Life is Like Dining in a Sushi Bar

sushi-bar
Image from Sushiroba.co.uk

Hujan deras mengguyur kota Jakarta siang itu.  Hari Minggu memang hari khusus anak-anak dan siang itu kami makan di sebuah Sushi Bar dekat rumah.  Piring-piring berisi berbagai jenis sushi, sashimi dan makanan Jepang berukuran bite size lalu lalang di depan kami bagai pragawati.  Sebagai penggemar salmon sushi dan sashimi saya dan Aya menunggu si salmon lewat dan tanpa sengaja saya membiarkan sebuah piring berisi salmon sashimi lewat begitu saja karena pikiran saya sedang terbang jauh ke tanggal 4 January yang lalu.

Malaysia Airlines MH 741 itu sebentar lagi akan berangkat.  Hari tepat pukul 11.15am saat saya dan anak-anak ngantri untuk masuk ke dalam burung besi milik negri jiran yang akan membawa kami pulang ke Tanah Air.  Kali ini kepulangan kami ke Indonesia merupakan kepulangan permanen sebagai anak dan istri seorang diplomat Indonesia yang selama lebih dari 3.5 tahun menjadikan Yangon sebagai rumah, meskipun mudah-mudahan kami bisa bertandang lagi di masa depan.  Pikiran dan hati pun menerawan jauh ke saat pertama kali saya menjejakkan kaki di Negeri Seribu Pagoda tersebut.  Dipikir-pikir, hidup saya ini macam pelanggan sebuah Sushi Bar.

Setiap mendapatkan tawaran penempatan, saya biasanya yang excited untuk berangkat.  Nggak peduli ke negara apa, pokoknya berangkat.  Nggak perlu mikir, pokoknya berangkat.  Nggak perlu pertimbangan apa-apa, pokoknya berangkat.  Semakan abal-abal negaranya, semakin semangat saya untuk untuk berangkat.  Dan saya memilih untuk nggak pikir panjang karena kalau menolak bisa-bisa kita harus nunggu tawaran berikutnya yang kadang entah kapan akan tiba, mirip dengan penantian saya terhadap salmon sashimi yang terlewatkan dan tak kunjung lewat lagi di depan kami siang itu.

Ketika tiba di Yangon, niat saya sebenarnya hanya ingin menjadi ibu rumah tangga meskipun tawaran menjadi tenaga pengajar saya terima.  Hilangnya kesempatan untuk dekat dengan anak-anak selama saya bekerja di Jakarta menjadi pendorong keberangkatan saya ke Yangon.  Kalau bukan karena ingin menebus kesalahan pada mereka, mungkin saya akan lebih memilih tinggal di Jakarta.  Sebulan, dua bulan, hari-hari berlalu begitu saja dan saya pun mulai jenuh dengan kehidupan dan kegiatan monoton tanpa tantangan, mengharapkan pekerjaan sebagai tenaga pengajar di sekolah yang sempat dijanjikan sampai suatu hari seseorang menawarkan saya pekerjaan sebagai Recruitment Consultant.  Tanpa pikir panjang, saya ambil juga kesempatan ini, karena kalau saya terus menunggu pekerjaan yang semula dijanjikan untuk saya dan ternyata sampai akhirnya saya meninggalkan kota Yangon pekerjaan itu tidak pernah saya rasakan, saya akan kehilangan kesempatan belajar yang berharga buat saya, mirip dengan hilangnya kesempatan menyicipi jenis makanan Jepang berukuran bite size lain yang lewat di depan mata kami karena kami tetap berharap salmon sashimi akan lewat.

