan bicara kita, apalagi kalau dia adalah anggota keluarga, anak, istri atau suami.  Admitting your mistakes or limitations doesn’t make you incapable.  In fact, admitting your mistakes or limitations will only make you more capable of looking at different alternatives to turn things around, to right any wrongs, to fix what’s broken.  So no matter how big or small your mistakes are, there’s no harm to admit your mistakes and say sorry.

My husband and I learned that stepping back, dissociating, reframing and apologising worked well to improve ourselves and our relationship.  Things never get better!

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Keren, Mbak… suamimu banyak kesamaan sama si Akang, suamiku. Hahaha… susah minta maaf. 😉

    1. gitadjambek says:

      Kirain cuma si uda doang yang begitu. Kita punya barang antik yang sama ternyata hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s