Saat Coaching Harus di Kacangin

kacang“Ma, Aya nominated untuk ikut speech competition,” lapor Aya pada saya hari Jumat seminggu yang lalu.  Badan dan jantung yang penat usai mengalami adu ketangkasan supir Gojek nyetir di kemacetan dari kantor menuju Gym tempat Aya dan Yai gymnastic seger seketika.

Aya itu paling nggak suka ikut kompetisi apa pun. Jadi meskipun udah di nominasiin, dia jarang banget  antusias. Beda dengan Yai yang selalu Happy Go Lucky kalo ada kesempatan tampil.  Tapi kali ini dia semangat karena ternyata Speech Competitionnya dalam Bahasa Inggris.

“Great, Kak! Mau mama bantuin latihan?” saya langsung nawarin diri dengan semangat membara.

Ini kesempatan yang langka. Kemauan Aya untuk ikut lomba pidato ini buat saya sudah merupakan kemenangan kecil karena setidaknya Aya udah mengalahkan sisi lain dirinya yang selama ini dominan ngomporin untuk jauh-jauh dari yang namanya lomba padahal Aya pernah jadi pemenang speech competition dalam Bahasa Myanmar!  Bayangin, Bahasa Myanmar!

“Sure, why not? Tapi Aya harus pilih dulu topiknya dan tulis naskahnya. Kalo udah selesai nanti baru Mama bantuin Aya latihan speech, okay?” jawab Aya.

Dari empat topik yang ditawarkan, akhirnya Aya memilih topik yang menurut dia paling dia kuasai – ‘Indonesian culture influences the world’. Saya tanya sama Aya apa alasan dia memilih topik tersebut karena menurut saya topik yang dia pilih itu kurang provocative. Menurut saya seharusnya Aya memilih topik tentang pengaruh televisi terhadap anak-anak karena topik ini lebih kompleks.  Menurut saya kalau Aya milih topik yang lebih provocative dan kompleks, kemungkinan untuk menang lebih tinggi dibanding milih topik yang biasa aja.  Menurut saya, menurut saya, menurut saya. Dulu, yang menurut saya ini ya harus dituruti. Tapi sekarang, apa menurut Aya?  Saya harus kasih dia kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya, dan membuat keputusan sendiri. Dan ini jawaban dia:

“What’s the point of being the daughter and granddaughter of a diplomat then?”

Singkat tapi padat, dan saya paham maksudnya. Aya akan mampu bicara banyak tentang pengaruh kebudayaan Indonesia di dunia karena dia sendiri melihat dan mengalaminya, maka saya yakin isi naskah pidatonya nanti sedikit banyak diambil dari pengalaman dia pribadi dan menurut saya Aya akan bicara dari hatinya, bukan hanya dari mulutnya. Bukankah sebuah pidato atau speech yang baik adalah yang dibawakan dari hati?

Malam itu, meskipun badannya capek usai gymnastic dan yoga, Aya bersikeras untuk membuat naskah pidatonya dengan menggunakan beberapa pointer yang saya berikan.

img_0010Singkat cerita, naskahnya pun selesai dan sebagai mantan freaky mommy, sisa-sisa ke-freaky-an saya masih ada juga ternyata. Hati kecil saya masih kepingin Aya menang kompetisi tersebut. Karena salah satu faktor penilaian adalah konten naskah, saya langsung kirim naskah Aya ke sahabat-sahabat saya.  Kalau dulu, saya akan ngirim naskah Aya tanpa minta ijin anaknya. Tapi sekarang, saya minta ijin dulu sama pemilik naskah karena saya tidak mau mengacuhkan haknya atas naskah tersebut.  Bahkan saat feedback kami terima, saya serahkan keputusan untuk memperbaiki naskah sepenuhnya pada Aya.  Feedback dari sahabat-sahabat saya termasuk dari Kak Manda anaknya Mbak Arie pun diterima baik oleh Aya dan naskah final pun di-approved oleh gurunya.

Seminggu Aya latihan, hari kompetisi pun tiba.  Tepat pukul 7 pagi saya dan Aya tiba di SMP 131, Matoa.  Aya pun dipersilahkan untuk masuk ruang kelas tempat Speech Contest diadakan, sementara saya dan orangtua lainnya tidak diijinkan untuk masuk.  Terus terang aja, perut saya lumayan mules pagi itu terutama saat melihat segerombol anak-anak dari sebuah sekolah yang bahasa pengantarnya saja Bahasa Inggris dan prestasi sekolahnya juga terdengar sampai ke luar negeri segala.

