Kesaktian Sebuah Perjanjian Tertulis

Sejak saya kecil, saya selalu memelihara binatang.  Kucing, anjing, kelinci, marmut sampe burung hantu juga pernah saya pelihara.  Sekarang setelah punya anak, keluarga kecil saya pun memiliki 2 ekor kucing Persia yang saat ini masih menemani suami di Yangon, bernama Slavko dan Ma Wei.

Slavko saya beli di sebuah pameran Flora & Fauna tahun 2012 yang lalu bertepatan dengan diadakannya UEFA Euro 2012 yang diselenggarakan di Polandia dan Ukraina.

Ukraina punya arti tersendiri bagi saya, suami dan Aya karena Kiev ibukotanya pernah menjadi tempat kami melabuhkan kehidupan keluarga kecil kami selama 4 tahun lamanya.  Selama tinggal disana pun, kami memelihara seekor kucing Persia bernama Meong.  Sayangnya, Meong tidak kami bawa pulang ke Indonesia.

Kenangan akan Kiev masih sangat melekat di hati kami.  Makanya kucing yang saat di beli baru berumur 3 bulan tersebut kami beri nama Slavko, nama salah satu maskot EURO 2012 yang juga typical nama orang di negri yang kalau winter dinginnya sama seperti berada di dalam freezer atau kulkas.  Slavko pun saya bawa pindah ke Yangon.

mtf_iuZjZ_331
Slavko on the way to Yangon

Beberapa bulan setelah saya dan Slavko tiba di Yangon tahun 2013, si uda membeli satu ekor kucing berjenis Burmese dan bernama Ma Wei.  Ma artinya mbak dalam bahasa Myanmar.  Kalo namanya di Indonesiakan jadi Mbak Wei karena pet shop yang menjual Ma Wei ngotot kalau dia betina, padahal jelas-jelasan itu kucing jantan…. gagal paham lah saya pokoknya.

Karena kucing sudah terbiasa hadir dalam kehidupan saya, maka Aya dan Yai pun juga ikut terbiasa memiliki kucing peliharaan.  Secara umum kedua anak ini memang penyayang binatang.  Kucing liar yang sering mampir ke rumah juga sering mereka kasih makan.  Maka nggak heran kalau mereka sangat sayang dan perhatian pada Slavko dan Ma Wei, wong sama kucing liar aja mereka perhatian.

IMAG0198.jpg
Ma Wei the Furr Ball

Dalam memelihara binatang, perhatian aja tidaklah cukup.  Komitmen untuk membersihkan kotorannya, memberi makan sampai soal grooming haruslah dipikirkan dan kemudian dilaksanakan.  Kesalahan kami diawal adalah pada saat membeli binatang komitmen tersebut tidak dibuat sehingga sense of ownership kami sekeluarga masih harus ditingkatkan terutama kalo udah urusan bersihin kotoran.

Lalu suatu hari Aya memohon untuk membelikannya Sugar Glider karena dia naksir berat sama Sugar Glider jinak yang dia lihat di acara bertema Flora & Fauna di sekolahnya.  Diajaknya Yai untuk bersekongkol memohon pada saya.  Ngeliat betapa imutnya Sugar Glider yang dia pamerin ke saya, saya pun ikutan naksir binatang marsupial yang menurut Mbak Google merupakan sepupu jauhnya Kanguru itu.

IMAG0906.jpg“Minta ijin papa dulu deh.  Kalo boleh ya kita beli, tapi kalo nggak ya nggak usah ya,” ucapku pada mereka.

“Yaelah ma.  There is no point asking papa because he will certainly say ‘yes’.  You’re the one who says ‘no’ more,” ujar Aya sambil menertawakan saya.

Dan Aya pun benar, si uda mengijinkan anak-anak untuk punya Sugar Glider.  Tapi meskipun si uda udah menyetujui, saya nggak serta merta mengiyakan keinginan mereka.

“Aya, Yai, Sugar Glider itu emang lucu banget.  Yang udah gedenya juga masih lucu.  Tapi Sugar Glider itu nggak seperti kucing.  Artinya cara ngurusnya juga pasti ada perbedaan dengan cara ngurus kucing.  Jadi sebelum kita beli, kalian research dulu deh tentang Sugar Glider,” pinta saya.

Mereka langsung ngibrit bertanya pada mas-mas pemilik Sugar Glider yang di pamerin di sekolahnya, dan tak lama kembali dengan informasi tentang Sugar Glider.

“Udah, ma.  Sugar Glider makannya bisa bubur bayi, sesekali dikasih cacing buat asupan proteinnya dan buah yang manis, biasanya pepaya.  Nggak perlu dimandiin juga lho ma, nggak seperti kucing.  Trus, mereka itu perlu bonding sama kita.  Mereka di taruh di bonding pouch gitu ma, jadi kita bisa bawa kemana-mana sambil bonding.  Kalo kucing kan setelah bonding masih suka cuek.  Sugar Glider itu kalo udah bonded mereka clingy ma.  Kucing kan nggak clingy,” jawab Aya.

