Andai Saya Jadi Aya dan Yai…

TiptoesKemarin saya diajak oleh sahabat saya, Mbak Dini untuk nonton film berjudul The Beginning of Life bersama cikgu kami, Mbak Okina.  Biasanya kalau weekend waktu saya akan habis dengan anak-anak dan suami, tapi berhubung saya sedang jomblo parsial ajakan Mbak Dini saya sambut dengan suka cita.  Film tersebut adalah film dokumenter yang mendobrak mitos dan membuktikan hasil riset bahwa anak bukanlah kertas kosong.  Dari mulai pakar ilmu tumbuh kembang sampe anak-anak di interview dalam film tersebut.  Saya cukup terkesan dengan konten film tersebut dan semakin meyakini bahwa anak memang bukan kertas kosong.  Mereka lahir dengan  resources yang diberikan oleh Sang Pencipta, oleh karenanya mereka mampu menjelma menjadi peniru ulung dan explorer yang mempunyai endurance dan tingkat persistence yang tinggi di usia sangat muda.  Justru kita sebagai orang tua suka lupa dan kerap menganggap anak-anak itu adalah makhluk lemah.  Rasa cemas dan khawatir ini yang membuat kita parno, sehingga saat anak bereksperimen dengan manjat-manjat, kita melarang mereka instead of mengajari mereka cara memanjat yang benar.  Ketika mereka getok-getok panci atau piring dengan sendok, kita meminta mereka untuk berhenti membuat keributan instead of ikut menciptakan berbagai jenis suara dengan mereka.  Ketika mereka tidak berhenti menangis karena minta diajak bermain, kita memberi mereka HP atau tablet supaya mereka diam, memainkan games yang mengatasnamakan edukasi.  Saya mendadak kangen anak-anak yang untuk sementara masih berada di Yangon.

Tapi bukan itu yang saya mau ulas dalam tulisan saya kali ini meskipun masih ada kaitannya dengan salah satu adegan dalam film tersebut.  Adegan tersebut menunjukan seorang anak remaja di salah satu negara barat sono yang sudah mempunyai bayi di usianya yang ke 16.  Si remaja mengatakan bahwa ketika dia tahu dirinya tekdung alias hamil, dia sempat berpikir untuk bunuh diri.  Apa yang membuatnya mengurungkan niat bunuh dirinya?  Orang tua.  Ya, orang tua yang dia kira akan menghujat dan mengusirnya dari rumah ternyata justru menerima kenyataan bahwa putri mereka hamil dan memberikan dukungan moral padanya selama kehamilan dan sampai setelah melahirkan, meskipun mereka tidak membenarkan kehamilan sang anak.  Kalo nggak salah si remaja tersebut itu bilang, “I am lucky to have a set of parents like my parents.”  Intinya, remaja tersebut merasa dukungan dari orang tua sangat membantu dia melalui masa-masa sulit hamil di usia remaja.

Saya jadi teringat mendiang sahabat kecil saya.  Mendiang karena sekarang dia sudah lama tiada.  Sebut saja namanya Emily.  Kami bersahabat sejak SMP.  Orangtua saya sudah seperti orangtuanya.  Dia sering menghabiskan waktu di rumah saya dan begitu juga saya di rumahnya, terutama saat kami duduk di kelas 3 SMP.  Saat SMA saya mengikuti orang tua pindah ke Sydney namun setiap pulang ke Jakarta, Emily selalu meluangkan waktu bersama saya.  Saat kami pulang kampung ke Bukittinggi pun dia ikut serta, bahkan fotonya bersama kami ada di album keluarga.  Segitu deketnya kami, saya pun jadi orang pertama yang tahu kalau dia hamil ketika dia duduk di semester pertama.

