Children See, Children Do

angry-child
cnn.com

Jari-jari tangan saya asik menari diatas keyboard laptop yang selalu setia menemani momen-momen indah mempersiapkan sharing session parenting, kegiatan yang merupakan booster semangat saya beberapa bulan belakangan ini.  Hari sudah menunjukkan pukul 9.30 malam, waktu yang cukup larut untuk bekerja padahal badan pun rasanya masih nano-nano antara capek karena sedang recovering dari flu dan capek karena baru jadi supir anak-anak ke toko buku.  Tapi begitulah ritme kerja otak saya yang produktif di pagi hari atau malam hari.  Biasanya kalau sedang asyik tenggelam dengan pekerjaan atau materi parenting, apa yang terjadi di sekitar saya jarang sekali akan menarik perhatian saya kecuali jika kuping ini mendengar teriakan dari anak-anak atau suara-suara yang tak lazim terdengar di telinga, seperti suara ting ting ting dari tukang sekoteng atau dok dok dok suara penjual nasi goreng.

Malam itu yang saya dengar adalah suara PLETAAAAKKK yang datang dari lemari buku di dalam kamar.  Lemari buku itu baru saja menjadi sasaran lempar HP oleh Yai, bungsu saya yang hampir berusia 8 tahun.  Kejadian ini tertangkap mata saya dan suara pletak yang tidak tepat untuk hadir pada waktu itu seakan membuat daun telinga saya melancip bagai telinga kaum Elf di Lord of The Ring.

Bagaikan tombol pembangkit aliran listrik, emosi saya tersengat yang menghasilkan rasa kesal.  Apa yang saya pikir saya tidak perhatikan sebelum pelemparan HP tersebut terjadi tiba-tiba muncul semua dalam pikiran saya bagai film yang sedang diputar di bioskop.

Jam 9.30 malam anak-anak ini masih aja berantem!  Kakak ini gimana sih, senang sekali gangguin adeknya.  Yai juga nih, begitu aja marah pake lempar-lepar HP segala.  Kartu mainan aja kok bisa jadi rebutan sih.  Nggak paham apa kalo saya butuh fokus nyiapin materi sharing besok!

Ah… suara-suara berisik itu muncul lagi.  Kali ini berisik noel-noel otak reptil saya untuk bereaksi.  Darah perlahan mulai naik, panas mendidih menggelegak di hati.  Si reptil mulai beraksi, berusaha menggerakkan kedua tangan ke kuping Aya dan Yai.  Tapi tiba-tiba bagai diguyur air es, saya tersadar.

Git… inget pelajaran cuy!  Besok mau sharing masih begini juga?  Pantes nggak sharing parenting kalo elu masih membiarkan si reptil merajalela?  Kalo nggak malu sama diri sendiri, malu sama laptop aja deh… liat tuh, jelas-jelas tertulis KESALAHAN PARENTING!

Dari sebelah kanan atas kepala saya tiba-tiba muncul bisikan-bisikan dengan nada ngeledek dan nyeleneh bikin nafsu tapi justru sangat mampu nendang si reptil mental ke tempatnya.  Saya tarik napas dalam dan rasa adem pun menjalar di sekujur tubuh namun terasa hangat di dalam hati.

“Kakak, I need to speak to Yai.  Could you please leave the room for a moment?” pinta saya lembut tapi tegas.

Aya sudah paham dengan nada bicara saya yang seperti ini.  Tanpa membantah dia meninggalkan kamar saya, sementara Yai yang tetap berdiam diri mematung ditempatnya tampak sedikit bergidik ketakutan.  Mungkin dalam hati dia bergumam seperti ini, “Ouch!  Bakal dimarahin mama nih!”