Lomba pun dimulai tepat pukul 8.  Nomor undian 1 pun maju.  Seorang anak entah dari sekolah mana.  Bahasa Inggrisnya lancar, pronunciation anak itu bagus, dan dia membawakan materinya TANPA NASKAH!  Hati saya berdetak, feeling saya mengatakan kalau saat itu Aya mulai panik melihat peserta pertama ini tampil tanpa naskah.  Tiba-tiba anak tersebut stuck, lupa total di menit-menit terakhir hingga akhirnya dia harus menutup speechnya tanpa konklusi.  Ah, Aya pasti tambah panik, pikir saya dalam hati.

Karena nomer undian 2 tidak ada yang mengambil, otomatis Aya mendapat giliran berikutnya.  Kepanikan terpancar dari raut mukanya.  Dihampirinya juri-juri yang duduk di depan ruang kelas.  Udah mulai aja Ay, nggak usah nanya-nanya sama jurinya soal pake naskah atau nggak.  Di terms and condition lomba tidak ada aturan harus menghafal naskah, jerit saya dalam hati.

Dari balik kaca jendela kelas saya hanya bisa memperhatikan raut wajah para juri tersebut yang campuran kaget dan merendahkan, sementara self talk mulai jejeritan.  Aya sangat visual, dia mudah sekali terpengaruh dengan apa yang dia lihat.  Saya aja yang dari jauh bete melihat wajah mereka, apalagi Aya yang dengan jelas bisa melihat perubahan raut wajah juri-juri itu.

Dengan langkah sedikit gontai, sambil masih memegang naskahnya di tangan, Aya berjalan ke tempat yang ditentukan.  Suaranya nggak terlalu kedengeran, dan beberapa poin dalam naskahnya gagal diucapkan padahal dia memegang kertas naskahnya, confidence level Aya sudah terlanjur ikut bungee jumping murahan, terjun bebas dengan pengaman seutas tali rafia saja.  Meskipun demikian dia tetap mampu menyelesaikan speechnya in prompt u – tanpa naskah meskipun dia tidak 100% hafal kata per kata.

Tapi emosi saya keburu campur aduk.  Kesel karena aturan main lomba yang tidak jelas, menyayangkan tindakan Aya yang pake acara nanya-nanya sama juri segala, dan gregetan karena Aya tidak menggunakan naskah yang dia pegang selama dia tampil tadi.  Tanpa saya sadari, saya terjebak dalam kondisi menjadikan Aya sebagai trophy!  Celakanya, saya membiarkan kondisi tersebut bertengger dalam diri saya sehingga saat lomba selesai dan Aya bilang, “I didn’t do well, I messed up”, reaksi saya, raut wajah saya dan  kata-kata yang saya ucapkan tidak singkron.

“You did great,” ucap saya, datar dengan raut wajah nggak kalah datar dan dikatakan sambil  berlalu.

Aya mengikuti di belakang saya.

“Ma, Aya disappoint Kak Mashuri.  Waktu Aya bilang I didn’t do well, I could see his facial expression.  I could see the disappointment,” ucap Aya ketika kami menunggu mas Uber menjemput.

Dan inilah jawaban saya,”What can you do so next time you are competing you will do better and not disappoint your teacher?”

Kalau saya lagi ikut kuiz Family 100 atau Family Feud, pasti saat itu suara TETOOOOOOTTTTT super panjang dan kencang langsung terdengar.  Sayangnya saya lagi nggak ikut kuiz apa pun jadi telinga saya nggak denger atau mungkin menolak untuk mendengar bunyi alarm tersebut padahal otak saya udah ngasih sinyal bahaya yang diterima dari mata.

“There will not be next time, I am not gonna win because I flunked today,” ucapnya dengan nada datar dan raut wajah yang gak kalah datar.  Children see, children do, Aya mencontoh reaksi saya tadi dengan tingkat akurasi yang cukup tinggi.

“Ok, fine. But you still need to answer my question,” saya mulai maksa dengan nada naik satu oktaf.  Sepertinya tanduk udah mulai muncul perlahan.

