Bagai Tempat Pengolahan Limbah

Acting
http://www.actingshowcase.com

Jadi ibu itu sebenernya mirip seperti jadi aktor yang bisa memerankan berbagai profesi mulai dari guru sampai peran sebagai tempat sampah dan tempat pengolahan limbah.  Ketika anak ujian, kita berubah jadi guru.  Saat anak cerita gossip-gossip trend masakini, kita berubah jadi teman sebayanya.  Waktu mereka sakit, kita berubah jadi dokter atau suster.  Dikala mereka butuh perlindungan kita ambil peran sebagai ibu dan ketika mereka sedang kesal, kita pun harus siap jadi tempat sampah yang menampung sampah-sampah pikiran negatif mereka dan mengolahnya sedemikian rupa hingga menjadi pikiran baru yang memberdayakan.  Itulah yang terjadi semalam.

Hari sudah menunjukkan pukul 11 malam.  Aya dan Yai masih belum tidur karena mereka menunggu saya pulang.

“Tuh kan, mereka nggak akan tidur sebelum kamu pulang.  Yai nggak akan tidur sebelum dibacakan bed time story,” ujar suara yang muncul di sebelah kanan kepala saya.

“Pulang semalam ini kan nggak setiap hari.  Lagian saya punya alasan yang valid untuk pulang malam dan saya juga udah minta ijin sama anak-anak dan suami kok,” balas suara lain dari sebelah kiri kepala saya.

“Yaudah, yang penting sekarang udah pulang.  Gih sana samperin anak-anak.  Temani mereka dulu,” tiba-tiba ada suara yang lebih nyaring lagi dengan ketegasan nada yang luar biasa.

Saya buka pintu kamar mereka.  Rupanya mereka berdua masih asyik belajar karena minggu ini adalah minggu UTS bagi mereka berdua.  Aya serius mengetik tugas Bahasa Indonesianya.  Sudah dua malam berturut-turut dia berusaha mengerjakan tulisan Fiksi dan Non-Fiksi dalam Bahasa Indonesia.  Hal ini bukan pekerjaan mudah bagi Aya yang sampai sekarang terus berusaha mengasah kemampuan menulis panjang lebar dalam Bahasa Indonesia.  Sedangkan Yai masih berkutat dengan contoh-contoh soal PKN dan Bahasa Inggris.

Mungkin karena perasaan kangen yang luar biasa, si uda yang juga ikutan pulang malam karena harus ngejemput saya pun langsung mencium kepala Yai.  Dengan bibir yang dimonyongkan dan suara mirip orang yang sedang menyeruput kopi, mendaratlah sebuah kecupan dikepala Yai yang disambut teriakan, “Papa…!  Go away!  Yai nggak suka dicium papa!”

Biasanya paling banter Yai hanya akan teriak jika menolak dicium papanya, namun karena badannya sudah penat, tangisannya pun pecah, meskipun tidak sampai meraung-raung.  Dan seperti biasanya, si uda dengan santai ngeloyor pergi meninggalkan Yai setelah sukses dibikin kesal.  Lepas dari Yai, Aya pun menjadi target kecupan uda berikutnya.

Aya yang konsentrasinya buyar akibat tangisa Yai mulai merasa kesal melihat gelagat papanya yang perlahan menghampiri dia.  Nggak kalah nyaringnya dari Yai, Aya pun teriak mengusir uda.

“Papa sana.  Sanaaaa…!!!” teriak Aya sambil beranjak dari duduknya, menghindari uda yang semakin mendekat.  Meskipun akhirnya uda beranjak meninggalkan Aya sambil mengumbar tawaan bernada ngeledek sebelum sempat memendaratkan kecupan di kepala Aya, tapi Aya udah keburu kesel dan buyar total lah fokusnya untuk ngerjain tugasnya.

