Gigi itu pun akhirnya harus dicabut…

ForgiveBulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah.  Pasalnya, di bulan yang mulia ini pintu maaf terbuka lebar selebar-lebarnya.  Entah karena kebiasaan atau karena memang itulah ciri khas bulan Ramadhan.  Penantian untuk bisa rekonsiliasi dengan orang-orang tercinta seolah-olah datang bertubi-tubi.  Hati yang dulunya membatu dan sulit sekali terkikis tetesan kata maaf mendadak bagai es serut kena sirup manis, melembut dan menyerap rasa manisnya.  Hati yang tadinya begitu keras karena gengsi atau pun rasa takut akan penolakan mendadak lunak karena dorongan kesadaran akan arti merendah diri.  Seperti itulah yang dialami banyak insan manusia di muka bumi, tak terkecuali sebuah keluarga kecil yang tinggal di sebrang lautan sana, disebuah negri antah berantah.  Keluarga kecil saya.

Saya tidak bermaksud menceritakan aib keluarga, tapi apa yang saya alami mungkin bisa jadi pelajaran untuk keluarga lainnya yang mengalami hal serupa.  3 tahun lebih kami meninggalkan keluarga tercinta.  Kepindahan yang dinanti sekian lama, namun bukan kepindahan yang diantar dengan hati lapang dan lambaian tangan.  Kepindahan itu meninggalkan asa diantara dua orang yang sangat saya cintai, suami dan papa.  Konflik antara papa dan suami bagai bronchitis kronis yang mengganggu kehidupan keluarga kecil kami.  Kebayang kan seperti apa penyakit yang satu itu?  Entah ego keduanya yang sama-sama sebesar buah semangka yang membutakan mata mereka untuk bisa menghargai perbedaan, atau perbedaan cara pandang tentang hubungan menantu dengan mertua, atau keangkuhan diri yang mendorong keluarnya tindakan dan kata-kata yang kurang patut, atau justru karena rasa sayang yang sama besarnya terhadap saya dan anak-anak yang menyebabkan timbulnya konflik diantara keduanya… entahlah.  Yang jelas papa begitu tersinggung pada perlakuan suami sementara suami pun sempat kekeuh pada prasangkanya terhadap beliau.  Ucapan papa pada saya, “sampai kapan pun papa akan tetap menerima kamu sebagai anak, tapi jangan harap papa akan bisa nerima suami kamu,” melepas keberangkatan saya.  Maka saya pun pergi dengan hati pecah berantakan, menyusul suami dan anak-anak yang sudah terlebih dahulu pindah.

Sebenarnya kepindahan saya adalah sebuah ‘blessing in disguise’.  Blessing karena setidaknya keluarga kecil kami, atau tepatnya saya dan suami bisa mengasingkan diri, melarikan diri dari masalah untuk sementara waktu, dan memulai kehidupan baru di lingkungan baru, kehidupan yang menyembunyikan hati yang pecah berantakan tadi.  Tapi apakah kemudian kehidupan kami aman-aman saja?  Tenang, seolah-olah tidak ada masalah yang menggelayut di hati?  Mau diabaikan pun, hati saya tetap tidak merasa lega karena saya terperangkap diantara suami dan papa.  Saya menjadi orang yang tidak mempunyai ketenangan hati, begitu juga suami.  Apa pun yang kami lakukan, berdoa, sembahyang, dan berdoa lagi, hati kami tetap tidak tenang.  Saya menyadari bahwa doa tanpa usaha akan sia-sia.  Hanya saja, saya terlalu gengsi berusaha karena menurut saya yang bermasalah adalah suami dengan papa, jadi suamilah yang harus memulai usaha itu terlebih dahulu.  Paling banter usaha yang saya lakukan adalah membuka jalan agar suami bisa bertemu papa.  Maka setiap kali suami pergi ke Jakarta, saya selalu menitipkan oleh-oleh untuk beliau dan setiap kali ada titipan dari saya, suami selalu mengantar titipan itu ke rumah orang tua saya tanpa pernah bisa menemui papa karena berbagai macam alasan.  Saya yakin suami mau menemui beliau tapi rasa takut akan penolakan masih lebih besar daripada keberaniannya menemui papa.

Saya tidak pernah mau menggubris perasaannya, permintaannya untuk menemui papa berdua dengan saya.  Pengecut, ini masalahmu dengan papa bukan masalah saya, begitulah tanggapan saya.  Dan setiap kali saya pulang ke Jakarta saya pun akhirnya tidak pernah berusaha untuk membahas permasalahan ini.  Saya hanya berusaha menelan apa pun ucapan bernada miring tentang suami saya tanpa ada usaha untuk membela.

