Ketika Tanduk Kalah Sama Gengsi

IMAG0554Pagi tanggal 17 Agustus 2016, langit kota Yangon sedikit mendung.  Matahari pagi masih malu-malu untuk muncul, meskipun sinarnya sudah begitu terang, saingan dengan sumringah senyum masyarakat Indonesia di Yangon yang pagi itu akan melaksanakan upacara penaikan bendera dalam rangka HUT negri tercinta yang ke-71.  Saya pun mengambil tempat yang sudah disediakan, bersama para ibu-ibu lain.  Beberapa diantara kami termasuk saya punya perasaan extra bangga pagi itu karena putra-putri kami masuk ke dalam barisan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra).  Maka ketika derap langkah tegap mereka mulai terdengar masuk ke lapangan upacara, mata kami pun menatap kearah putra-putri kami masing-masing.

Pandangan saya tidak lepas dari Aya, anak sulung saya yang berusia 11 tahun lebih sedikit berjalan tegap dengan bangga diantara anak-anak Paskibra lainnya.  Ketika bendera merah putih mulai dikibarkan dengan iringan lagu kebangsaan, air mata pun menetes di pipi.  Pikiran saya melayang ke bulan Augustus setahun yang lalu ketika Aya bertanya pada saya, “Ma, kenapa Aya gak dipilih ikut Paskibra? Katanya untuk ikut Paskibra yang diliat adalah tinggi badannya.  Aya lebih tinggi or at least the same height as some of those Paskibra kids.”

Saya besar di dalam keluarga diplomat dengan banyak kenangan indah baik saat menjadi anak diplomat maupun menjadi istri diplomat.  Di sekolah Indonesia luar negri (setidaknya yang pernah saya lihat sendiri), anak diplomat atau homestaff di KBRI punya privilege yang kadang tidak dimiliki anak-anak Indonesia lainnya apalagi kalau anak-anak tersebut merupakan anak homestaff kategori dewa, alias senior (bukan dari umur, tapi dari posisi).  Biasanya anak-anak ini selalu yang di ‘tampilkan’ oleh sekolah.

Orangtua berprofesi diplomat pun sebenarnya sama dengan orangtua lainnya.  Apa pun akan diusahakan untuk memenuhi keinginan anaknya, termasuk mengusahakan agar anak mereka menjadi yang terdepan atau pusat perhatian, yang tentunya sebuah intensi positif mereka.  Bukan maksud saya menyudutkan siapa pun dari kalangan pemegang passport sakti ini, tapi itulah kenyataan yang terjadi.  Sehingga ketika di sekolah anak-anak ini sudah mendapatkan ‘special treatment’ kemudan ditambah usaha cantik para orangtua agar anaknya semakin bersinar, hati saya sering ngerasa pegel linu.  Apa harus sebegitunya ya?

Namun ketika pertanyaan tadi meluncur dari mulut Aya, saya jadi terusik.  Kalau syarat ikut Paskibra adalah tinggi badan, kenapa pula anak saya tidak diikutsertakan?  Otak reptil saya pun saat itu mulai dicolek-colek untuk melancarkan aksi senggol bacok.  Yang namanya emosi mulai naik.  Berbagai pertanyaan yang diawali dengan kata ‘kenapa’ dan pernyataan yang diawali dengan kata ’emangnya’ saut-sautan di dalam pikiran saya.  Self talk yang rata-rata penuh kata-kata negatif mulai berisik mengisi kepala saya.  Langkah yang menurut tanduk-tanduk dikepala saya harusnya saya lakukan adalah mengusahakan dengan berbagai cara agar Aya ikut Paskibra.  Apa pun usahanya dan caranya.  Kalau perlu ngemis ya saya ngemis lah, asalahkan Aya ikut Paskibra.  Mendadak saya menjadi orangtua berprofesi ‘pengusaha kemis’ alias ‘pengemis’.

Tapi sejak kapan makhluk bertanduk ngemis-ngemis?  Gengsi saya juga ternyata terlalu tinggi untuk mengemis.  Kalau saya suka sebel ngeliat orangtua yang suka memainkan berbagai daya upaya kurang wajar agar anaknya bisa tampil, lantas sekarang saya lakukan hal sama, trus apa bedanya saya dengan mereka?  Apakah mengusahakan dan memaksakan Aya untuk ikut Paskibra merupakan solusi yang punya efek positif di masa yang akan datang?  Saya gak yakin.  Kombinasi antara gengsi dan akal sehat, menggiring saya untuk tidak melakukan apa-apa selain daripada mereframe situasi yang dihadapi Aya supaya dia bisa punya pandangan yang lebih luas lagi terhadap dunianya.

“Karena kamu dianggap punya empathy tinggi dan pasti mau ngasih giliran buat orang lain yang tahun ini akan balik ke Indonesia dulu.  Your time will eventually come to be part of the Paskibra,” jawab saya terhadap pertanyaan Aya.

Dan kemurungan dia pun perlahan sirna.  Sambil senyum dia berkata, “Yes, you’re right, I am nice.  Besides, I have better things to do this year anyway.”

