Dibalik sebuah “I don’t know”

shrug
“I don’t know….”

Hidup nomaden hampir seumur hidup itu ada suka dan dukanya.  Bagi saya sukanya antara lain dari sisi jumlah teman yang bertebaran dimana-mana, pemahaman budaya setiap negara yang ditinggali, ngerasain jadi expat, ngerasain arti merantau (buat orang Minang ini sesuatu banget) dan tentunya kemampuan beradaptasi.  Dukanya palingan capek packing dan unpacking barang setiap kurang lebih 3 tahun sekali dan yang jelas karir saya stuck di level yang sama.

Bagaimana untuk anak-anak?  Sebagai anak diplomat, yang saya ingat adalah sukanya.  Dukanya tidak terlalu terasa selain pindah-pindah sekolah, yang berarti penyesuaian diri dengan bahasa, sistem pendidikan dan teman.  Dulu, saya ngerasa menyesuaikan diri dengan teman-teman baru saya pindah ke negara lain maupun kembali ke Indonesia itu biasa saja, semua mengalir bagai air dengan riak-riak kecil tak berarti.  Memang sih setiap kali masuk sekolah baru ada rasa deg-degan di hati.  Apakah saya mampu menyesuaikan diri?  Apakah ada murid yang mau berteman dengan saya?  Apakah saya dapat di terima di lingkungan sekolah terutama di kelas saya?  Tapi seingat saya kekhawatiran tersebut hanya kekhawatiran sesaat, dalam waktu yang cukup cepat – kalau nggak salah ingat – saya sudah menjadi bagian dari lingkungan baru saya.

Dulu, interaksi dengan teman lebih banyak face to face ketimbang lewat telpon apalagi mobile phone karena di jaman itu belum ada telephone yang bisa di tenteng kemana-mana selain telephone satelit yang ukuran dan beratnya seperti karung beras 10kg, sehingga tidak memungkinkan untuk dibawa kemana-mana apalagi dimasukin ke tas.  Tapi sekarang jaman sudah jauh sekali berubah.  Apa yang anak-anak saya alami sekarang berbeda dengan yang saya alami dulu.  Akses terhadap berbagai informasi terbuka lebar.  Setiap anak punya mobile phone termasuk anak saya yang sudah terlanjur punya sebelum saya ‘hijrah’.  Untungnya mereka bukan yang addicted menggunakan mobile phone untuk main game atau update status sosmed mereka.  Aya lebih suka menggunakan mobile phone untuk meresearch informasi terkait karakter di buku-buku yang dia baca atau menulis cerita di wattpad.  Yai lebih suka menggunakannya untuk liat video bikin cake pop.

Terbukanya akses informasi membuka peluang bagi mereka untuk punya banyak bahan pembicaraan dan mengidolakan banyak orang mulai dari artis dan penyanyi terkenal sampai Karin, remaja yang belum lama ini instagramnya mengguncang dunia persilatan para orangtua di Indonesia dengan kevulgaran foto dan kata-katanya.  Belum lagi hormon yang mulai bergejolak memperluas lagi topik pembicaraan mereka ke seputar naksir lawan jenis.  Kebutuhan untuk bisa diterima di dalam sebuah kelompok anak-anak terutama yang berkategori populer entah karena penampilan, gaya dan terkadang kekayaan orangtuanya menjadi penting terutama bagi anak perempuan.  Dari dulu trend seperti ini memang sudah ada.  Cuma bedanya kalo jaman dulu kita dapet informasi trend masakini dari majalah Hai, Gadis, dan majalah sejenis lainnya, jaman sekarang langsung nanya sama Mbah Google.  Kalau dulu yang punya peluang beken seantero jagad adalah artis dan penyanyi idola macam NKOTB, Tommy Page, Madonna, Ongky Alexander, dan lain sebagainya, sekarang siapa saja yang punya follower instagram dan twitter super banyak bisa juga jadi idola terlepas konten pesan yang mereka bawa.  Kalau dulu kebanyakan cowok yang ngejar cewek, sekarang sepertinya sama aja.  Dan rupanya semakin kesini keinginan untuk dapat diterima menjadi member sebuah kelompok keren dan beken disekolah masih tetap ada.

