Pivotal Journey Part II: Parno Itu Tak Ada Gunanya

paranoid2Saya suka travelling.  Banyak ilmu yang saya dapatkan dari travelling.  Dengan travelling, saya belajar untuk bersyukur dan menyikapi karunia dari Allah dengan lebih bijak.  Namun, satu hal yang selalu menjadi momok saat saya travelling adalah masalah kamar mandi atau toilet terutama toilet umum.  Dan saya jujur mengatakan bahwa ketika naik haji, masalah pertoiletan ini pulalah yang menjadi beban pikiran saya.  Jangan-jangan toilet atau kamar mandi di hotel melati tempat saya menginap nanti nggak layak pakai.  Jangan-jangan teman sekamar yang akan sharing kamar mandi dengan saya nanti pada jorok.  Fasilitas toilet di sekitar Masjidil Haram kan jorki-jorki (jorok).  Aduh… di Arafah jumlah toiletnya kan dikit, sementara penggunanya buanyak banget, pasti jorok dan bau.  Di Mina pasti sama deh dengan di Arafah.

Setiap pernyataan tersebut muncul, muncul juga gambar toilet yang menakutkan kondisinya di otak saya dan seperti nggak mau kalah, muncul juga bebauan menusuk hidung saya.  Kalau bayangan dan bau-bau menyeramkan tentang toilet dan kamar mandi muncul bertubi-tubi seperti ini, dorongan untuk membeli berbagai jenis perkakas andalan saya pun muncul seketika dan itulah yang saya lakukan.  Saya berangkat haji dengan satu tas kecil berisi satu botol semprotan toilet, satu bungkus toilet seat cover, satu bungkus (ukuran sedang) tissue basah, dan satu botol hand sanitiser.  Inilah ‘peralatan perang’ saya setiap saya travelling.

Lantas apakah penampakan pernyataan-pernyataan tersebut, berikut atribut gambar dan bau toilet atau kamar mandi berhenti begitu saja setelah peralatan perang saya tadi tersedia dan setia menemani perjalanan saya?  Tentu saja tidak!  Kenapa?  Entah kenapa, saya juga nggak tau.  Mungkin karena mereka sudah terjerembab di pikiran bawah sadar saya.  Untungnya saya menyadari kalau piktor (pikiran toilet kotor) ini saya biarkan menguasai pikiran bawah sadar saya, bisa-bisa saya takut untuk menjalankan semua ritual ibadah haji yang harus saya lakukan hanya gara-gara si toilet kotor.

“Disociate Gita…. Disociate!  Ayo metamodel piktor-piktor yang bermunculan itu!”

Begitulah kira-kira suara hati terdalam saya yang pengen banget menggiring saya untuk fokus beribadah.  Seperti biasa nih, ada tangan yang noyor-noyor kepala sambil ngomong, “eh… ilmu loe tuh dipake, jangan di diemin aja jek!”

Dan seperti biasa, kalo suara yang satu ini udah muncul saya biasanya langsung sadar.  Seperti inilah percakapan saya dengan diri saya sendiri.

Gita Parno: Jangan-jangan toilet atau kamar mandi di hotel melati tempat saya menginap nanti nggak layak pakai.

Gita Eling: Dari mana kamu tau kalo toilet atau kamar mandi di hotel melati tempat kamu nginep nanti nggak layak pakai kalau kamu belum pernah ke hotel tersebut?

Gita Parno: *speechless* Tau darimana ya??????

Gita Parno: Jangan-jangan teman sekamar yang akan sharing kamar mandi dengan saya nanti pada jorok.

Gita Eling: Apakah kamu bisa pastikan kalo mereka pada jorok?

Gita Parno: Nggak juga sih…

Gita Eling: Trus kenapa suudzon duluan?  Lagian, bukannya kamu nanti akan sekamar dengan orang-orang rombongan KBRI Yangon?

