Ada Udang di Balik Batu

imag0113“Ma… Yai nggak mau sekolah karena sekolahnya lama,” ucap Yai.

Kalimat seperti ini beberapa kali dia ungkapkan.  Memang sih, sejak pulang ke Indonesia terdapat perubahan drastis di jam sekolah anak-anak.  Waktu di Yangon, jam 12 siang Yai sudah pulang, sekarang baru jam 3 sore dia keluar, plus perjalanan dari sekolah ke rumah yang memakan waktu kurang lebih 45 menit.

Setiap mendengar keluhan seperti itu, hati ini iba pada bontot saya yang berumur 7 jalan 8 itu.  Kok berat banget ya hidupnya.  Setiap hari jam 6 atau selambat-lambatnya jam 6.15 pagi anak-anak meninggalkan rumah untuk pergi ke sekolah, menghabiskan waktu 45 menit berangkat sekolah, 45 menit pulang dari sekolah.  Kemacetan jalan raya yang membuat mereka harus berangkat sepagi itu padahal sebenarnya jarak ke sekolah tidaklah jauh.  Jam 7.30 pagi sampai jam 3.00 sore waktunya dihabiskan di sekolah dengan berbagai kegiatan belajar.  Untungnya metode pembelajaran di sekolah barunya ini cukup menarik dan fun bagi Yai.  Jadi dia pun senang dan tidak merasa disulitkan seperti ketika di Yangon dulu.  Begitu juga Aya, kakaknya.  Satu-satunya kendala yang mereka berdua katakan pada saya adalah menyesuaikan diri dengan teman-teman baru mereka.

“Yai seneng di sekolah, main terus ma.  Cuma Yai gak selalu suka sama teman-teman Yai.  Ada yang nakal,” begitu kata dia.

Hmmm…. Yang saya pahami tentang Yai, attachment terhadap teman dan guru lumayan tinggi apalagi ketika dia sudah merasa nyaman.  Seringkali dia membandingkan teman-temannya dulu dengan teman-temannya sekarang.  Untungnya guru-gurunya sekarang yang dia panggil dengan sebutan ‘kakak’ itu bisa menggantikan figur Ibu Farahnya.

Yai memang sangat dekat dan nyaman dengan teman-temannya dan Ibu Farah gurunya di Yangon dulu.  Jadi, meskipun jam pulang sekolah itu pk. 12 siang, Yai suka berlama-lama di sekolah.  Ujung-ujungnya dia kadang-kadang pulang jam 3 sore juga.  Sama dong dengan sekarang.  Bedanya cuma jarak tempuh saja.

“Yai, mama ngerti Yai nggak kepengen sekolah karena sekolahnya lama.  Jelasin dong, ke mama apa yang Yai rasain,” pinta saya mengawali ‘rayuan’ saya pada Yai.

“Yai capek, ma.  Sekolahnya lama betul,” jelas Yai.

“Oohh, Yai capek.  Disekolah Yai ngapain?” tanya saya lagi.

“Yai belajar sama main,” jawabnya, dengan suara yang nyaris berbisik.

“Wah… enak dong belajar sama main.  Yai kan suka main.  Waktu di Yangon Yai juga pulang sekolah main kan.  Sekarang belajarnya sambil main.  Seneng dong, dek,” saya mulai ngeluarin rayuan.

“Tapi kelamaan, ma.  Trus di jalan Yai capek.” Yai masih ngeles.  Airmata tiba-tiba menetes di pipinya.  Dia udah frustrasi.

Saat itu si inyik udah dari tadi mundar-mandir di depan kami berdua sambil bujuk-bujuk ngoceh, “Yai udah jam 6 lewat ini, nanti Yai terlambat, ayo deh inyik anter.”

Aha!  Ini dia nih culpritnya.  Capek di jalan berdampak capek di sekolah.  Padahal di sekolah itu belajar dan main, belajar pun sambil main.  Ditambah si inyik mundar-mandir sambil berceloteh, Yai pun tambah nervous.

“Sini deh mama peluk dulu,” ajak saya sambil mendekap Yai.

“Sebentar ya, nyik.  Yai mau dikasih dopping dulu biar kuat sekolah sampe jam 3.00, inyik sabar dulu ya,” pinta saya pada bokap yang selalu merasa anak-anak akan terlambat sampai di sekolah kalau berangkatnya lewat dari jam 6.00 pagi.

Saya dekap Yai erat-erat, “Yai pasti kuat belajar sambil main.  Yai bisa bawa bantal ke mobil, dan di mobil Yai bisa tidur.  Sekarang Yai sekolah dulu ya.  Karena kalau nggak sekolah, nanti Yai ketinggalan permainan baru di sekolah.”

Lha, kok takut ketinggalan permainan, bukan pelajaran?  Saya memfokuskan kalimat saya di kata main dan permainan karena Yai sukanya main.  Belajar pun harus dengan bermain.  Pengalaman saya dengan Yai, kalau belajar hanya mengandalkan buku, nggak sampe 5 menit dia udah mulai day dreaming atau ngajak ngobrol yang gak ada hubungannya dengan pelajaran dia.  Tapi kalau pake permainan, semangatnya luar biasa.

Pelan-pelan saya berdiri sambil memapah Yai untuk ikut berdiri.  Dia pun ngikutin saya.  Kami pun perlahan turun ke bawah.  Meskipun masih dengan raut wajah manyun, Yai berhasil dibujuk untuk pergi ke sekolah.  Lalu saya mengirim sms ke gurunya, menceritakan kejadian pagi itu dan memintanya untuk membantu memberikan pengertian ke Yai tentang jam sekolah.  Menjelang siang hari, saya terima sms dari gurunya.

“Bunda, alhamdulillah Yai baik-baik aja tuh.  Tadi memang dia nanya kenapa sekolah lama banget, tapi saya kasih pengertian ke dia dan setelah itu dia main lagi sama teman-temannya.”

Dua minggu setelah insiden ngambek pagi itu, Yai menjemput saya di rumah salah seorang teman kakaknya setelah pulang sekolah.  Kebetulan saya ada arisan ibu-ibu kelas 7 disana.  Dan kebetulan lagi, beberapa temannya yang ibunya ikut arisan pun juga menjemput ibu mereka.  Selesai acara, saya, Yai dan Aya berjalan menuju mobil.

“Ma, Yai nggak capek lho ternyata,” ucap Yai tiba-tiba.

Kesempatan nih, pikir saya.

“Wow… Yai hebat ya, semakin kuat badannya.  Jadi mulai sekarang gak ada masalah lagi dong sekolahnya sampe jam 3.  Sekarang aja Yai masih belum capek, padahal udah jam 4,” ujar saya.

“Iya ma.  Yai bisa kuat sekarang.  Jadi sekarang kita mau jalan kemana, ma?” kata Yai kemudian.

Saya cuma bisa ketawa karena ternyata ada udang di balik batu.

Anak-anak memang hebat berkata-kata.  Dibalik ucapannya, ternyata Yai punya keinginan terselubung.  Tapi biarlah, yang penting dia sudah mengakui bahwa dia kuat sekolah sampe jam 3.  Besok-besok kalo dia pakai alasan ini lagi saat ngambek, saya bisa me-recall kejadian dan ucapannya hari itu.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s