Sebelum saya melanjutkan cerita saya tentang kejadian malam itu, mungkin saya perlu jelasin tentang Yai terlebih dahulu.  Sebagai anak bontot, tentu saja keberadaan Yai bersama saya lebih sedikit dari kakaknya.  Sayangnya dalam kurun waktu 7 tahun lebih umurnya itu, Yai lebih sering melihat saya sebagai seorang Godzilla atau ibu yang menyeramkan ketimbang sebagai ibu yang lemah lembut jauh dari kata galak.  Meskipun secara umum Aya lebih banyak menjadi korban bully saya, tapi setidaknya Aya sempat menikmati Gita yang menyenangkan saat kami tinggal di Kiev dulu karena boleh dikatakan kehidupan kami selama disana memang cenderung menyenangkan, bebas dari tuntutan dan ocehan keluarga dan Aya merupakan satu-satunya perhatian saya saat itu.  Sedangkan Yai, ketika dia sudah mulai paham kata-kata, kata-kata keras dan kencanglah yang lebih sering dia dengan keluar dari mulut saya karena sejak kembali ke Indonesia saya tidak mampu mengerangkeng otak reptil saya.  Saya pun menjelma menjadi seekor reptil betina.  Maka mama samadengan Godzilla, reptil raksasa rekayasa manusia, termasuk saya.

Jika Aya tipenya mudah memaafkan dan melupakan, tapi tidak dengan Yai meskipun secara umum Yai tampak lebih cuek dengan urusan emosi.  Seringkali dalam percakapan kami berdua, Yai mengajak saya untuk mengingat momen ngomel-ngomel saya padanya yang saya sendiri sudah lupa.  Seringkali ketika saya mengajaknya untuk berbicara baik-baik dan lemah lembut terutama pada kakaknya, dia dengan cuek bilang, “mama juga galak kalo ngomong sama kakak.”

Kalau sudah begini, saya bagai tertikam sebilah pedang Samurai, berdarah-darah nggak karuan.  Biasanya saya langsung ngeles, “sorry deh dek, dulu kan mama belum ketemu Tante Oki, belum belajar parenting.”

Anak mungkin akan lupa dengan apa yang dia dengar, tapi dia tidak akan pernah lupa dengan apa yang dia lihat dan rasakan.  Kalau malam itu dia banting HP, itu karena dia belajar dari saya yang bukan hanya suka banting tulang, tapi juga suka banting pintu, banting barang,…. dulu.  Tetapi… Children see, children do.

Begitulah Yai.  Ketika hubungan saya dengan Aya sekarang mengalami peningkatan yang stabil, hubungan dengan Yai masih pasang surut.  Kadang saya masih sulit untuk bisa memahami anak yang satu ini.  Dan malam itu secara tiba-tiba nasehat Aya yang pernah dia ucapkan pada saya muncul dalam ingatan.

“Ma, don’t repeat the same mistake you made when I was Yai’s age.  Spend more time with her, talk to her not just say things to her.  Listen to her, not just hear what she says.”

Itulah ucapan Aya yang meningkatkan kesadaran saya.  ABG saya yang dua bulan lagi akan berumur 12 tahun itu memang sering memberikan nasehat pada saya sejak hubungan kami semakin erat.

Saya tatap Yai yang masih bergidik takut dimarahi dengan tatapan iba karena saya berusaha memahami kekesalannya menghadapi si kakak yang dengan keisengannya sengaja menolak untuk mengembalikan kartu 4D tentang berbagai profesi yang baru saja dia beli di toko buku.

“Sini dek, deket-deket mama yuk,” ucap saya sambil menepuk kasur disisi sebelah saya duduk.

Yai berangsur-angsur ngesot mendekati saya dan duduk disamping saya.

“Ceritain ke mama dek, apa yang barusan terjadi?” tanya saya.

“Kakak nakal, ma.  Card Yai yang King diambil kakak, trus waktu Yai minta kakak nggak mau balikin ke Yai,” ucapnya perlahan.

Air mata mulai menetes di pipinya.

“Oh begitu ya dek.  Emangnya ada berapa card yang diambil kakak?”

 

“Cuma satu.  Tapi kan Yai pengen card itu juga,” jawabnya.

“Coba kita hitung, berapa jumlah card yang Yai punya dan kita bandingin sama card yang kakak punya.  Satu… dua…,” lanjut saya sambil mengajak Yai menghitung jumlah kartu yang total ada 13.

