No More My Way or The Highway

parental-coaching
Picture reference: robingustine.com

Sore hari Kamis kemarin saat saya sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah, saya menerima telpon dari Aya.  Biasanya dia akan nelpon kalo butuh sesuatu untuk di beli on the way saya pulang.

 

“Ma, weekend ini kita mau ngapain?” tanya Aya.

Belakangan anak-anak memang sering banget nanya program weekend kita satu atau dua hari menjelang hari Sabtu, hal yang jarang banget dilakukan mereka tahun-tahun sebelumnya.

“Mama ada resepsi pernikahan Tante Widi hari Sabtu ini.  Tapi Minggu nggak ada apa-apa.  Ada apa, Kak?  Mama cuma mau nganter papa aja ke airport,” jawab saya.

“Okay…,” lanjut Aya, kemudian dia terdiam.

Saya jadi bingung, kenapa tiba-tiba dia diam.

“Ada apa kak?” tanya saya penasaran.

“Ma, boleh nggak Aya beli kacamata lagi.  Kacamata Aya ilang.  Aya lupa tadi ditaruh dimana di sekolah.”

Rupanya ini yang membuat dia terdiam.  Sepertinya dia ragu mau ngasih tau saya kalau dia sudah menghilangkan barang sepenting kacamata.  Dia tau kalau saya pasti akan ngamuk jika tau ada barang miliknya yang hilang.  Saya akan merepet panjang lebar, menceramahi dia tentang betapa pentingnya menjaga barang karena barang tersebut dibeli pakai uang hasil kerja keras saya, dan bukan dibeli pakai daun pisang, daun sirih, daun kelor, daun pintu atau dedaunan lainnya.  Diujung hardikan saya biasanya muncul kalimat:

“Kamu tuh belum ngerasain sih susahnya nyari uang!”

Kalimat saya tersebut nggak tepat kalau dilihat dari pemilihan katanya dan penggunaannya.  Nyari uang itu gampang kok buat anak-anak, yang susah itu menghasilkan uang.  Dari sisi penggunaannya, bagaimana anak-anak akan tau susahnya nyari uang, wong umurnya aja belum cukup untuk nyari uang sendiri.  Bisa-bisa saya dituduh mengeksploitasi anak dibawah umur kan kalau anak-anak saya suruh bekerja.  Pantesan aja mereka nggak paham pentingnya menjaga barang milik mereka masing-masing agar tidak hilang.

Tapi itu semua dulu lho.  Saya kan udah bukan Godzilla lagi.  Jadi waktu Aya bilang kacamatanya hilang dan dia minta dibelikan kacamata lagi reaksi saya adalah:

“Okay.  Hari Minggu ya, karena mama mau bantu Ibu Dubes dulu hari Sabtu di pernikahan Tante Widy.  Tapi sebelum kamu mama belikan kacamata baru, kasih tau mama dong apa yang harus kamu lakukan supaya nanti kacamatanya nggak hilang lagi?” ujar saya santai.

Wait… wait….!  You’re not mad?  Mama nggak marah?” tanya Aya seperti nggak percaya.

Meskipun saya udah jarang sekali ngomel, anak-anak masih suka mengkonfirmasi seperti ini, memastikan kalau saya emang udah bukan momzilla.

“Ya nggak lah.  Kalau hilang ya hilang, innalillahi wa innailaihi rojiun, ngucap gitu aja Ay. Apa gunanya mama marah. Tapi bukan berarti mama fine fine aja ya kamu ngilangin barang.  Yang penting next time kamu tau apa yang harus kamu lakukan untuk menjaga kacamata kamu supaya nggak hilang, atau rusak,” jawab saya santai.

Cool!  You are a real cool mother.  Okay… here’s what I’m going to do.  Aya akan taruh kacamata di tas Aya kalau Aya mau wudhu dan sholat di sekolah, atau bisa titip kakak guru.  Mama juga bisa beliin rantai kacamata ma, biar kalau nggak dipake kacamatanya bisa dikalungin di leher supaya nggak hilang, atau nggak jatuh,” jawab Aya.

Good.  Jadi mulai nanti pas kamu dapet kacamata baru dan seterusnya, kamu akan lakukan apa yang kamu katakan barusan ya Ay.”

Of course!” tegas Aya penuh keyakinan.

Great.  Then see you at home ya.  Mama udah mau pulang nih.”

Okay, ma.  Love you!” Aya menutup percakapan di telpon sore itu

Apa yang terjadi?  Tanpa harus menceramahi dia dan menyuruhnya menyimpan kacamata dengan baik dan benar menurut saya, Aya bisa keluar dengan solusi terbaik buat dirinya supaya lain kali kacamatanya nggak hilang lagi.  Tanpa harus menyatakan pada dia berkali-kali kalau saya nggak suka dia ngilangin kacamatanya dan memaksanya berjanji untuk tidak mengulang kelalaian seperti itu, Aya dengan penuh keyakinan meyakinkan saya kalau dia akan melakukan solusi yang sudah dia katakan pada saya tadi.

Apa yang saya lakukan?  Parental coaching.  Saya ingin Aya lebih bertanggung jawab terhadap barang miliknya, dalam hal ini kacamatanya.  Namun saya ingin Aya sendiri yang keluar dengan solusi, karena mencekoki anak dengan solusi berarti saya merusak fitrahnya untuk bertanggung jawab.  Dulu boro-boro deh begini, everything has to be my way kalo nggak lengkingan suara saya bisa kedengeran sampai highway.

Kenapa saya nggak marah dan menunjukkan pada dia kalau menghilangkan barang itu tidak baik?  Saya menunjukkannya dengan mengatakan “Tapi bukan berarti mama fine fine aja ya kamu ngilangin barang”.  Kata ‘tapi’ seolah-olah mendelete kalimat sebelumnya, dengan demikian Aya tau kalau saya tidak suka dia ngilangin kacamatanya, hanya saja ketidaksukaan saya tersebut dinyatakan dengan cara yang lebih elegant, tidak dengan marah-marah seperti dulu.

Besoknya di hari Jumat Aya laporan, “Ma kecamatanya ketemu, jadi nggak usah beli kacamata but I will still do what I told you.”   Saya perhatiin memang itu kacamata selalu bertengger di hidungnya, saat wudhu kacamata tersebut juga nyelip di kantongnya (berhubung saya belum membelikan rantai kacamata).  Artinya dia benar-benar konsisten dengan apa yang dia ucapkan.

Enak ya, tanpa urat leher, tanpa memaksa pita suara untuk kerja keras dan tanpa emosi negatif nyuruh anak untuk bertanggung jawab ternyata nggak susah.

Kita sering memakai teknik coaching di kehidupan professional kita.  Kalo di kantor kita sering coaching anak buah, kenapa kita tidak coach anak kandung?  Dengan coaching nggak ada lagi tuh yang namanya my way or the highway.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s