Tega(s)

Tega_revManusia diciptakan oleh Allah dengan sebaiknya-baiknya penciptaan dan setiap manusia yang diciptakan berpotensi baik.  Tugas orang tua adalah menjaga supaya potensi baik tersebut terjaga baik bahkan berkembang, meningkat sehingga anak menjadi bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.  Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesama?  Lalu bagaimana menjaga agar potensi baik anak tetap terjaga?  Tentunya di mulai dengan GOAL yang jelas.  Saya pun mulai berusaha mengajarkan anak membuat goal buat dirinya sendiri dan mengerti arti sebuah konsekwensi.  Masa-masa sebelum ulangan umum dan bulan Ramadhan adalah saat yang tepat, menurut saya, untuk mengajarkan konsep goal dan konsekwensi.

Sudah beberapa bulan ini, Yai ngincer kamera Fuji polaroid gara-gara dia liat sahabat saya, Erick memakai kamera tersebut di beberapa kesempatan.  Warnanya dan bentuk yang menarik apalagi foto yang bisa langsung jadi setelah dikipas-kipas bikin Yai ngiler ngacai-ngacai kepingin kamera seharga 120,000 kyat itu.  Buat saya harga tersebut mahal untuk dipakai sama anak umur 7 tahun dan Yai tahu saya keberatan untuk membelikannya kamera tersebut.  Maka dia berinisiatif ngumpulin uangnya sendiri untuk beli kamera idamannya, dan ini bukan kali pertama dia ngumpulin uang untuk beli barang yang dia inginkan cuma ini adalah barang termahal yang harus dia beli pake uang sendiri.  Sejak bulan April yang lalu, Yai memilih membawa makanan dari rumah dan menyimpan uang jajannya yang hanya 1000 kyat per hari untuk di tabung.  Dia pun makin semangat nabung dan ngumpulin uang (tentunya dengan minta uang recehan saya dan papanya untuk ditabung) setelah Tante Okina cerita kalau ada Fuji Polaroid yang gambarnya Hello Kitty.  Butuh waktu kurang lebih 4 bulan agar Yai bisa mengumpulkan uang 120,000 kyat untuk membeli kamera tersebut dan sayangnya (saya nggak mau bilang sial karena tidak ada istilah sial bagi saya) hari sekolah Yai banyak kepotong liburan.  Mulai dari libur Thingyan selama 10 hari sekolah di bulan April, liburan tanggal merah, dan libur sekolah.  Kebayang kan gimana frustrasinya dia setiap hari menghitung jumlah uang yang berhasil dia kumpulkan.

Seperti biasa, timbul rasa iba terhadap anak bontot saya yang determinasinya untuk mendapatkan barang yang dia inginkan selalu tinggi itu.  Dulu, pasti saya akan langsung beliin kamera itu untuk Yai, lalu mengatakan padanya ‘nih dek, mama udah berbaik hati beliin kamera yang kamu mau, artinya mama udah ngikutin apa yang Yai mau, jadi Yai juga harus ngikutin apa yang mama pengen Yai kerjakan’ dengan harapan anak itu akan ngikutin apa yang saya inginkan.  Apa yang terjadi?  Saya itu behalusinasi saja, berharap abis ngasih apa yang dia mau lalu anak itu akan dengan serta merta mengikuti apa yang saya mau.  Mungkin dalam hatinya dia bilang ‘katanya kalau memberi harus ikhlas… kok mama malah minta imbalan diturutin maunya sih?’  Ujung-ujungnya saya gagal mendapatkan apa yang saya inginkan dari Yai, gagal mengajarkan dia untuk lebih bertanggung jawab, gagal memberi contoh tentang keikhlasan, gagal ngajarin Yai arti sebuah konsekwensi, dan banyak gagal-gagal lainnya. Jadi sebelum gagal total, saya jadikan kegagalan-kegagalan tersebut sebagai feedback bahwa saya harus merubah strategi saya.

Nah…. suatu hari sebelum ulangan umum tiba, Yai menghitung uangnya yang masih berjumlah 24,000 kyat itu.  Dengan wajah memelas dia bilang, “ma, kapan sih uang Yai cukup untuk beli kamera.  Kok lama banget ngumpulinnya?”  Duh, tambah dibejeg-bejeg deh hati.  Mana mukanya memelas banget.  Tapi saya ingat bahwa saya ingin mengajarkan dia tentang pentingnya sebuah goal dan tentang arti sebuah konsekwensi.  Kesempatan nih, pikir saya.

“Yai masih pengen banget punya kamera yang seperti Om Erick ya?” tanya saya.  Yai hanya mengangguk.  Raut mukanya masih memelas, persis seperti si Puss di salah satu adegan film Puss in Boots.

“Ok, mama akan bantu Yai.  Sebentar lagi Yai akan exam.  Nilai Yai di semester lalu udah bagus.  Kalau nilainya bisa lebih bagus lagi, mama bantu Yai  nambahin kekurangan uang untuk beli kameranya.  Gimana?” lanjut saya.  Wajah Yai yang tadinya ketekuk, berubah seketika.

“Ok, Yai mau,” jawabnya secepat kilat.

“Good.  Jadi yang Yai mau seperti apa nilai Yai nanti?  Dan apa yang harus Yai lakukan?” tanya saya lagi.

“5 subject nilainya harus sekitar 80-an, ma.  Trus Yai harus belajar, 2 subjects sehari masing-masing 40 menit.  Tapi maunya ditemenin mama,” jawabnya, masih dengan semangat yang menggebu-gebu.

