Galau Jangan Dipelihara, Karena Galau Bukan Kucing

CatHidup nomaden, alias berpindah-pindah itu bukan hal baru buat saya.  Dulu saya berpindah-pindah karena mengikuti orang tua, dan sekarang saya berpindah-pindah karena mengikuti suami yang profesinya sama dengan ayah saya.  Dulu ketika mengisi kartu imigrasi, pada kolom occupation saya isi dengan kata student, sekarang di kolom tersebut saya tulis kata housewife.  Dan memang tiga tahun belakangan profesi saya lebih banyak sebagai seorang housewife selain dua profesi lain yang membuat dunia saya jadi lebih berwarna karena dalam satu hari saya harus memerankan 2-3 buah peran berbeda.

Perubahan pun bukanlah hal asing buat saya, SEHARUSNYA.  Namun demikian, kepulangan ke Indonesia karena tugas suami hampir selesai bukan tidak membuat saya jiper terhadap perubahan sebab kehidupan keluarga kami tiga tahun belakangan patut disyukuri karena nyaris tanpa beban ekonomi yang konon dan kerap menjadi penyebab pertengkaran di dalam rumahtangga.  Sedangkan pulang ke Indonesia sama artinya dengan berangkat menuju hardship post alias penempatan penuh beban.  Kami akan kembali kepada kenyataan hidup dengan gaji Rupiah.  Alhamdulillah, Allah sayang sama keluarga kecil saya karena sebuah perusahaan pun sudah membuka pintunya buat saya dan menerima syarat yang saya ajukan, yaitu mengijinkan saya untuk bulak-balik Jakarta – Yangon sampe suami benar-benar selesai tugasnya disana. Artinya saya masih laku lah di pasar Indonesia.

Mendapatkan sebuah pekerjaan yang sudah pasti akan sangat membantu perekonomian keluarga kami saat di Jakarta nanti ternyata membuat saya nervous juga.  Bagaimana nggak nervous, tiga tahun sudah saya meninggalkan profesi saya.  Banyak ketertinggalan yang harus saya kejar.  Belum lagi kabar burung tentang stakeholder saya yang unik-unik, yang membuat saya takut apabila saya versi belum upgrade kumat lagi.  Saya pun tambah nervous lagi atau tepatnya shock ketika mengetahui bahwa calon atasan saya nanti akan pindah ke perusahaan lain.  Excitement yang beberapa bulan lalu saya rasakan pelan-pelan berubah jadi perasaan galau nano nano, eclectic alias campur aduk antara excited, takut, grogi, parno, dan ilang pede, terlebih dua minggu sebelum kepulangan saya ke Jakarta.  Berbagai gambar-gambar aneh yang bikin saya tambah mules bermunculan di otak.  Badan ini pun rasanya berat ketiban berton-ton karung beras.

Dulu, saat hati ini galau, tempat tidur dan mall jadi tempat andalan, maka tidur dan tawaf di mall pun jadi kegiatan pengusir galau.  Sayangnya setelah bangun tidur atau pulang dari mall, galaunya balik lagi.  Jadi ya saya tidur lagi, bangun tidur ke mall lagi dan di mall menenangkan diri dengan belanja (yang nggak dibutuhin).  Sampe rumah nyadar kalau yang hilang adalah duitnya, tapi galaunya tetap aja ada.  Artinya, emosi saya nggak selesai padahal untuk bisa maju ke tahap berikutnya (apa pun tahap tersebut) emosi itu harus selesai dulu.

Sekarang saya memilih untuk menyelesaikan emosi saya.  Saya pun mencoba mengingat kekhawatiran saya di awal tahun 2016 ketika menyadari bahwa keberadaan kami di Yangon tinggal satu tahun lagi.  Kekhawatiran tersebut mendorong saya membuat sebuah goal: Saya senang jika saya mempunyai penghasilan bla bla bla Rupiah per bulan saat di Jakarta nanti agar saya bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah yang mereka setujui, menyisihkan bla bla Rupiah untuk pengembangan sekolah di kampung, dan mengajak keluarga berlibur minimal setahun sekali.  Singkat cerita, belum berakhir masa tugas suami goal untuk punya penghasilan bla bla bla Rupiah per bulan itu udah di tangan, saya pun bisa menyekolahkan anak-anak di sekolah yang mereka setujui, insyaallah saya bisa menyisihkan bla bla bla Rupiah untuk pengembangan sekolah di kampung dan saat libur sekolah bisa mengajak keluarga berlibur seperti yang sudah-sudah.  Lantas kenapa saya gregori nggak jelas?