Sejak itu, Aya gak pernah ngebahas soal Paskibra lagi sampai beberapa bulan yang lalu ketika saya dan suami bertanya apakah dia masih punya keinginan ikut Paskibra tahun ini.  Jawaban Aya saat itu, “If they chose me because of who my parents are, I would rather not do it.  But if they chose me because I am eligible, I will do it because then I know I am not second choice.”

Kalimat yang cukup tajam tapi bijaksana dari seorang anak berumur 11 tahun!

Terus terang saya kaget dengan jawaban dia.  Saya dan suami pun sempat melongo sejenak.  Yangon memang sedang krisis jumlah anak Indonesia berusia remaja dengan badan semampai.  Jadi ketika nama Aya terlontar di dalam rapat 17 Agustusan, saya yakin kalau Aya memang masuk kriteria untuk ikut Paskibra.  Pertama, Aya sekarang sudah duduk di kelas 1 SMP jadi bisa dikategorikan remaja.  Kedua, tinggi badannya pun hampir sama dengan saya.  Namun jawaban dia tersebut membuat saya yakin kalau Aya sudah memproses realitas eksternal yang dia lihat dan alami selama setahun belakangan sehingga akhirnya sampai pada kongklusinya sendiri yang tercermin dalam kata-katanya.

“Pemikiran Kakak keren juga, Kak.  Menurut kamu, apa syarat utama ikut Paskibra?” puji saya sekaligus bertanya pada Aya.

“Harus cukup tinggi, meskipun masih SD,” jawab Aya.

“Aya cukup tinggi gak?” tanya saya lagi yang diikuti anggukan.

“Tinggi Aya hampir sama dengan mama, dan Aya udah gak SD lagi, which I think it’s an advantage,” sambung Aya.

“Jadi, kamu dipilih karena kamu eligible?” tanya saya.

“Iya, karena Aya eligible is the main reason.  Tapi mama sama papa harus make sure ya kalo Aya dipilih bukan karena papa itu HoC.  Soalnya Aya malu,” Aya kembali menegaskan.

“Malu?” saya pun bingung.  Kok malu?

“I want people to see me as me, not because who my parents are.  Jadi Aya malu kalo orang consider Aya karena Aya anaknya HoC,” tegas Aya sekali lagi.

Saya tidak mau memaksakan Aya untuk jadi Paskibra kalau dia tidak yakin bahwa dia dipilih memang karena dia sudah pantas untuk ambil bagian di dalamnya.  Selama lebih dari satu bulan saya biarkan Aya memproses realitas eksternalnya dengan pikiran dan perasaannya untuk mengambil keputusan ‘ya, Aya akan ikut Paskibra karena Aya eligible’ atau ‘tidak, Aya gak mau ikut Paskibra karena Aya dipilih gara-gara Aya anak HoC’ dan akhirnya dia memutuskan untuk ikut dengan alasannya sendiri.

Saya belajar banyak dari Aya dan proses keikutsertaannya dalam Paskibra.  Ketika anak kecewa karena merasa ‘left out’, sebagai ibu kita sering terbawa emosi.  Reframing yang saya lakukan sebenarnya justru membantu diri saya sendiri untuk mengendalikan kekecewaan saya.  Kalau Aya akhirnya terhibur dengan frame baru yang saya buat, itu merupakan bonus karena emosi itu menular.

Saya belajar banyak dari Aya karena kata-katanya yang setajam silet itu menyadarkan saya pada kenyataan bahwa anak dilahirkan dengan potensi baik.  Ada anak yang menyadari potensi baiknya, ada pula anak yang tidak menyadari potensi baiknya.  Saya beruntung punya anak yang menyadari potensi dirinya dan memilih untuk berdiri sendiri diatas kakinya karena dia merasa mampu.

Saya belajar banyak dari Aya karena kata-katanya yang begitu wise menyadarkan saya bahwa anak mampu menilai lingkungannya.  Realitas eksternal tidak punya makna tapi manusia termasuk anak-anak, mampu memberi makna berujung persepsi.  Maka berhati-hatilah terhadap apa yang kita, orang dewasa lakukan saat menciptakan sebuah realitas dihadapan anak karena anak mampu memperhatikan hal abstrak sekalipun.  Jangan remehkan kemampuan dan nalar mereka karena mereka adalah observer ulung.

Saya belajar banyak dari Aya karena sebagai seorang HR professional mata saya semakin terbuka untuk menilai orang atas kemampuannya bukan dari siapa orangtuanya, karena dengan menilai orang dari kemampuannya kita menghargai usahanya.

Saya belajar dari proses keikutsertaan Aya dalam Paskibra karena dari pengalaman ini saya nyadar kalau kadang-kadang waktu merupakan solusi dari sebuah masalah.  Mungkin kalau tahun lalu Aya dipaksakan ikut Paskibra, kebanggaan yang dia rasakan atas jerih payahnya gak sebesar sekarang bahkan mungkin akan hilang ditimbun tanda tanya orang disekitarnya.

Lalu ketika Aya berkata pada saya, “I decided to join Paskibra because I wanted to make you proud and I now realise that it was not a bad decision.  Not only that I made you proud, I also learned about life a lot from being part of it,” saya nyadar kalau Aya bukan anak kecil piyik lagi.

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Aya jadi keren gini, gara2 ketularan sikap keren Emaknya…love you all😘😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s