Hamil??  Jaman dulu, 20 tahun yang lalu kayaknya denger anak kuliahan hamil diluar nikah adalah sesuatu yang sulit di cerna buat ukuran Indonesia.  Tapi saya sudah biasa ngeliat beberapa temen SMA saya hamil karena di Australi sepertinya ini sudah jadi hal yang biasa.  Maka reaksi spontan saya saat itu adalah, “kalian gak pake kondom?”  Emily menggelengkan kepala.  Rasanya tangan ini pengen noyor kepalanya.  Bodoh amat sih loe, kalo nggak bisa nahan libido setidaknya loe bisa mencegah diri loe untuk hamil.  Itu kata-kata yang ada di benak saya saat itu.  Kepingin rasanya saya hajar pacar Emily yang kebetulan tetangga saya.  Ganteng-ganteng tapi bedebah!

“Loe udah ngasih tau nyokap bokap loe?”  Emily menundukkan kepalanya, diam dan tak lama tangisnya pun pecah.  Pilu rasanya mendengar isakan tangis dia saat itu yang masih terngiang-ngiang di telinga saya sampai tulisan ini saya buat.  Terasa sekali kebingungan, ketakutan dan keputusasaan Emily terhadap petaka yang dihadapinya.  Saya peluk badan kecilnya dengan perut yang mulai membuncit itu.  Saya tahu seperti apa orangtua, terutama ayah Emily.  Saya dapat membayangkan bencana dan petaka seperti apa yang akan dia hadapi nanti, ketika orangtuanya tahu bahwa anak mereka sedang hamil 4 bulan.  Saya tahu seperti apa rupa Emily nanti setelah dia memberitahu orangtuanya.  Saya perkencang pelukan saya padanya.  Guncangan badan Emily karena isak tangisnya membuat saya merasa tak berdaya.  Saya hanya anak yang baru lulus SMA, yang belum mengerti tentang kehidupan.  Yang saya tahu dan yakini adalah sahabat saya itu butuh moral support.  Bukan moral support yang membenarkan perilaku tak bertanggungjawabnya, tapi moral support bagi dirinya untuk melalui kesulitan yang dia hadapi.  Hanya pelukan yang bisa saya berikan.

“Apa yang akan loe lakukan?” tanya saya pada Emily dan seperti dugaan saya, dia memilih untuk mengugurkan kandungannya sebelum orangtuanya tahu kondisinya.  Tapi bagaimana caranya?  Untuk mengugurkan kandungan Emily butuh uang sebesar 2 juta kalau tidak salah.  Darimana uang sebesar itu bisa dia dapatkan?  Saya pun tidak mau meminjamkannya uang, bukan hanya karena saya tidak punya uang sebesar itu tapi karena saya tidak setuju dengan aborsi.  Maka tidak ada cara lain selain memberitahu orangtuanya.  Saya katakan pada Emily kalau pintu rumah kami terbuka lebar untuk Emily jika hal-hal yang kami takutkan menimpanya.

Emily pun akhirnya menggugurkan kandungannya di penghujung masa liburan saya karena saya pun harus segera kembali ke Negeri Kangguru.  Saya menyesalkan keputusan Emily dan orangtuanya, tapi saya lebih menyesalkan kondisi fisik dan psikis Emily saat dan setelah tindakan aborsi itu dilakukan.  Kalau mengingat pemandangan yang saya lihat di depan mata saya waktu dia datang ke rumah saya sebelum saya berangkat ke airport, ingin rasanya saya peluk sahabat saya itu, membawanya pergi bersama saya.  Kami pun berpisah dan pertemuan-pertemuan kami setelah itu seperti mobil yang meluncur turun dari bukit bagi kehidupan Emily sampai suatu hari setelah saya lulus dan bekerja di sebuah bank swasta, Emily meminta saya menemaninya ke rumah pacarnya yang begitu dia sanjung-sanjung.  Saya tahu kehidupan Emily berantakan, dan saya begitu yakin kalau itu bukan yang dia inginkan karena saya tahu seperti apa sahabat saya ini.  Dia cuma tidak tahu harus berbuat apa karena dia tidak punya tempat mengadu tanpa embel-embel hujatan bahkan tamparan.  Saya berharap Emily menemukan pacar yang bisa melindungi dan menjadi panutannya, meskipun hati kecil saya tidak begitu yakin.