Gita Parno: *speechless* Iya juga ya….. (langsung nggak enak hati)

Gita Parno: Fasilitas toilet di sekitar Masjidil Haram kan jorki-jorki (jorok)

Gita Eling: Darimana kamu tau kalo fasilitas toilet umum di sekitar Masjidil Haram itu jorok?

Gita Parno: Dulu sih begitu…. 9 tahun yang lalu

Gita Eling: 9 tahun itu cukup lama juga ya… lantas seandainya kondisi toilet di sekitar Masjidil Haram sekarang masih seperti dulu, apa alternatif yang bisa kamu ambil?

Gita Parno: Hmmm…. pipis dulu sebelum keluar hotel, nahan pipis, atau pura-pura jadi penghuni hotel-hotel bintang 5 di sekitar Masjidil Haram untuk numpang make toilet mereka.

Gita Eling: Nah… itu pinter

Gita Parno: Aduh… di Arafah jumlah toiletnya kan dikit, sementara penggunanya buanyak banget, pasti jorok dan bau.  Di Mina pasti sama deh dengan di Arafah.  

Gita Eling: Lantas…. kalau penggunanya banyak kamu harus gimana?

Gita Parno: Ya giliran lah make toiletnya.  Tapi kan pasti jorok dan bau.

Gita Eling: Kok yakin banget sih toiletnya jorok dan bau?

Gita Parno: Itu udah hampir bisa dipastikan.

Gita Eling: Siapa yang memastikan.

Gita Parno: Saya.

Gita Eling: Kalau kamu bisa memastikan toilet tersebut jorok dan bau, kamu juga bisa memastikan toilet tersebut bersih dan harum dong?

Gita Parno: Loe kira gue cleaning service?!?!?!

Gita Eling: Pilih mana, memastikan toiletnya jorok dan bau dengan resiko kamu nahan pipis, boker dan nggak mandi berhari-hari di Mina nanti atau memastikan toiletnya bersih dan harum dan kamu nggak usah nahan pipis, boker dan mandi?  Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman?

Gita Parno: Iya… iya… nanti saya bersihin aja toilet atau kamar mandinya sebelum dan sesudah saya pake.

Gita Eling: Nah… gitu dong.

And…. that is exactly what I did.  Mungkin kalau ada award “The Most Frequent Toilet Cleaner” saya bisa jadi pemenangnya karena setiap kali masuk dan keluar kamar mandi di hotel, saya pasti bersihin dulu supaya saya dan jamaah lain yang akan menggunakannya setelah saya bisa nyaman menikmati kamar mandi bersama itu.  Dan memang janji Allah itu selalu tepat.  Setiap perbuatan kita akan langsung dibalasNya.  Alhamdulillah, saya selalu dilindungi dari pertemuan dengan toilet jorok meskipun adalah sedikit yang bau selama di Arafah tapi tidak di Mina.  Dengan ketajaman indera yang saya miliki, saya pun sampe tau toilet mana yang bersih dan mana yang kotor serta bau (just a tip, biasanya toilet jongkok yang posisinya paling ujung itu less smelly).

Dan mungkin kalau ada award “The Most Upset Jamaah To See A Dirty Bathroom” saya juga bisa jadi pemenangnya karena di akhir perjalanan haji kemaren itu, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata jabatan tinggi tidak menjamin tingginya jiwa bersih seseorang karena setelah kamar mandi saya bersihkan sang pejabat yang tinggal di kamar sebelah dengan seenaknya buang bungkus bumbu pop mie di lantai kamar mandi, bukan di tempat sampah!

Kesimpulan saya, ketika pikiran-pikiran negatif mulai muncul, berprasangka baiklah terlebih dahulu dengan melakukan meta model untuk memereteli pikiran negatif tersebut.  Fokuslah pada solusi, bukan pada permasalahan.  Dan ketika solusi tersebut sudah di dapat, lakukanlah karena Allah menghargai setiap usaha makhluk ciptaanNya.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s