Pivotal Journey Part I: Fokus Pada Tujuan

 

DSC00168.JPG“Sabar-sabar ya nanti disana, elu akan ketemu berbagai jenis manusia dengan berbagai kelakuannya,” nasehat cikgu yang mirip nasehat mama lewat whatsapp beliau ke saya beberapa hari sebelum keberangkatan ke Mekah.  Hati lagi berbunga-bunga nih karena visa haji udah di tangan, ticket udah siap, kebutuhan naik haji juga udah nongkrong di Yangon (meskipun sayanya masih di Jakarta).  Yang lebih bikin tambah berbunga-bunga lagi adalah karena kali ini, insyaallah saya lebih siap untuk menjalankan segala ritual ibadah haji dibanding keberangkatan saya yang pertama 9 tahun yang lalu.

Dulu, naik haji macam ‘tick in a box’ saja – formalitas karena ibadah haji adalah rukun Islam.  Meskipun hati tetap terharu biru saat menjalankan satu-satu ritual yang masuk dalam rukun dan wajib haji, tapi approach saya dalam menghadapi berbagai jenis manusia terutama manusia yang berkategori ‘bahlul’ atau ‘majnun’ atau kalau pinjam istilah papa ‘himar’ alias donkey masih pakai urat (inget ya… urat sebaiknya dipakai untuk bikin bakso aja, bukan untuk menghadapi manusia).  Jadi nggak heran saat supir bis yang membawa rombongan haji luneg ke Medinah bertingkah, urat leher langsung nongol dan mulut saya langsung nyelepet sana sini.  Sekarang, insyaallah saya udah insaf atau setidaknya udah bisa mengontrol urat-urat leher saya untuk tidak segera muncul ketika otak reptil ngilik-ngilik untuk beraksi, disimpan sesaat lah paling tidak.  Selain itu kadar spiritual saya juga insyaallah lebih tinggi dibanding dulu meskipun masih belum tinggi-tinggi amat.

Berbekal ilmu transformasi, iman dan taqwa pada Yang Maha Kuasa, saya yakin saya gak akan kalah dengan Optimus Prime, salah satu Autobots dalam film Transformers saat menunaikan ibadah haji nanti.  Kuncinya: Fokus pada tujuan.  Ketika saya bisa konsisten membaca Al Qur’an sekurang-kurangnya 4 halaman setiap usai sholat fardhu dan tawaf (diluar umrah) sekurang-kurangnya 2 kali, kemudian dapat bonus sholat di Hijr Ismail dan Raudhah, saya akan merasakan sebuah kepuasan luar biasa dan artinya saya tau kalau tujuan saya sudah tercapai.  Dan perjalanan haji saya yang ke-2 ini pun menjadi perjalanan pivotal bagi saya sebagai seorang Gita, insyaallah.

Kembali pada nasehat cikgu tadi, rupanya Allah SWT begitu sayang ke saya dan suami karena dari sebelum kami berangkat ternyata kami memang menghadapi apa yang cikgu katakan.  Yang namanya manusia, tentunya ada rasa kecewa dan marah yang dirasa ketika batas kepatutan sudah terlanggar.  Tapi bedanya manusia dengan binatang kan adanya Pre-Frontal Cortex tempat si Fuad alias akal bertengger.  Pilihannya adalah apakah saya akan membiarkan diri saya jadi manusia sejenis reptil yang senggol bacok, manusia sejenis sapi yang melow gak jelas, atau manusia sejenis monyet yang clingak-clinguk mikirin gimana cara bales dendam, atau ya jadi manusia beneran dengan akal sehatnya?  Ya jelas dong saya pilih jadi manusia beneran.  Maka biarlah manusia dengan berbagai jenis tingkah lakunya bertingkah laku semau mereka yang penting saya tetap fokus pada tujuan saya dan menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa.  Setidak-tidaknya saya sudah tau apa dan siapa yang akan saya hadapi di tanah suci nanti dan bagaimana menghadapinya.

Usai walimatu safar kami di Yangon, saya sudah mulai praktek disosiasi, mengencangkan anchor sabar dan tenang, dan afirmasi bahwa saya manusia dengan akal dan ilmu yang mampu tenang menghadapi berbagai jenis manusia dan tantangan di tanah suci nanti sambil ngebayangin goal-goal saya.  Orang-orang di sekitar saya hanyalah asesoris belaka, yang kapan pun bisa saya copot.

Tanggal 3 September perjalanan pivotal saya pun dimulai.  Tantangan pertama adalah hiruk pikuk ruang tunggu Mingaladon International Airport yang baunya campur aduk nano-nano antara bau sirih, minyak nyong nyong dan bau ketek padahal hari masih pagi dan udara di luar lumayan seger sebenarnya.  Kemampuan saya mencium berbagai jenis bau-bauan ini artinya hidung saya nggak kesumbet, masih berfungsi dengan baik dan dalam kondisi prima, artinya badan saya juga dalam kondisi prima untuk beribadah di tanah suci nanti.  Bau-bauan seperti ini juga saya alami saat naik haji dulu.  Bedanya, dulu saya akan langsung memencet hidung saya bahkan kadang saya tambahin suara-suara aneh biar orang-orang yang memproduksi bau-bauan tersebut nyadar.  Tapi pagi itu saya memilih berpura-pura menyemprotkan parfum merk Pleasure di depan hidung saya berkali-kali.  Perlahan aroma parfum favorite saya itu pun tercium mengalahkan bau nano-nano tadi.  Saya ijinkan hidung saya mencium bau harum idaman itu sampai saya merasa bebas dari bebauan aneh saat mendarat di Doha hari itu.

