Tamparan Gorilla Kecil

ReassuranceJumat yang lalu adalah hari ke-5 dan terakhir anak-anak mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS) di sekolah mereka yang baru.  Hari-hari sebelumnya mereka pulang dalam kondisi mental yang berbunga-bunga meskipun kondisi fisiknya sedikit layu karena kantuk melanda.  Berbunga-bunga karena mereka begitu menikmati kegiatan di sekolah, menikmati alam yang tersaji di depan mata mereka dan menikmati pertemanan dengan teman-teman baru – meskipun Aya bertemu kembali dengan Queena teman dekatnya yang sudah 5 tahun lamanya tidak berjumpa.

Namun hari itu ada yang berbeda dari Aya.  Dia masuk ke mobil dengan mulut cemberut, napas tersengal-sengal dan di dalam mobil diam-diam Aya menitikkan air mata.  Reaksi pertama saya adalah bertanya, “ada apa kak?” dan langsung dijawab, “nothing, I am okay, I am just overreacting.  I don’t want to talk about it now, I will tell you later.”  Titik.

Tapi kalimat singkat Aya justru tidak membuat saya berhenti bertanya dan berkomentar, padahal saya yakin dia gak akan cerita juga ke saya.  “This is not the first time kamu overreacting kan, Aya?  Setiap kamu overreacting, reaksi kamu selalu seperti ini dan kamu gak pernah mau bicarakan.  Did something happen at school?  Did your friend do something to you?  Kasih tau mama supaya kita bisa diskusiin jalan keluarnya.”  Ngotot… ngotot… dan ngotot.  Apa penyebab pastinya?  Nggak ngerti juga.  Mungkin kekhawatiran karena Aya masih dalam tahap awal penyesuaian diri di lingkungan baru, bisakah Aya dan Yai menyesuaikan diri?  Bisakah mereka mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan metode yang berbeda dari sekolahnya di Yangon?

“I said, I’m okay and I will tell you later,” ucap Aya, dengan nada sedikit tinggi.  Udah mulai gedeg sepertinya.

Dari kaca spion saya bisa melihat raut wajahnya yang masih shock, mulutnya masih cemberut dan napasnya masih sedikit tersengal-sengal.  Ketika rasa penasaran semakin memenuhi hati dan pikiran, disaat yang bersamaan, saya  mulai kesal ngeliat cemberutan Aya, apalagi saat saya tanya-tanya dia gak ngejawab atau ngejawab tapi dengan suara yang hampir seperti kentut jenis Silent but Deadly itu – gak ada suara tapi dampaknya minta ampun.

Anchor… mana anchor sabar dan tenang saya?!  Langsung saya pencet, seketika saya merasa ada air sejuk mengalir keluar dari dalam dada saya ke seluruh bagian tubuh.  Saya tarik napas dan memutuskan untuk tidak mendesak Aya lagi.

“Okay kak, kalo gitu kita ngobrolnya nanti malam dan kamu bisa kasih tau mama apa yang terjadi seperti kata kamu tadi ya,” ucap saya dan saya langsung mengalihkan fokus saya pada Yai yang super excited karena kita akan beli ransum untuk dibawa ke Yangon.

Malam harinya, seperti biasa saya dan Aya selalu punya sesi rumpi sebelum tidur.  Saya pun nagih janji Aya untuk menceritakan apa yang terjadi siang itu.

“I was scared.  I thought you left me at school all by myself.  I didn’t have my phone to call you.  I can’t remember your number to call you from the office.  My teachers didn’t see you.  Your car wasn’t at the car park.  You were no where to be seen.  That’s what caused my reaction ma.  Aya inget waktu mama sama papa ninggalin Aya di mobil untuk belanja sebentar, gara-gara Aya nggak bisa bangun tidur,” ucap Aya.

Bagai ketampar tangan gorilla, muka saya panas dan pipi kiri kanan pun senut-senut.  Astagah!  Ternyata kejadian 6 tahun yang lalu, kejadian yang bikin saya nyesel seumur hidup itu masih dia ingat.  Dan rupanya saya penyebab reaksi Aya siang tadi!  Saya memang katakan pada Aya saat ngedrop dia pagi-pagi bahwa saya akan menjemputnya di atas bukit di sebrang kali tempat kelas Yai berada.  Karena Yai keluar 20 menit lebih awal dan semua area duduk-duduk sudah penuh penjemput, saya putuskan untuk memindahkan mobil ke lembah bukit tempat kelas Aya berada.  Butuh waktu 15 menit untuk mindahin mobil dari atas ke bawah karena kami harus berputar dan saya perkirakan tepat pukul 1 siang, kami sudah sampai di parkiran area lembah bukit.  Rupanya Aya keluar sebelum pukul 1 siang dan dia pun sibuk mencari kami kemana-mana.  Ketika kami tidak ada itulah dia jadi panik.

Apa pembelajaran saya dari kejadian ini?  Pertama, ketika sesuatu yang buruk terjadi pada anak, kita lebih mudah mengatribusikan penyebabnya pada pihak lain karena emang lebih gampang nyalahin orang lain atau pihak lain.  Padahal sering kali penyebabnya adalah kita sendiri.  Kata mantan boss saya: we often forget that when one finger points to others, three fingers point at ourselves.  Pantesan ya, pembully paling jago ngebully itu ya orang tua sendiri dan kadang kita nggak menyadarinya.

Kedua, tiap anak punya reaksi berbeda terhadap hal-hal yang tidak dia inginkan.  Bahkan seorang anak pun bisa punya reaksi berbeda tiap saat.  Reaksi anak saat itu merupakan reaksi yang dianggapnya tepat untuk kondisi saat itu.  Mungkin di lain waktu, reaksinya akan berbeda seiring pengalaman yang mereka miliki.  Saat Aya masih berumur 2 tahun, dia pernah ngilang di supermarket.  Tapi reaksi dia saat nyadar kalo saya gak ada di dekatnya santai aja, malah ketika saya menjemputnya di tempat satpam dia lagi asyik ngobrol dengan satpam supermarketnya (kami tinggal di Kiev, Ukraina – saya bingung dia ngobrol pake bahasa apa waktu itu).  Segala sesuatu dilihat bagai sebuah permainan oleh Aya.  Sekarang, seiring dengan perkembangan waktu, pengalaman dan pengetahuannya, reaksi Aya jauh berbeda ketika dia tidak menemukan saya dimana-mana.

Ketiga, menyelesaikan emosi anak ternyata tidak bisa selalu dengan cara yang sama. Kadang diajak ngobrol akan menyelesaikan atau menetralkan emosi Aya.  Kali ini justru diajak ngobrol dan ditanya-tanya malah bikin dia bete.  Saya jadi inget apa yang dikatakan seseorang pada saya beberapa tahun yang lalu: our natural reaction when we are pushed is to push back, the more you push the more she/he pushes you back or away.  Inilah yang terjadi diantara saya dan Aya.  Saya nge-push, dia nge-push balik.  Saya harus lebih percaya pada indera saya yang udah berbaik hati ngasih alarm, tapi justru gak digubris.

Keempat, supaya next time Aya gak panik lagi, kita sepakat untuk punya meeting point yang jelas dengan kurun waktu yang jelas juga dan apa yang harus dilakukan jika dalam kurun waktu tersebut saya atau siapa pun yang ngejemput belum dateng juga.  Briefing menjadi penting.

Rumpian kami malam itu pun di tutup dengan permintaan maaf dan reassurance pada Aya: Kak, maafin mama karena pernah ninggalin Aya di mobil 6 tahun lalu and as long as I live, I will never leave you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s