Bukan main kagetnya saya melihat kondisi rumah pacarnya yang, meskipun berada di perumahan mentereng di daerah Jakarta Selatan, tapi isinya sama sekali jauh dari kata mentereng!  Rumah tersebut lebih tepat disebut sarang tikus!  Ketidakyakinan saya terhadap pilihan pacarnya terbukti sudah.  Ketika Emily menemukan tempat yang nyaman untuk mengadu dan ‘bernaung’, pacar barunya yang sontoloyo itu, malah justru menjerumuskannya lebih dalam lagi ke dalam kesenangan semu dan sesaat, serta kehidupan tanpa ujung yang jelas.  Emily pun saya kasih ultimatum, pilih pacarnya atau pilih saya, sahabatnya.  Emily memilih pacarnya, saya pun kecewa dan meninggalkan Emily beserta kehidupannya yang tidak pernah bisa saya mengerti dimana letak nikmatnya.  Itulah salah satu penyesalan saya!  Maka ketika si remaja di film The Beginning of Life dan ibunya serta beberapa pakar menjelaskan betapa support system itu sangat penting bagi anak, berapa pun umurnya dan dalam kondisi apa pun, air mata yang dari tadi sudah gak sabar pengen keluar akhirnya tumpah pelan-pelan di pipi.  Saya teringat pertemuan terakhir kali saya dengan Emily, atas permintaan ibunya, di sebuah rumah kosong, terisolasi sebagai salah satu ikhtiar sang ibu untuk menuntun anaknya kembali ke jalan yang lebih lurus.  Harapan beliau adalah saya bisa membujuknya untuk meninggalkan dunia kelamnya.  Kami berpelukan, bertangis-tangisan dan saling memafkan.  Saya berjanji untuk membantu dia, namun janji itu belum sempat saya tepati.  Beberapa tahun kemudian saya mendengar kabar kalau Emily pergi untuk selamanya dengan kondisi yang memprihatinkan.

Seandainya ketika itu saya sudah mengerti 5 pilar kunci sukses yang diajarkan cikgu saya, mungkin approach saya pada Emily akan berbeda.  Mungkin saya tidak akan mengultimatum dia, saklek nyuruh dia milih saya atau pacarnya karena justru ultimatum saya tidak menyelesaikan emosi Emily bahkan menjauhkan saya dari tujuan saya membawanya ke jalan yang lebih benar.  Seharusnya saya bisa memberinya pilihan misalnya: Loe putusin pacar loe nanti maka hidup loe akan semakin berantakan atau gue temenin loe mutusin pacar loe sekarang dan gue berjanji  ngebantu loe memperbaiki kondisi kehidupan loe.  Emily butuh support, bukan hujatan.  Emily butuh di rangkul, bukan di tinggalkan.  Emily butuh tempat mengadu, bukan tempat mencari kenikmatan sesaat.  Tapi Emily tidak mendapatkannya saat itu, karena lingkungan terdekatnya bahkan saya, sahabatnya mencampakkan dia.

Kita, orangtua kita, nenek dan kakek kita, tidak pernah belajar untuk menjadi orangtua karena memang tidak ada sekolah jurusan parenting.  Kita belajar jadi orangtua dari para pendahulu kita.  Ketika kita diwariskan ajaran yang benar, amal jariah yang kita tuai namun ketika yang diwariskan pada kita adalah ajaran yang salah, maka dosa jariah pula yang kita tuai.  Dulu, memukul, menghujat, memaki-maki, dan memakai kekerasan fisik dan kata-kata kasar mungkin merupakan cara yang dianggap efektif dalam mendidik anak.  Orangtua bagaikan penguasa atau diktator yang titahnya tidak boleh dibantah.  Saat anak membantah karena tidak sependapat, ‘kamu ini anak durhaka, ngelawan perintah orangtua’ meluncur begitu saja.  Saat anak pulang dengan nilai matematik dibawah 6, ‘kamu ini anak bodoh’ mencuat dari mulut padahal nilai pelajaran lainnya semua diatas 6.  Apalagi kalau anak datang dengan permasalahan yang dihadapi Emily?