Yai ikut menghitung kartu tersebut satu per satu.

“13 dek… banyak ya.  Kakak cuma punya satu lho, jadi banyakan punya Yai,” ucapku sengaja membandingkan jumlah kartu yang Yai miliki dengan yang dimiliki Aya.

“Iya, ma.  Tapi Yai kesel soalnya kakak selalu seperti itu ke Yai,” lirih Yai menjelaskan perasaannya dan apa yang menyebabkan perasaannya jadi kesal.

Saya paham betul kalau Yai memang kerap dibuat kesal oleh Aya yang karena keusilannya kerap sengaja melakukan kebalikan dari apa yang diminta oleh Yai.

“Mama paham banget Yai sekarang lagi kesel, makanya Yai jadi nangis.  Sini mama peluk.  Sambil mama peluk, Yai dengerin suara di dada mama ya dan sambil dengerin Yai tarik napas pelan-pelan.”

Yai mendekat dan memeluk saya dengan erat.  Kupingnya tepat berada di dada saya sehingga dia bisa mendengar detak jantung saya.  Ditariknya napas dalam-dalam, perlahan-lahan.

“Good girl.  Sambil terus napas pelan-pelan, Yai semakin tenang,” ucap saya pada Yai sambil mengusap-usap punggungnya ketika napasnya mulai lebih tenang dari sebelumnya.

“Nah, pinter deh anak mama udah bisa nenangin diri sekarang.  Jadi airmata Yai berenti deh tuh.  Masih kesel nggak, dek?”

Yai menatap saya.  Sambil tersenyum dia menggeleng dan berkata, “Nggak lagi.”

Nada bicaranya jauh berbeda, kali ini sudah lebih riang.

“Next time, kalau Yai kesal apa yang harus Yai lakukan?” tanya saya.

“Peluk mama aja,” jawabnya tersipu malu.

“Kalau lagi nggak ada mama?” tanya saya lagi.

“Hmm… bisa peluk bantal guling, atau peluk inyik, atau peluk iti,” jawabnya memberikan alternatif.

“Good girl.  Itu baru namanya keren.  Toss dulu yuk.”

Dan kita pun toss tapi percakapan belum berenti disitu.  Sekarang karena emosinya udah stabil, saya bisa ngebahas masalah penganiayaan HP yang dia lakukan tadi.

“Ngomong-ngomong, HP Yai apa kabar tuh, dek?”

“Jangan-jangan HP Yai rusak, ma,” ujar Yai sedikit cemas.

“Nah, jadi kalau kesel pake lempar HP seperti tadi rugi nggak dek?” tanya saya lagi.

“Iya ma,” jawab Yai sambil lari mengambil HP-nya.

“Phew… tapi nggak rusak ma HP-nya!” ucap Yai kegirangan.

“Alhamdulillah, Allah masih sayang tuh sama Yai karena HP-nya belum diijin untuk rusak.  Besok-besok saat kesel, Yai udah punya cara yang lebih ok kan biar ilang keselnya?”

“Iya.  Yai peluk mama, atau peluk bantal, atau inyik atau iti.”

“Promise?”

“Pinky promise.”

Dulu waktu Yai kesal seperti ini, saya juga suka ikut kesal.  Aneh ya, kok kesel disukai?  Dan kalau saya udah kesal, kebayang kan seperti apa percakapan saya dengan Yai selanjutnya?  Bisa panjang kali lebar dan muter lagi dari awal.

Dalam proses perubahan cara saya berkomunikasi, ngebujuk Yai untuk nggak ngambek yang dulunya bisa lama pun berangsur-angsur jadi lebih sebentar.  Dan malam itu sepertinya saya cuma memakan waktu 5 untuk menghentikan tangisnya dan di menit ke 8 Pinky Promise terucap oleh Yai.  Dalam waktu kurang dari 10 menit Yai udah main lagi sama Aya yang seperti memang hanya iseng aja tadi itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s