Sebagai ibu, saya kepingin anak-anak bisa diterima di lingkungannya.  Kalau dulu saya bisa, anak-anak saya pasti lebih bisa dari saya.  Keinginan tersebut saya pupuk terus dalam hati dan semakin lama semakin tumbuh menjadi sebuah pohon keyakinan saya.  Sehingga ketika suatu hari sepulangnya dari kantor saya menemukan Aya bermuram durja dan berkata pada saya, “I like the school, but I don’t like the students there”, percikan api mulai hinggap di hati.  Apa-apaan ini?  Badan penat, otak pun terasa buntu, sampe rumah disuguhi pula komplenan soal sekolah, padahal kamu itu kan bisa menyesuaikan diri, Kak.  Emosi mulai mendominasi logika tapi saya tetap mencoba untuk tenang.

“Do you want to talk about it?” tanya saya pada Aya.

“I like the fact that we learn through exploration sama kakak-kakak guru.  Tapi Aya ngerasa sulit banget untuk bisa punya teman.  Nggak ada yang mau berteman dengan Aya dan kalau pun ada I am the one who do the talking.  What kind of friendship is that?” jawab Aya.

“Coba jelaskan ke mama maksudnya sulit punya teman itu seperti apa kak.”

“Aya nggak ngerti mereka ngomongin apa.  They use a lot of weird terminologies that I don’t understand and when I asked them, they called me kuper.  Aya sering diledekin, katanya Aya polos banget.  Malah ada yang terang-terangan nggak mau satu group sama Aya.  I may look as if I didn’t care, but it hurts ma.  I have feelings too,” ucap Aya.

Hati ini sedih denger cerita Aya.  Tapi saya nggak mau nyerah.

“Berapa orang teman kamu yang seperti ini?” tanya saya kembali.

“Semua teman yang cewek dan beberapa teman cowok.  Aya sebel aja.  Why is it so difficult to make friends here.  Mereka cuma baik sama Aya kalo pelajaran Bahasa Inggris.  Apart from that they’re nasty!”

“Aya yakin setiap teman perempuan kamu seperti itu dan tidak ada satu pun yang nggak seperti itu?” tanya saya lagi.

“Ya ada.  Cuma I do most of the talking like I told you before.  Masak yang ngomong Aya terus sih, ma.  Dia cuma dengerin doang.  Aya kan juga pengen denger dia ngomong.”

“Justru yang seperti itu mutual dong kak.  Satu ngomong, yang lain dengerin.  Alhamdulillah ada teman yang pandai mendengar.  Jarang lho ada orang yang mau ngedengerin orang lain ngomong,” ujar saya, mencoba mereframe.

“Iya tapi kan bosen kalo Aya yang ngomong terus.  And all those girls ma, the things they talk about itu bukan Aya banget.  I don’t know how to be involved in that kind of conversation.  Aya nggak follow instagramnya Awkarin itu, ternyata mereka follow and they idolise her.  Trus Aya ditunjukin sama mereka.  Aya bilang what’s so cool about her.  Then they gave me the look.  Mereka juga suka ngobrolin lagu-lagu rap.  Tau nggak ma, kata-kata di lagu itu semuanya nggak bagus.  Anehnya mereka suka.  Don’t they understand what the singer is saying?  Aya nggak ngerti kenapa mereka suka banget ngobrolin hal-hal seperti itu.  Belakangan mereka lebih parah lagi giving me that nasty look.  And there is this boy yang nggak tau kenapa kalo sama Aya dia selalu kasar ngomongnya.  Aya sebel.”

Saya masih terus bertahan untuk mereframe.

“Ya sudah Ay, kalo kamu gak paham kenapa mereka suka ngobrolin hal yang menurut kamu omong kosong, ya kamu pura-pura paham aja.  Seperti kamu dulu waktu kecil main dokter-dokteran itu lho Ay.  Pura-pura dengan sungguh-sungguh.  Pura-pura nyimak aja tanpa harus dimasukin ke hati.  Dan itu cowok yang suka kasar ke kamu itu, apa dia selalu kasar setiap hari selama berada di sekolah?”

“Mama ini gimana sih?  You’re asking me to pretend, I feel like a hypocrite.  Dan cowok itu hanya baik ke Aya kalo pelajaran Bahasa Inggris soalnya dia nggak bisa Bahasa Inggri dan maunya nyontek dari Aya.”

“Pura-pura itu bukan berarti kamu hypocrite Ay.  Gini deh, kamu maunya apa sekarang?  Kamu tentukan dulu goal kamu,” pinta saya.

“I want to have friends without needing to pretend to like what they like.”

“So, given perlakuan mereka ke kamu, lantas apa yang harus kamu lakukan?  Clearly kamu gak suka apa yang mereka suka, kamu pun gak mau pura-pura suka yang mereka suka, dan karenanya mereka excluding kamu dari pergaulan.”

