Biarlah nunggu ubanan

obreDua minggu yang lalu saat kita lagi santai-santai, Aya tiba-tiba bertanya, “Ma, menurut mama kalo Aya rambutnya diwarnain, bagus apa nggak?  Boleh nggak Aya warnain rambut, ma?”

Saya nggak kaget dengan pertanyaan tersebut karena sebelum ini Aya cerita tentang berbagai jenis dan teknik mewarnai rambut yang dia research di internet.  Dia juga cerita kalau beberapa orang teman perempuannya mewarnai rambut mereka, dan menurut Aya rambut mereka cool.  Dan sebagai anak perempuan yang berangkat remaja, Aya pun kepingin bisa diterima di lingkungan teman-temannya.  Kalau mewarnai rambut adalah cara untuk bisa diterima, maka kenapa tidak dia coba toh si mama kan bilang ‘find something in common‘ – mungkin itulah yang ada dalam pikiran Aya.

Jujur saya, saya juga berpikir seperti itu, dulu – karena dulu rambut saya pun warnanya pernah coklat, pernah di highligh blonde di bagian poni, dan pernah juga merah.  Potongan rambut saya pun macem-macem, mulai yang a la Demi More di film Ghost, nge-bob biasa sampe bob nungging, bahkan model botak setengah hanya  karena saya kesulitan nyari iket rambut yang muat pernah saya miliki.  Saya juga penggemar body piercing meskipun tindikan di tubuh saya hanya 3 tindikan di setiap kuping dan 1 tindikan di hidung, dan belum merambah ke bagian tubuh lainnya.  Dan saat itu, segala keanehan potongan rambut dan warna rambut yang saya miliki buat saya adalah sebuah statement bahwa saya ini cool lho.  Jadi nggak heran lah kalau sekarang anak saya juga punya pikiran yang sama, wong ibunya juga dulu begitu.  Bedanya, kalau dulu saya nggak pernah konsultasi sama orangtua saat saya akan mewarnai rambut saya atau memotong rambut saya dengan potongan yang tidak lazim karena saya takut dilarang, Aya justru berkonsultasi dulu pada saya, menanyakan pendapat saya.

“Bagus, apa nggak itu subjective, Ay.  Pendapat mama sama kamu mungkin bisa berbeda.  Kalau Aya tanya boleh apa nggak, ya boleh aja Ay, why not?” jawab saya, padahal pendapat dan pandangan saya terhadap pewarnaan rambut sekarang sudah berbeda karena buat saya warna rambut yang paling cool itu adalah yang diberikan oleh Sang Pencipta, Allah SWT.  Selain itu, resiko mewarnai rambut pada kesehatan rambut juga lumayan tinggi dan bisa juga bikin bokek.

“Mama dulu pernah warnain rambut?” tanya Aya lagi.

“Pernah,” jawab saya nggak mau bohong ke Aya.

“Kalo gitu, kapan Aya bisa warnain rambut Aya?” tanya Aya lagi.

“Weekend ini ya, kita ke salon.  Mama mau creambath dan kamu bisa warnain rambut kamu.  In the meantime, kamu cari dulu warna yang kamu mau sekalian di research plus minus warnain rambut supaya kita tau perawatan coloured hair dan boleh apa nggak dalam Islam ya Ay.  Cari 3 sumber supaya kamu yakin ngewarnain rambut itu halal.”

Thanks, mama.  You’re the best!”

Aya senang bukan main karena saya mengijinkan dia mewarnai rambutnya.  Dan dia pun asik mencari warna rambut yang akan dia pilih.  Hijau, biru, pink, ungu, macam-macam lah pokoknya.  Saya pun ikut terlibat dalam pemilihan warna rambut yang cocok untuk dia.  Dia pun mencari tahu apakah mewarnai rambut itu diperbolehkan dalam Islam dan berdasarkan hasil research yang dia lakukan, dia berkesimpulan mewarnai rambut itu boleh asal dengan hena dan tidak berwarna hitam.

“Aya mau di ombre, warna pink,” keputusan dibuat.

Waktu papanya pulang ke Jakarta dan tahu bahwa dia sudah dapat ijin dari saya untuk mewarnai rambutnya, reaksi papanya berbeda dengan saya tapi untungnya sebelum reaksi tersebut termanifestasi menjadi sebuah penolakan si uda melihat kode-kode yang saya berikan padanya sehingga dia ikut mendukung keputusan saya.

Mungkin, sebagian orang yang membaca blog ini berpendapat ibu macam apa saya ini, membiarkan anaknya mewarnai rambut bahkan ikut-ikutan pula memilihkan warna rambut yang cocok.  Kenapa saya nggak bilang aja ke Aya bahwa saya tidak pernah mewarnai rambut saya kalau sebenarnya saya tidak ingin dia mewarnai rambutnya? Kenapa saya tidak larang aja dia mewarnai rambut kalo saya tahu dampaknya dan kalau saya memang nggak setuju?