Lalu saya minta dia menuliskan goalnya tersebut di selembar kertas, saya ajak dia mendekorasi goalnya dengan pensil warna-warni supaya menarik dan di tempelnya di tembok kamar.  Step pertama mengajarkan bikin goal berhasil.  Saya pun membuatkan dia jadwal belajar – inilah kesalahan saya.  Kenapa?

Dalam perjalanannya, Yai terganggu dengan temptation main bersama teman-temannya meskipun sudah saya ingatkan dan giring untuk belajar.  Karena jadwal belajarnya yang bikin saya, ownership dia terhadap jadwal tersebut bisa dibilang rendah, tapi semangat ngumpulin duit untuk beli kamera tetap tinggi.  Singkat cerita, goal Yai tidak tercapai.

Mungkin dalam hatinya saya akan tetap membelikan dia kamera tersebut karena dulu saya modelnya begitu.  Tapi betapa kagetnya dia ketika saya katakan ke dia bahwa saya nggak akan beliin kameranya karena goalnya gak kesampaian.  Mukanya langsung ketekuk lagi, manyun, murung, memelas, campur aduk jadi satu di wajah dia setelah kita melakukan evaluasi kenapa goal tersebut gak tercapai.  Mungkin penyesalan yang bikin dia kesel seharian, ngambek gak jelas gitu.  Kalo saya gak kuat-kuat hati, udah saya seret dia ke toko kamera.  Tapi saya harus tega, karena mendidik anak tidak bisa mendadak.  Dan dengan tega ke dia, saya mengajarkan Yai tentang arti sebuah konsekwensi.  Tega bukan berarti saya jahat kan?

Saya pun berniat untuk memberikan Yai satu kesempatan lagi melihat betapa semangat ngumpulin uangnya masih belum luntur juga.  Kebetulan saat Ramadhan tiba, Yai juga bikin goal bulan Ramadhan yaitu puasa penuh selama 30 hari dan menyelesaikan Iqro 3.  Tahun lalu Yai sudah puasa 30 hari penuh, tapi soal ngaji dia masih malas dan saat goal itu dibuat dia baru masuk Iqro 2.  Saya pun menggunakan goal Ramadhannya sebagai umpan dengan tujuan supaya Yai rajin mengaji dan akan terbiasa mengaji, mengerti bahwa Allah itu maha pemurah makanya dia mendapatkan kesempatan kedua yang tidak boleh disia-siakan, belajar untuk konsisten dan kongruen, dan tentu saja belajar tentang konsekwensi sebuah tindakan.

“Dek, kamu masih kepingin kamera yang kayak Om Erick?” tanya saya.

Dengan kepala menunduk dia mengangguk.  Saya yakin dia masih malu karena goalnya yang pertama gak berhasil dicapainya.

“Mama liat Yai masih terus berusaha supaya goal Ramadhan Yai tercapai.  Yai puasanya belum ada yang batal dan tiap malam Yai ngaji Iqro.  Yai juga masih ngumpulin uang buat beli kameranya.  Jadi sekarang mama kasih kesempatan lagi buat Yai mencapai goal Yai, dan kalo goalnya tercapai mama bantu bayarin kameranya,” ujar saya.

Seneng dong dia dapat kesempatan itu.  Malam ini pun saya menemani dia mengaji.  Seperti kebiasaannya, dia nego jumlah halaman yang harus dibaca dari 4 halaman jadi 3 halaman.  Awalnya saya ikuti, tapi setelah selesai halaman ke-3 saya hitung jumlah halaman Iqro 3 yang tersisa yang berjumlah 23 halaman, di depan dia.  Lalu saya hitung sisa hari di bulan Ramadhan yang berjumlah 16 hari dengan suara kencang supaya kedengeran.  Setelah itu saya ajak dia untuk nego (ibunya gak mau kalah dong sama anaknya).

“Dek, kalau setiap hari Yai baca 3 halaman dalam 8 hari kamu bisa selesai Iqro 3.  Kalau Yai baca Iqronya 4 halaman dalam 6 hari kamu bisa selesai Iqro 3.  Yai pilih baca Iqro 3 halaman dan baru bisa beli kameranya setelah 8 hari, atau baca Iqro 4 halaman dan bisa beli kamera 2 hari lebih cepet?”

Yai pun mikir… enakan mana ya kira-kira?  Dengan kesadaran dan kegembiraan penuh, Yai pun memutuskan saat itu juga untuk nambahin baca Iqro satu halaman lagi supaya bisa selesai Iqro 3 dalam 6 hari, dan suntikan dananya turun lebih cepet.  Setelah sesi mengaji malam itu ditutup, saya tanya sama Yai apa yang membuat goal kali ini beda?  Dia bilang, “karena Yai pengen cepet-cepet dapet kamera, jadi Yai harus cepet selesai Iqro 3, dan supaya cepet selesai bacanya harus lebih banyak”.  Saya pun mendoakan agar apa yang dia inginkan tercapai dengan terus istiqomah dan ikhtiar, aamin.

Buat saya sendiri, pengalaman ini membuat saya sadar kalau tega dalam koridor yang benar itu mendidik anak untuk bisa konsisten dan kongruen.  Dengan mampu tega terhadap Yai, insyaallah saya udah menggiring dia ke arah yang positif dengan mengajaknya untuk membuat pilihannya sendiri dan bertanggung jawab pada pilihan tersebut serta konsekwensinya.  Saya yakin potensi baik Yai mulai terasah setelah belajar untuk membuat goal dan bertanggung jawab terhadap usaha pencapaiannya.  Kemampuan Yai melihat kesempatan dan mau flexible dalam bertindak dengan bersedia baca 4 halaman buat saya adalah bukti bahwa dia sudah mampu menggunakan akalnya dengan baik untuk anak seumur dia.  Insyaallah, kali ini Yai akan mampu konsisten dan kongruen.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s