Godzilla Aja Bisa Berubah

hugs
image taken from startribune.com

Saya termenung menatap malam di ketinggian entah berapa ribu kaki dari permukaan laut.  Dada terasa sesak, bukan karena saya takut ketinggian tapi karena rasa hampa akibat kerinduan yang mendalam berkecamuk dalam dada.  Saya merindukan mereka, Aya dan Yai yang melepas kepergian saya untuk bertugas ke Dubai selama 5 hari dengan pelukan erat.

“Break a leg, mama.  We’ll miss you, come home soon,” ucap mereka.

Ini bukan kali pertama saya meninggalkan keduanya karena tugas dari kantor.  Beberapa tahun yang lalu, saya sering meninggalkan mereka seperti ini.  5 hari sih nothing.  Ada kalanya mereka saya tinggalkan selama lebih dari seminggu dan saya biasa aja, nggak mellow sama sekali.  Kalau pun mellow, ya nggak se-mellow lagu Hati Yang Luka-nya Betharia Sonata.  Dan dulu kalimat seperti itu tidak pernah terucap dari mulut mereka.  Sebaliknya kalimat inilah yang kerap mereka, terutama Aya si sulung ucapkan, “Ada atau nggak ada mama di rumah, nggak ada bedanya.”

Ketampar?  Lumayan, bahkan pake nangis segala.  Sedih? Ya pasti lah wong saya sampe nangis.  Tapi saya tetap sering meninggalkan mereka dan saya benar-benar enjoy kalau ditugaskan keluar kota.  Saya kerja kan juga buat mereka, begitulah pembenaran saya.

Keberangkatan ke Yangon sebenarnya sebuah blessing in disguise karena saya terpaksa harus berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga meskipun hanya untuk beberapa saat yang cukup singkat, dua bulan saja.  Karena setelah dua bulan, anak-anak dan suami mulai bosan dengan kehadiran saya dirumah, karena setiap hari posisi perabotan di rumah kami berubah, dan setiap minggu ada pajangan atau lukisan baru bertengger di dinding rumah kami, ada panci atau peralatan memasak baru di dapur (yang entah kapan akan saya pakai) dan ada perhiasan baru di kotak perhiasan saya (karena Myanmar terkenal dengan batu-batu mulianya).

Bukan hanya kehadiran barang baru di rumah atau berubahnya posisi perabotan setiap hari, saya juga punya kebiasaan baru yaitu meributkan hal-hal kecil mulai dari susunan baju di lemari yang tidak lurus dan tidak sesuai dengan gradasi warna, sampai menu makan sehari-hari yang sebelumnya tidak pernah saya ributkan.  Sebenarnya sudah dari dulu saya suka menyusun baju saya sesuai dengan gradasi warna, tapi dulu saya tidak pernah mempermasalahkan jika asisten rumah tangga kami merusak susunan warna yang sudah saya atur.  Masa menjadi pengangguran membuat saya menjadi control freak yang sangat-sangat freaky.

Kembalinya saya ke dunia kerja membuat suasana rumah lebih nyaman, buat saya dan keluarga kecil saya.  Tapi berapa lamakah saya bertahan  untuk tidak menjadi pengacau suasana rumah?  Nggak lama tuh!  Kesibukan di kantor, plus kesibukan di KBRI membuat saya menjadi the freak yang seringkali bernada tinggi ketika berbicara, ngomel saat marah, ngomel saat khawatir, bahkan disaat sedih sekali pun.  Satu-satunya moment yang nggak membuat saya ngomel hanya saat saya bahagia.  Saya lupa bahwa semua respons saya adalah pilihan saya sendiri yang merupakan produk dari makna yang saya letakkan pada peristiwa yang saya alami.  Maksudnya gimana sih?

The map is not the territory – ini adalah salah satu asumsi dalam NLP.  Ilustrasinya kira-kira begini: kalau kita pergi ke Universal Studio, kita diberikan peta Universal Studio yang bentuknya kurang lebih seperti ini:

2d-map2
Peta Universal Studio Singapore

Apakah peta tersebut Universal Studionya?  Tidak, tapi peta tersebut membantu pengunjung saat datang ke Universal Studio.  Berbagai detail tentang Universal Studio tidak kelihatan di peta tersebut.  Berbeda dengan peta yang diambil dari Google Map yang gambarnya seperti ini:

Universal Studio.png

Mana yang lebih detail dan memuat informasi lebih banyak?  Pasti jawabannya adalah peta yang dari Google Map.  Tapi apakah peta tersebut Universal Studionya?  Tidak juga, kan.  Kedua peta tersebut hanyalah representasi dari atau terjemahannya Universal Studio.  Hanya saja Google Map Universal Studio memberikan gambaran yang lebih detail dibanding peta yang diberikan oleh Universal Studio, maka informasi yang di dapat akan lebih luas lagi.  Bayangkan kalau kita ini adalah anggota Paspampres yang sedang mengawal Presiden berlibur di Universal Studio.  Peta mana yang akan lebih membantu kita?