“Kudunya elu tuh bersyukur, Git!”

Self talk saya seperti memberi saya tamparan keras.  Saya buru-buru disociate, keluar dari diri saya yang lagi terjerembab dalam rasa galau nano-nano tadi.  Saya menertawakan diri saya saat itu juga karena kok belum apa-apa udah galau duluan.  Saya jadi ingat ucapan mama saat saya menolak untuk kuliah dengan berbagai alasan antara lain, “Uni takut fail karena kata orang Psyhcology itu susah.”  Dengan tatapan tajam beliau bilang, “Mama nggak pernah ngajarin anak mama untuk jadi pengecut.  Belum perang kok udah ngibarin bendera putih duluan!”  Dan ucapan beliau itu masih valid sampe sekarang.  Untuk apa saya memupuk perasaan galau nano-nano tadi yang bukannya bikin saya semangat malah bikin saya semaput?

“Gita… ini kesempatan belajar lagi buat elu.  Kesempatan juga untuk mraktekin ilmu yang udah elu pelajarin setahun belakangan ini!”

Ah… self talk saya berbaik hati mereframe gambar-gambar menyeramkan yang saya bikin sendiri di otak saya.  Sambil terus mengulang ucapan self talk saya, kedua tangan saya mengambil gambar-gambar menakutkan itu satu per satu dari kepala saya sampai habis dan membuangnya keluar jendela biar hilang diguyur hujan atau terbang ketiup angin.  Hush… hush… pergi kamu jauh-jauh!  Perasaan pun jadi lebih tenang dan saat sudah tenang itulah saya install belief baru kalau saya ini mampu menghadapi tantangan apa pun dan everything is going to be okay dengan melakukan Mapping Across sambil mandi.  Kok sambil mandi?  Siraman air hangat dan suara air yang ngucur dari shower membantu saya untuk lebih rileks dan fokus, sehingga ketika menginstall belief baru masuknya juga lebih jleb.  Selesai mandi, saya langsung pesan tiket pesawat ke Jogja.  Lha apa hubungannya?  Saya merasa masih butuh suntikan ilmu yang pernah saya pelajari beberapa bulan lalu supaya lebih mantap dan suntikan ilmu tersebut akan berada di Jogja akhir bulan July ini.  Daripada saya memelihara galau nano-nano lebih baik saya melihara ilmu yang bermanfaat buat saya dan orang lain kan? Itulah reframe tahap 2 yang saya lakukan beberapa minggu yang lalu.

Sekarang udah seminggu saya punya profesi baru.  Setiap pagi dan usai sholat fardhu, belief yang sudah saya install saya kuatkan dengan afirmasi berkali-kali sampe saya puas.  Meskipun ada lagi berita mengagetkan yang saya terima di kantor baru saya ini dan masih terlalu dini untuk me-rating keberhasilan saya, tapi setidak-tidaknya saya bisa mengatakan bahwa saya mulai merasakan excitement yang dulu pernah saya rasakan saat tawaran pekerjaan ini saya terima karena saya melihat pekerjaan ini sebagai tantangan dan kesempatan.  Dan segala sesuatu yang di mulai pasti akan ada kelanjutannya, artinya excitement yang mulai muncul ini pun akan semakin bertambah kadarnya dan menjalar keseluruh tubuh saya.

Perubahan jangan dimusuhi tapi disyukuri dan dinikmati.  Reframe, install belief baru, afirmasi dan nikmati hidup.  Jangan pelihara galau, takut, parno, grogi, nervous dan perasaan-perasaan yang bikin perut mules itu karena perasaan-perasaan tersebut bukan binatang peliharaan.  Ganti mereka dengan kucing, ikan atau binatang peliharaan lainnya supaya hidup dengan segala drama di dalamnya bisa lebih enak untuk dinikmati bersama keluarga dan seekor (atau beberapa ekor) binatang peliharaan ketimbang sebuah kegalauan, atau ketakutan, keparnoan, kegrogian, dll.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s