Saya tidak mau menyalahkan orangtua Emily, karena mereka seperti itu mungkin karena itulah satu-satunya cara merespon kondisi Emily yang mereka tahu dan menurut mereka benar.  Tapi saya belajar kembali dari kejadian 20 tahun yang lalu bahwa anak butuh support dalam kondisi apa pun.  Baik buruknya mereka, mereka adalah tamu istimewa yang kita undang kehadirannya.  Jauh dari anak-anak saat ini mendorong saya mengingat-ingat kembali tentang apa saja yang harus saya perbaiki dalam hal mendidik anak-anak, agar anak-anak saya tidak seperti Emily dan saya tidak seperti orangtuanya.  Saya on and off menjadi ibu bekerja, dan setiap kali saya berkarir anak-anak begitu mengerti kesibukan saya.  Seringnya saya meninggalkan mereka memang membuat mereka lebih mandiri, tapi gak menutup kemungkinan mereka merasa ‘jauh’ dari saya.

“Ma, whether you’re around or not, it doesn’t really make a difference,” ucap Aya saat dia berusia 8 tahun.  Saya pun tertohok oleh kata-kata anak sulung saya, dan setiap kali dia mengucapkan kalimat itu, semakin dalam efek menohoknya pada saya.  Andai saya jadi Aya dan Yai, apa yang saya harapkan dari ibu saya?  Andai saya jadi Aya dan Yai, dukungan apa yang saya butuhkan dari ibu saya?  Andai saya jadi Aya dan Yai, perlakuan seperti apa yang saya inginkan dari ibu saya?  Andai saya jadi Aya dan Yai, bisakah saya terbuka pada ibu saya?  Andai… andai… andai… dan berbagai andai andai lainnya memenuhi otak saya.  Karena proses berandai-andai inilah komitmen yang saya buat di depan anak-anak sebelum saya berangkat ke Jakarta dua minggu yang lalu semakin jelas bentuknya.  Saya bisa memvisualisasikan dan merasakan sensasi seperti apa yang akan saya rasakan jika nanti mereka sudah bersama saya, dan nanti ketika kami berempat berkumpul lagi.  Saya semakin paham bahwa ketika saya bersama anak-anak, saya pasti bisa menjelma menjadi ibu yang mereka harapkan, yang mampu memberikan mereka kesempatan bereksplorasi dengan diri mereka sendiri dalam koridor norma yang jelas, mendengar tanpa menghakimi, dan memperlakukan mereka seperti yang mereka inginkan dan butuhkan, dan saya akan lebih tingkatkan kondisi tersebut ketika mereka sudah berada di Jakarta bulan Agustus nanti.  Kenapa saya pilih kata ‘pasti’?  Karena kata pasti adalah salah satu dari sekian kata-katan yang punya efek mendorong badan saya untuk melangkah maju.  Kenapa saya tulis ‘lebih tingkatkan’ karena waktu di Yangon saya sudah mulai seperti itu, hanya karena disana saya tidak bekerja full time jadi waktu saya bersama mereka jauh lebih banyak dari sekarang.  Bismillah.

Di akhir film tersebut, sebuah pesan singkat saya kirimkan pada kedua anak saya:

“Hi kak, dek.  I miss you so much.  Not having you around makes me realise that both of you are more than just my kids.  Both of you are what I need to remind myself that I am a mother and a friend who need to be there for you, to support you.  Both of you are the reasons why I exist in the first place.  I love you kiddos.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s