Intinya semakin luas peta mental kita, semakin banyak pilihan respon yang tersedia di depan mata kita.  Lalu sebenarnya kita ini merespon peta alias representasi/terjemahan sebuah realita atau merespon kenyataan alias realitanya?

Kita merespon peta atau terjemahan sebuah realita.  Kalau kita menerjemahkan sebuah realita secara negatif, ya respon kita akan negatif.  Itulah kira-kira yang terjadi di dalam otak saya.

Singkat cerita, anak-anak pun sedikit demi sedikit mulai menjauh dan saya ngerasa ada tembok tebal yang menghalangi komunikasi saya dengan anak-anak.  Apa yang saya lakukan kemudian?  Berhenti bekerja karena menurut saya, pekerjaan saya itu adalah biang kerok kegaharan saya saat itu.  Berubah?  Nggak juga tuh.  Saya tetap marah-marah, bahkan saya pun dapat julukan Godzilla dari anak-anak.

Dulu ketidakhadiran saya di rumah tidak terasa, sekarang saya malah dijuluki Godzilla.  Besok-besok mungkin mereka akan bertanya, “kami ini sebenarnya anak pungut apa anak kandung sih, ma?”

Jadi sebelum mereka menyematkan identitas diri mereka sebagai anak pungut, saya putuskan untuk berubah.  Kapan itu?  Akhir bulan April tahun 2016, beberapa bulan yang lalu dengan cara mengikuti training Enlightening Parenting di Bangkok.  Bagi yang nggak kuat mental, mungkin cuma akan bertahan di hari pertama saja sebab di hari pertama itu hati saya babak belur ditampol kiri, kanan, atas, bawah, depan dan belakang karena ternyata banyak banget kesalahan parenting yang sudah saya lakukan.  Tapi rugi aja kalo nggak ngikutin hari ke dua karena justru di hari ke dua inilah kita diajarin cara memperbaiki semua kekeliruan yang pernah kita perbuat dengan cara yang lumayan lempeng tanpa bertele-tele.  Output dari training tersebut pun ternyata luar biasa.  Hanya dengan melakukan hal-hal dibawah ini, perubahan saya nyiprat ke anak-anak:

  1. Minta maaf, memuji, menunjukkan kasih sayang dan berterimakasih
  2. Menyelesaikan emosi diri sebelum menyelesaikan emosi anak/orang lain
  3. Fokus pada tujuan karena apa pun yang gak ada tujuan pasti akan nyasar
  4. Fleksibel dalam bertindak karena ada banyak jalan menuju Roma
  5. Bangun kedekatan karena tak kenal maka tak sayang
  6. Menggunakan ketajaman indera karena indera kita adalah jendela makna

Kalau dulu kehadiran saya mirip uang receh – ada syukur, nggak ada ya nggak apa-apa, sekarang anak-anak nggak tahan berlama-lama jauh dari saya.  Kalau dulu saya dibilang Godzilla, sekarang saya dibilang Cool Mama bahkan Best Friend segala.

7 bulan sudah hubungan saya dan anak-anak membaik, dan itulah yang membuat respon saya ketika harus berada jauh dari mereka pun berbeda dengan respon saya dulu karena saya menyadari kalau profesi utama saya itu adalah ibunya mereka.  Allah nggak akan nanyain tentang seberapa professionalnya saya sebagai wanita karir sebelum menanyakan tentang seberapa professionalnya saya sebagai ibu dan istri kan?

Otak saya belum geser, tapi mindset saya tentang siapa saya sebenarnya udah lumayan geser.  Ketika peta mental saya bisa saya perluas, saya jadi punya banyak opsi untuk merespon situasi.  Semakin luas peta mental kita, semakin mudah kita memahami siapa diri kita dan apa purpose kita di dunia ini.  Dan semakin kita memahami purpose kita, semakin kita tau harus jalan kemana.

Kalau Godzilla aja bisa berubah, apalagi manusia?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s