Waktu pun berlalu begitu cepat, namun ketenangan hati tidak pernah di dapat.  Rasanya seperti ada sisa makanan yang nyangkut di sela-sela gigi dan menolak untuk keluar dari sela gigi yang memang posisinya selalu bikin makanan nyangkut.  Seharusnya dengan bantuan tusuk gigi, dental floss dan gosok gigi berkali-kali sisa makanan tersebut bisa keluar.  Apa daya, meskipun semua itu sudah saya lakukan tetap aja sisa makananannya masih nyangkut.  Hanya satu hal yang belum saya lakukan, nyabut giginya!  Ya, yang belum saya lakukan adalah mencabut rasa gengsi saya dan menunjukkan pada suami bahwa apa pun yang akan terjadi ketika dia menemui papa, saya akan tetap berada disampingnya dan menunjukkan pada papa bahwa seburuk-buruknya suami dimata beliau, dia adalah suami saya, ayah dari cucu-cucu beliau dan saya akan tetap berada disampingnya tanpa merubah sikap saya pada papa karena papa adalah orangtua saya yang tidak bisa diganti siapa-siapa.

Kesadaran untuk berubah ini muncul setelah saya di metamodel oleh guru saya beberapa bulan yang lalu. Untuk meyakinkan diri saya lagi, saya pun melakukan perceptual position dan mengijinkan diri saya untuk bisa berasosiasi dengan diri suami dan papa.  Saya menyadari apa yang papa inginkan dari suami, penghargaan dan perlakuan layaknya orang tua sendiri mengingat beliau tidak punya anak laki-laki.  Yang beliau inginkan adalah kedekatan untuk punya teman ngobrol sesama lelaki.  Sementara itu rasa takut suami akibat pengalaman masa lalunya menyebabkan dia begitu protektif terhadap kami, istri dan anak-anaknya.  Semua menjadi begitu jelas dan keberanian untuk membuang gengsi dan kekerasan hati saya pun semakin besar setelah proses forgiveness yang saya lakukan beberapa saat yang lalu.  Bukankah dalam mencapai tujuan yang mulia, fleksibilitas dalam bertindak itu diperlukan?

Akhirnya kesempatan untuk memperbaiki hubungan yang rusak itu pun datang bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan.  Keinginan suami untuk berlebaran bersama keluarga saya tolak karena saya tidak ingin momen Hari Raya diwarnai perselisihan yang belum terselesaikan, tapi saya menyambut keinginannya untuk menemui papa sebelum Idul Fitri tiba.  Saya bersedia untuk lebih fleksibel dan berusaha mempersatukan mereka berdua agar keduanya bisa bertatap muka, menyelesaikan perselisihan diantara mereka, menemani suami untuk meminta maaf pada papa dan menemani papa untuk bisa menerima suami ke dalam keluarga kecil kami kembali, tentunya dengan bantuan mama.  Tepat sebulan setelah proses forgiveness saya lakukan, pertemuan keduanya pun terjadi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun lamanya.

Ada beberapa kejutan yang terjadi saat itu.  Papa yang biasanya begitu keras mampu menerima ‘briefing’ dari saya dengan santai.

“Pa, nanti sore uda akan menemui papa. Uni mohon papa bisa menerima uda dengan baik, seperti papa nerima uni dan anak-anak setiap kali kita pulang ke Jakarta,” pinta saya pada beliau yang ditanggapi dengan, “emangnya saya akan marah-marah sama dia?”

Saya pun tertawa kecil sambil berkata, “Papa itu orang paling baik sedunia, tapi papa juga adalah orang paling galak yang pernah uni temui.”

Demikian juga dengan suami yang ego dan gengsinya sudah turun berderajat-derajat.

“Da, saat ketemu papa nanti posisikanlah beliau sebagai papanya uda sendiri ya.  Ajak beliau ngobrol dan minta maaflah pada beliau,”pesan saya pada suami yang diikuti anggukan.

Saya juga tidak menyangka kalau papa memilih untuk ngobrol dengan suami di kamarnya.  Percakapan mereka pun tidak seperti orang yang berselisih paham sekian tahun lamanya.  “Kamu kok gendut banget, Ai?” menjadi kalimat pembuka yang diucapkan oleh papa, yang mencairkan suasana sore itu.  Setelahnya cerita demi cerita dan rencana demi rencana mengalir begitu saja diantara keduanya.

Sekarang, sekembalinya saya ke Yangon rasa syukur itu belum hilang dan tidak akan pernah hilang.  Sebentar lagi kami akan kembali ke Indonesia karena tugas kami di Negeri Seribu Pagoda ini juga sudah sampai diujungnya.  Kalau saat berangkat dulu kami tidak diantar, semoga saat kami pulang nanti kami memang dinanti.

Pelajaran yang saya dapatkan dari pengalaman ini adalah bahwa gengsi, rasa takut, pikiran-pikiran buruk, dan kemalasan untuk fleksibel dalam bertindak tidak membawa perubahan dan menyelesaikan permasalahan.  Tapi ketika gengsi dan pikiran buruk itu dibuang, dan dibumbui dengan fleksibilitas dalam tindakan kita, keinginan kita pun lebih mudah dicapainya.  Buat saya sendiri akhirnya sisa makanan yang tadi nyangkut di gigi sekarang sudah berhasil dibuang karena saya memutuskan untuk mencabut dan membuang giginya sekaligus.  Dan semoga pengalaman saya juga bisa jadi pelajaran bagi siapa pun yang membaca tulisan saya.  Insyaallah…

 

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Rosie says:

    Sukaaaaa unnnn! 💛💛💛💛💛👏

    1. gitadjambek says:

      Trimakasih Osie….. kiss..kiss..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s