Saat itu emosi saya makin naik.  Kenapa sih anak ini keras kepala banget?

“I don’t know….,” jawab Aya, bikin saya tambah kesel.

“Dan terhadap cowok yang kasar itu, apa yang kamu inginkan?” tanya saya lagi dengan nada sedikit lebih tinggi.

“I don’t know…,” jawab Aya lagi.  Saya tambah kesel.

“Ya udah, kalo jawaban kamu I don’t know terus then I can’t help you.  You’re not trying enough.  Kamu selalu ngeliat orang dari sisi negatifnya aja.  Coba liat sisi positifnya, sisi baik mereka.  Masak nggak ada sih kesamaan antara kamu dan sekian banyak teman-teman kamu di sekolah sih bla… bla… bla…. bla….  Pokoknya mulai besok kamu cari satu orang anak di kelas 7 yang akan kamu jadikan teman untuk satu minggu kedepan.  Abis itu cari lagi anak lain, begitu terus sampe kamu punya temen di sekolah kamu itu!”hardik saya.

Respon Aya saat itu langsung terdiam dan membawa bantalnya keluar dari kamar saya sambil bilang, “Okay I will try.”

Malam itu saya membuat beberapa kesalahan:

  1. Saya gagal paham posisi Aya.  Saya tidak memahami perasaannya yang lagi galau karena menganggap kalau saya dulu bisa dia pasti bisa seperti saya.  Saya lupa bahwa Aya bukan saya dan kami hidup di jaman yang berbeda meskipun tetap ada kesamaan kebiasaan.
  2. Karena saya tidak acknowledge perasaan Aya, maka emosinya pun tidak selesai dan rapport antara saya dan Aya pun tidak dalam terbangun.  Karena emosi Aya tidak selesai, menularlah emosi itu pada saya.  Karena saya gagal menyelesaikan emosi saya, saat saya memfokuskan Aya pada tujuannya, saya memaksakan cara yang saya anggap harus dia lakukan padanya.
  3. Memaksakan Aya untuk menerima cara yang saya anggap benar artinya saya gagal flexible.  Saya lupa bahwa topik pembicaraan kami adalah Aya dan kehidupan barunya.  Bukan saya dan kehidupan saya.  Saya lupa memberi ruang buat Aya untuk berfikir menyelami dirinya dan memahami situasi yang sedang dia hadapi agar dia bisa membuat solusinya sendiri.
  4. Saya lupa menggunakan indera saya untuk memahami kondisi saya sendiri yang memang dalam kondisi penat, akibatnya saya lupa disosiasi.  Padahal jika saya bisa disosiasi saat itu, emosi saya pasti tidak akan kebawa omongan Aya.  Saya juga tidak menggunakan ketajaman indera saya dalam menganalisa reaksi dan ucapan Aya.  Padahal cue “I don’t know” dari Aya itu biasanya indikasi kalau dia sedang berfikir keras.  Tapi apa yang saya lakukan?  Saya mendesak Aya dengan memberinya satu pertanyaan lagi.  Saya gagal sabar.

Akhirnya, malam itu pun saya tidur sendirian karena Aya memilih untuk tidur dengan Mbak Soe Soe asisten saya di Yangon yang lagi berlibur di Jakarta, dan Yai memilih untuk menemani kakaknya.  Malam itu saya menyesali respon saya terhadap Aya.  Sikap Aya yang mogok bicara dengan saya sampai keesokan harinya merupakan feedback pada saya bahwa cara saya tidak tepat, bahwa saya lupa kalau saya sudah punya anchor sabar yang lupa saya pencet, bahwa otak reptil saya berhasil menguasai diri saya dan yang lebih parah lagi, saya underestimate potensinya untuk survive hanya karena sebuah kalimat “I don’t know” yang keluar dari mulutnya.  Ternyata dibalik “I don’t know” yang dia ucapkan dia menemukan caranya sendiri untuk bisa menjadi bagian dari lingkungan di sekolahnya.

“Ma, I got accepted into a school band today.  They heard me sing, so they asked me to be the band’s singer along with some other girls,” ucap Aya ketika saat saya menemuinya pulang kantor.

Yup, I have underestimated my daughter dan ini berarti saya masih punya area yang perlu perbaikan.  Artinya saya masih dikasih kesempatan untuk belajar dan berusaha menjadi ibunya anak-anak dengan mengingat dan menjaga potensi baik mereka.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s