Saya bilang hidup saya sebagai ibu rumah tangga monoton tanpa tantangan karena seperti itulah saya melihat profesi ibu rumah tangga, dulu.  Alih-alih kepingin mendekatkan diri dengan anak-anak, pekerjaan baru menyita banyak waktu.  Kegiatan di lingkungan KBRI dengan Dharma Wanitanya pun menyita banyak waktu apalagi saat itu ASEAN Summit menjadi jantung kegiatan kami.  Ujungnya saya asyik dengan kehidupan saya dengan berbagai kegiatan di dalamnya, anak-anak pun asyik dengan kehidupan mereka sampai suatu hari saya nyadar bahwa titel Mother to Mazaya & Maliha hanya sekedar titel belaka setelah saya kejedug sendiri dengan cara saya mendidik dan mengasuh mereka selama ini.  Sensasinya mirip dengan sensasi kemakan wasabi.  Kalau saya tidak segera berubah, entah seperti apa hubungan saya dengan anak-anak dan entah apa pendapat mereka tentang saya sebagai ibunya.  Saya akan kehilangan kesempatan menjaga potensi baik mereka karena lingkungan bahkan saya sendiri mungkin keburu merusaknya.  Kesalahan yang dibuat menumpuk tanpa saya sadari, mirip dengan tumpukan piring sushi berbagai warna yang kami comot saat dia lewat karena makanan yang tersaji diatasnya mengundang selera.  Saat tagihan tiba di tangan, sensasi ngeliat harga yang harus dibayar juga mirip dengan sensasi makan wasabi.  What should I do?

Pertemuan dengan Mbak Okina di bulan April 2015 saat saya ikut program sertifikasi NLP Practitioner berlanjut kepada pertemuan dengan ibu-ibu hebat disebuah training Enlightening Parentingnya Mbak Okina di Bangkok setahun kemudian.  Ada emak dasteran yang baperan, ada singodimejo yang super galak dengan standar super tinggi, ada Coca Cola adict yang menjadikan Coca Cola bagai dewa, ada wanita karir yang kesulitan berkomunikasi dengan anaknya dan ada juga mommy OCD.  Ternyata saya bukan satu-satunya ibu konyol karena para fasilitator yang sekarang jadi sahabat-sahabat saya juga pernah jadi ibu konyol.  Mendadak saya nggak merasa sendiri dan terisolir.  Dan mendadak saya ngerasa ada dunia lain yang belum pernah saya explore sebelumnya.  Jujur aja, trainingnya Mbak Okina ini training yang paling bikin sakit hati, bikin pipi merah merona ketampar invisible hand dan bikin sport jantung . Ikut training Mbak Okina bikin saya pengen cepet-cepet keluar karena nggak sabar praktekin teknik-tekniknya. Jadi meskipun saya babak belur dibuatnya, outcomenya nggak usah ditanya.  Kalo nggak percaya boleh tanya anak-anak saya.  Hanya diawali dengan kata maaf tanpa tapi, pintu hati si buah hati sudah terbuka, mengijinkan seorang mantan momzilla untuk kembali masuk ke dalamnya.  Saya pun bagai menemukan kehidupan baru padahal yang baru hanya cara saya menghadapi anak-anak.  salmon-rollYah kira-kira miriplah dengan nyomot sebuah piring  merah berisi salmon sushi dengan tampilan berbeda, warna piringnya sama dengan salmon sushi atau salmon sashimi yang biasa saya ambil, tapi ingredientnya aja yang sedikit berbeda.

Di awal tahun 2016, reality hit.  Nggak terasa waktu berjalan begitu cepat karena di penghujung tahun 2016 tugas suami akan segera berakhir dan kami semua harus pulang Jakarta.  Terus terang aja, agak ngeri juga ngebayangin kehidupan kami setelah Yangon.  Mungkinkah saya bekerja lagi setelah sekian tahun hilang dari peredaran?  Kalau ada tawaran, first come first serve, kerjaan apa pun selama halal akan saya ambil.  Dan belum setengah tahun berjalan, tawaran pun datang.  Seperti kata saya, first come first serve, itulah yang saya lakukan.  Mirip sekali dengan siang itu, ketika saya dan anak-anak sadar bahwa jam sudah lewat pukul 1, perut sudah sangat lapar dan emosi mulai terpengaruh, akhirnya apa pun jenis sushi, sashimi atau makanan lainnya yang lewat, ya kami ambil saja.

Ya, seperti itulah analogi kehidupan saya.  Di awal tahun 2017 saya nyadar kalau ternyata  Life is like dining in a susi bar, be flexible, prepared to explore.  Bagaimana dengan anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s