Lagi-lagi TETOOOOOOTTTTT…..!  Tapi saya tetap menolak untuk mendengar suara alarm itu!

“I don’t wanna talk about it,” ucap Aya, masih datar.

Saya makin mendidih.  Untung mas Uber datang disaat yang tepat sehingga emosi negatif saya yang dulu banci tampil, nggak sempet tampil dan malah kalah dengan logika yang ternyata sekarang lebih banci tampil lagi!

Git…Git… coba deh kamu jadi Aya, tampil dengan kondisi yang gak sesuai rencana.  Jadi kalau dia panik ya wajar, kalau dia kecewa ya wajar.  Kamu jangan ikut-ikutan panik dan kecewa.  Dan… Coba ya, itu mulut sama muka diajak alignment meeting deh!

Duh, self talk saya barusan naboknya kenceng banget sampai dinginnya AC di mobil mas Uber gak terasa apalagi ngeliat reaksi Aya yang nolak di peluk, rasanya tuh seperti makan kripik Mak Icih level 10.  Pedesnya sampe ke hati!  Jadilah kami diem-dieman di mobil selama perjalanan pulang.  Dalam diam Aya sibuk membaca bukunya sementara saya evaluasi diri saya sendiri dan seperti biasa gangguin Cikgu dengan hasil evaluasi saya.

Dalam kondisi sama-sama gak siap, panik bisa meng-hijack emosi.  Jadi gak usah dipaksakan untuk membahas strategi baru, seperti yang saya lakukan tadi.  Kasih waktu untuk si panic pergi dan buka pintu buat si logic untuk kembali, tapi yang saya lakukan malah menutup pintu buat si logic kembali dengan maksa untuk membahas strategi baru dengan Aya.  Mengalihkan perhatian hati dan pikiran pada hal lain akan dengan sendirinya mengusir si panic atau emosi negatif lainnya, karena itulah yang terjadi, untungnya itulah yang kami lakukan dalam perjalan pulang ke rumah.

Cuma 30 menit aja Aya membisu, setelah itu dia kembali dengan celotehan analytical dia, kali ini membahas strategi apa yang akan dia lakukan kalau nanti ikut Speech Competition lagi.

“I think I need to remember my speech.  Karena kalo Aya hafal, Aya jadi lebih bebas bergerak.  Aya juga harus latihan ngomong, biar power suara Aya keluar.  Trus, Aya harus belajar intonasi supaya antara kata atau kalimat yang Aya ucapin diucapkan dengan intonasi yang mendukung kata atau kalimat tersebut.”

Ah, ternyata anak-anak itu sebenernya mikirin juga kok permintaan dan ucapakan kita.  Cuma kadang kitanya aja sebagai orangtua yang gak sabaran, kepengen mereka langsung jawab tanpa menghargai keinginannya untuk diberikan waktu berpikir.

Di tengah keceriaan dia ngebahas strategi barunya, saya pun terima whatsapp yang berbunyi:

Assalamualaikum ayah bunda… Hasil lomba di 131: Speech Contest juara 3 – Mazaya…

“Really?” reaksi Aya nggak percaya.  “Okay… I think itu karena jurinya yakin kalo Aya bisa ngomong pake Bahasa Inggris, Ma.”

“Maksud kamu?”

“Waktu Aya nanya sama jurinya boleh apa nggak baca naskah, Aya nanyanya pake Bahasa Inggris.  So Aya satu-satunya contestant yang terbukti bisa ngomong pake Bahasa Inggris tanpa naskah, dan salah satu penilaiannya kan di Language, Ma,” jelas Aya.

Hmm… Bener juga ya?  Lagi-lagi saya ketampar, nyesel karena meragukan keputusan yang dibuat sama anak sendiri.

Hari itu saya belajar banyak tentang diri saya.  Ternyata saya masih harus terus mengasah kemampuan untuk nggak egois, apalagi menjadikan anak sebagai trophy.  Ternyata saya masih harus terus mengasah kemampuan mengakali emosi negatif saya saat dia ingin tampil.  Ternyata saya masih harus terus mengasah kemampuan untuk percaya bahwa anak saya semakin mampu membuat keputusan untuk dirinya sendiri.  Dan memang benar, ketika emosi negatif masih tersisa, sebaiknya coaching kita kacangin dulu karena kalo tidak yang adalah adalah hanya kucing-kucingan dengan perasaan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s