Tantangan berikutnya adalah ketika tanpa kejelasan kami menunggu bis yang akan membawa kami ke Mekah.  Tanpa passport di tangan, saya dan suami tidak bisa membeli sim card untuk mengabari keluarga bahwa kami udah selamat sampai di Jedah.  Tanpa informasi yang jelas tentang berapa lama kami harus menunggu, kami bagai ikan-ikan yang terdampar di sebuah pantai.  Menunggu adalah pekerjaan yang paling saya benci.  Tapi itu dulu.  Sekarang menunggu merupakan ‘me time’ atau ‘we time’ buat saya dan suami.  Kesempatan menunggu pun kami pergunakan untuk icip-icip makanan Arab, meluruskan kaki, dan membaca Al Qur’an.  Sholat pun bisa lebih khusyuk karena gak dikejar kegiatan lainnya.

Setibanya di Mekah lain lagi tantangannya.  Kata orang saat naik haji, expect the unexpected.  Panasnya kota Mekah membuat malam lebih padat manusia ketimbang siang hari.  Mekah menjadi The City That Never Sleeps (New York kalah!) karena yang namanya toko pun buka sampe tengah malam.  Kalau membaca Al Qur’an bukan sebuah kendala karena saya dapat melakukannya dimana pun kecuali di kamar mandi, tapi yang namanya tawaf yang tujuannya ibadah kan cuma bisa dilakukan di Ka’bah (kalau tawaf yang tujuannya hura-hura bisa dilakukan di mall).  Terik matahari siang awalnya membuat saya enggan untuk menyambangi Ka’bah di siang hari.  Saya lebih memilih berangkat ke Masjidil Haram usai sholat Subuh saat kebanyakan jamaah meninggalkan mesjid megah tersebut atau menjelang sholat Ashar saat matahari mulai turun.  Tapi Ka’bah tetap saja ramai di waktu-waktu tersebut.  Ka’bah hanya akan sepi di siang bolong, antara jam 11.30 sampai jam 13.00 dimana matahari sinarnya paling terik.  Akhirnya setelah beberapa hari menganalisa kondisi Ka’bah lewat pantauan televisi di kamar hotel, saya dan Hera, ipar sekaligus insanity partner saya berangkat menuju Ka’bah pukul 12.30 siang dengan tujuan tawaf dan sholat di Hijr Ismail.  Berbekal termos air dingin, topi lebar dan kacamata hitam kami pun berangkat.  Perhitungan kami pun benar, Ka’bah tidak terlalu padat dikerubungi manusia.

“Bismillahi Allahu Akbar!” mengawali tawaf kami berdua tepat di sudut Ka’bah tempat Hajar Aswad berada.  Badan kami pun terbawa langkah kaki kami di iringi doa dan zikir sepanjang perjalanan mengelilingi bangunan sederhana tapi megahnya luar biasa itu.  Saya benar-benar berserah diri, membiarkan badan ini terbawa arus putaran ummat manusia yang khusyuk mengililingi Baitullah.

“Rabbana aatina fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa azabannaar”

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka – sebuah permintaan saya panjatkan kepada Allah ketika melintasi Rukun Yamani terus sampai mencapai Hajar Aswad lagi.  Begitulah seterusnya sampai tujuh kali saya dan Hera mengulangi bacaan-bacaan tawaf, berbagai doa serta zikir yang terus kami ucapkan.  Terbayang wajah anak-anak, kedua orangtua dan mertua, teman-teman, guru dan sahabat-sahabat yang setahun belakangan mengisi hari-hari saya dalam setiap putaran, begitu jelas seakan-akan mereka memang ada disana.

Saya merasa kerdil diantara orang-orang bertubuh besar disekitar saya.  Saya merasa kerdil di depan Ka’bah.  Manusia dengan berbagai latar belakang mendadak sama derajatnya.  Tapi kami semua yang ada disitu adalah orang-orang yang dimampukan oleh Allah untuk memenuhi undanganNya.  Dan undangan tersebut pun berlanjut ke Hijr Ismail.  Ratusan orang berdesakan memasuki salah satu tempat mustajab tersebut.  Badan saya yang tergolong kecil dibanding orang-orang disekitar saya pun terombang-ambing arus manusia yang masuk dan keluar Hijr Ismail.  Saya dan Hera yang sempat terpisah saat memasuki area tersebut mempererat pegangan tangan kami.  Yang ada di pikiran saya hanya bonus yang saya targetkan.  Saya perbesar, perjelas gambarnya, saya putar biar gambar tersebut bergerak-gerak di pikiran saya.  Dan entah kenapa sebuah spot yang lumayan kosong tiba-tiba terbuka lebar di depan saya dan Hera.

“Boy, loe sholat duluan!  Gue jagain,” teriak Hera.

Tanpa pikir panjang saya pun sholat disana.  Ketika menjaga Hera saat dia sholat, tak putus-putus doa saya panjatkan diiringi airmata yang juga tak putus-putus mengalir sejak awal tawaf saya siang itu.

Tantangan-tantangan yang saya hadapi di awal perjalanan saya ini bagai oli atau pelumas yang ujungnya justru melatih saya untuk bisa lebih flexible dalam pikiran dan tindakan, dalam batas kemampuan saya saat itu.  Ketika kita fokus pada tujuan, kita mampu menyesuaikan diri sebagai ikhtiar dalam mencapai tujuan tersebut.  Dibantu dengan sumberdaya berupa dahsyatnya pikiran bawah sadar, kita bisa lebih konsisten dan kongruen mendekati tujuan yang kita inginkan.

And this journey was indeed a pivotal journey karena yang saya inginkan tercapai dalam waktu yang cukup singkat.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s