Hmm… banyak juga informasi yang mereka dapatkan, dan rupanya mereka masih lanjut mencari tau tentang Sugar Glider sehingga begitu acara Flora & Fauna di sekolah mereka selesai dan kita siap untuk pulang, mereka berhasil meyakinkan saya untuk pergi ke pet shop dengan menjelaskan berbagai fakta tentang Sugar Glider.  Tapi sekali lagi, saya mencoba untuk stalling supaya mereka nggak langsung beli saat itu juga.

“Guys… kalian akan bikin komitmen baru lho dengan punya binatang peliharaan baru.  Apa yang akan kalian lakukan supaya nanti kalo kalian jadi beli Sugar Glider, kalian bisa memastikan Sugar Glidernya keurus?”

“Kita bikin jadwal ngurusnya.  Jam berapa bersihin kandangnya, jam berapa dia makan, dan jam berapa dia bonding saya Aya dan sama Yai.  Seminggu sekali kita beli persediaan pepaya karena Sugar Glidernya akan sharing pepaya sama inyik juga.  Kita akan bikin agreement,” jawab Aya di ikuti anggukan Yai.

“Oke, karena kalian udah janji, kita ke pet shop sekarang.”

IMAG0911.jpg
Our Percy

Seperti yang sudah saya prediksi, Aya dan Yai nggak tahan dong liat Sugar Glider anakan yang umurnya baru 2 bulan, umur yang pas untuk di adopsi.  Patungan, mereka beli binatang tersebut lengkap dengan bonding pouch, kandang, mainan dan cacing kering menggunakan jatah uang jajan mereka untuk bulan Desember – judulnya cash advance lah.  Meskipun jatah uang jajan mereka habis setengah untuk beli Sugar Glider dan perabotannya itu, tapi saya dapat melihat kebahagiaan dan excitement yang luar biasa.  Saking excitednya, dalam waktu kurang dari 15 menit di perjalanan pulang pun si Sugar Glider sudah punya nama: Percival Harryansah – atau Percy.

On the way pulang, kami mampir di supermarket untuk membeli pepaya dan makanan bayi.  Setibanya di rumah, mereka langsung berbagi tugas.  Yai menyiapkan kandangnya dan Aya menyiapkan makanannya kemudian menyuapi Percy dengan tangannya sendiri.  Kata Aya, “biar dia nyium bau Aya ma, bondingnya jadi lebih cepet.”imag0913_1

Yang dikatakan Aya memang benar.  Dalam waktu satu hari saja, Percy udah nempel dengan kedua anakku itu.  Dan tidak lupa dengan janji mereka, sebuah perjanjian lengkap dengan jadwal pengurusan Percy pun ditulis di selembar kertas yang mereka tandatangani.

Apakah mereka konsisten dengan apa yang mereka sudah janjikan?  Alhamdulillah, tidak sehari pun mereka lewati tanpa menunaikan tanggungjawab mereka terhadap Percy.  Binatang kecil itu pun luar biasa nurutnya dengan Aya, Yai dan saya.  Khusus dengan Aya, Percy tampaknya punya kedekatan khusus karena setiap melihat atau mencium bau Aya, dia akan langsung loncat ke pelukannya dan langsung ngumpet di kunciran rambutnya.  Mungkin Percy menganggap rambut Aya yang memang tebal banget itu seperti daun di pohon, habitat asli Sugar Glider.

Ternyata mengajarkan anak untuk bisa lebih bertanggungjawab itu gak perlu sampe harus adu mulut, mempertegang urat leher dan mengeksploitasi pita suara.  Yang saya lakukan disini adalah:

  1. Meminta mereka untuk mencari fakta tentang Sugar Glider agar mereka tahu komitmen seperti apa yang dibutuhkan untuk merawat Sugar Glider
  2. Menempatkan mereka sebagai ‘expert’ yang sudah paham tentang Sugar Glider dan meminta mereka untuk memberitahu apa saja yang akan mereka lakukan dalam mengurus Sugar Glider
  3. Membuat agreement yang ditandatangani bersama menempatkan mereka pada posisi terikat dengan janji mereka sendiri.

Cukup dengan tiga langkah yang saya lakukan tersebut, mereka langsung punya kesadaran sendiri untuk melakukan apa yang telah mereka janjikan.  Karena saya sudah membuktikan kesaktian sebuah perjanjian tertulis, next saya akan buat perjanjian lagi dengan mereka untuk bersama-sama mengurus Slavko dan Ma Wei yang akan segera bergabung dengan kami di Jakarta atas permintaan Aya dan Yai.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s