Saya melakukan itu semua bukan tanpa alasan.  Saya lakukan itu karena saya ingat kesalahan parenting yang pernah saya lakukan:

  1. Menyuapi solusi: melarang Aya mewarnai rambutnya buat saya adalah membuat keputusan buat dia.  Meskipun saya sebenarnya tidak setuju, bagi saya ada cara yang lebih elegan untuk memindahkan keputusan untuk tidak mewarnai rambut pada diri Aya sendiri.  Apalagi sekarang peta mental Aya sudah banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain bacaannya, apa yang dia lihat dan teman-temannya.  Melarang Aya secara langsung kemungkinan akan memancing reaksi berupa penolakan dari Aya untuk setuju pada larangan saya dan berpotensi terjadinya communication breakdown lagi antara saya dan Aya
  2. Berbohong: apa jadinya jika Aya menemukan foto-foto saya jaman jahiliyah dulu dengan rambut di highlight blonde atau rambut coklat atau rambut merah saya?  Bahkan saat saya menikah saja rambut saya masih berwarna merah.  Kebetulan saja Aya bukan tipe anak yang suka ngegeratak album-album foto jadi posisi saya masih terbilang aman.

Saya ingin Aya bisa membuat keputusan sendiri dan belajar menghadapi konsekwensi keputusan yang dia ambil.  Jadilah kita berangkat ke salon weekend yang lalu.  Di salon, saya katakan pada petugas disana bahwa anak saya mau mewarnai rambutnya, pakai hena.  Dan inilah jawaban si mbak petugas salon:

“Sayang banget Aya, rambut Aya hitam.  Kalo diwarnai pakai hena nggak akan kelihatan warnanya kecuali rambut Aya ubanan semua.  Kalau mau di bleach dulu, tapi nanti rambutnya jadi kering dan bisa pecah-pecah.”

Aya pun terlihat ragu, dan saya sudah antisipasi reaksinya tersebut.  Aya sangat bangga sama rambutnya yang super tebal dan sehat.  Mendengar dampak bleaching dia jadi takut rambutnya rusak.  Dan jika mewarnai rambut pakai hena nggak akan menghasilkan warna apa pun pada rambut hitamnya, maka…

“Aya nggak jadi warnain rambut deh ma.  What’s the point of colouring my hair if the colour cannot be seen, and if the only way to make the colour visible is by bleaching it and since bleaching ruins my hear, I won’t do it.

Saya cuma bisa tersenyum lebar, dalam hati.  Dibalik ijin yang saya berikan pada Aya, saya sudah melakukan research kecil-kecilan terlebih dahulu.  Beberapa sumber yang saya baca mengatakan bahwa mewarnai rambut itu harus ada faktor pendorongnya, seperti munculnya uban:

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu: ”Pada hari penaklukan Makkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar) datang dalam keadaan kepala dan jenggotnya telah memutih (seperti kapas, artinya beliau telah beruban). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam.” (HR. Muslim no. 2102)

Dan, sebaik-baiknya alat yang dipergunakan untuk mewarnai rambut adalah hena dan/atau katam.  Akan tetapi menggunakan cat rambut modern selama tidak merusak rambut dan terjamin kehalalannya pun diperbolehkan.  Begitulah kata sumber-sumber tersebut.

Sumber-sumber inilah yang juga dibaca Aya (karena berada di 3 peringkat teratas pencarian tentang ‘mewarnai rambut dalam Islam).

 

Berkat pengalaman saya mewarnai rambut, saya tahu bahwa mewarnai rambut dengan hena itu tidak ada gunanya bagi orang berambut hitam karena warnanya nggak akan kelihatan, dan kalau ingin warnanya kelihatan harus di bleach dulu yang artinya rambut akan terpapar bahan kimia yang membuat rambut jadi kering sehingga supaya rambutnya nggak kering perawatan khusus (bukan hanya sekedar dengan shampo khusus rambut diwarnai) dengan biaya lumayan luar biasa bagi saya pun diperlukan.  Saya juga sangat tahu kalo rambutnya adalah salah satu kebanggaan Aya, jadi reaksi Aya yang nggak jadi mewarnai rambutnya tersebut sebenarnya sudah saya antisipasi.

Inti dari cerita saya ini adalah:

  • Pahamilah anak kita sendiri, apa yang menjadi kebanggaannya, apa kesukaannya.  Gunakan ketajaman indera kita saat berkomunikasi dan berhadapan dengan mereka.  Dengan memahami diri anak kita, kita akan lebih mudah berkomunikasi dan menanamkan value dan belief yang tepat.
  • Peran ayah – meskipun tidak saya elaborate dalam pengalaman saya ini – sangat penting.  Apa jadinya kalau si uda menyatakan penolakannya?  “Mama sama papa kok nggak kompak?” – itu kira-kira yang akan muncul dalam pikiran Aya.  Besok-besok kalau dia tahu saya akan menolak, dia akan coba ke papanya untuk mendapatkan keinginannya.
  • Bereksperimenlah dengan keinginan anak untuk menyelami kehidupan mereka tapi beri koridor yang jelas.  Saya ikut menyelami keinginan Aya dengan turut serta memilih warna dan style mewarnai rambut untuk dia.  Dengan demikian dia merasa bahwa tindakannya kita dukung – saya membangun kedekatan dengan dia.
  • Bekali diri dengan pengetahuan trend masakini karena peta mental anak-anak kita sedikit banyaknya akan dipengaruhi oleh segala kekinian tersebut.
  • Biarkan mereka membuat keputusan sendiri dengan guidance dari kita.  Selama keputusan yang mereka buat tidak bertentangan dengan aqidah, why not?

Gagal mewarnai rambutnya, Aya akhirnya memilih untuk creambath saja.  On the way pulang, dia bergumam,”Berarti Aya harus nunggu tua dan ubanan dulu supaya bisa warnain rambut Aya.”

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s