Malam yang tadinya sunyi sepi, menjadi berisik seketika.  Saya yang sudah penat pun ikut penat hati dan telinga, saking penatnya saya tidak bisa berkata-kata.  Saya rasa para jangkrik yang sedang asyik bercengkrama diluar pun ikut penat telinga mendengarkan teriakan anak-anak karena seketika itu juga kicauan mereka berhenti, senyap tak terdengar lagi.  Bahkan mungkin ada yang kena serangan jantung juga!

Seperti itulah kondisi rumah di malam hari, hampir setiap hari sejak si uda kembali ke Jakarta.  Uda itu sangat menyayangi anak-anak, maka saking sayangnya tiap hari anaknya kepingin dicium diuyel-uyel.  Bisa jadi karena sekian bulan berada jauh dari anak-anak, uda jadi ingin merapel pelampiasan rasa rindunya pada anak-anak.  Sayangnya rasa sayang dan rindu yang dilampiaskan dengan cara yang dia lakukan udah nggak laku lagi.  Ibarat pegawai bank yang menawarkan kartu credit, nelpon tiap saat, tiap waktu meskipun udah ditolak dan tanpa peduli calon nasabahnya sedang ngapain.  Seperti itu pula lah si uda ‘menawarkan’ rasa rindu dan sayangnya pada anak-anak.

First thing first, menenangkan anak-anak.  Yai memilih untuk pindah ke kamar iti dan inyik lanjut dengan tidur disana, sementara Aya tetap dikamarnya dengan muka cemberut dan isakan tangis.   Pindah situasi membantu Yai untuk masuk ke kondisi emosi yang berbeda sedangkan Aya tidak semudah itu.  Tidur dalam kondisi emosi negatif biasanya membuat Aya cranky keesokan harinya.  Ngomong akan lebih membantu dia keluar dari kondisi emosi yang tidak mengenakkan, dan itulah yang saya lakukan.  Saya mengambil peran sebagai ibu baginya.

“Kenapa sih papa nggak ngerti kalau Aya nggak suka diciumin.  He is making fun of me, making fun of us all the time,” rintih Aya kesal.

“Minum dulu yuk, kak.  Sambil minum, tenangin hati dan pikiran kamu ya,” pinta saya sambil menyodorkan sebotol air putih dingin.  Mata udah mulai sepet, se-sepet rasa blinjo mentah.  Artinya saya tidak bisa berlama-lama nih ngobrol dengan Aya karena besok pagi saya harus tiba di Hotel Harris Kelapa Gading untuk ikut training TBS sebelum jam 8 pagi.

Aya mengambil botol yang saya sodorkan dan menenggak airnya.  Meskipun masih cemberut, raut wajahnya berangsur tenang.  Tangisannya pun hilang.

“Good.  Now that you’re feeling better, sini mama peluk.”

Sambil memeluk Aya saya memainkan peran sebagai tempat pengolahan limbah, “Kamu tau kan kalo papa itu sayang banget ke kalian.  Cara papa nunjukin sayangnya adalah dengan nyiumin kamu.  Papa juga suka becanda.  Mama ngerti sih kalo kamu gak selalu suka diciumin dan dibecandain jadi kamu teriak-teriak seperti tadi.  Akhirnya kamu pun kesel sendiri.  Nah, coba pikirin cara lain yuk yang lebih efektif untuk menghindari papa selain teriak-teriak.”

Kalimat saya mengandung unsur-unsur yang tidak bisa Aya bantah.  Aya tau kalau papanya sayang sama dia dengan cara menciumi dia.  Dia juga tau kalau papanya suka sekali bercanda.  Aya merasa papanya nggak ngerti perasaannya, tapi saya ingin dia tau kalau saya mengerti perasaannya.  Saya bermain di unsur kinestetik – perasaan Aya – supaya rapport saya dengan Aya terbangun.

“Nggak ada.  I don’t think he is capable of comprehending our feelings,” balas Aya lirih.

“Exactly.  Nah gimana supaya papa bisa ngerti perasaan kalian?  How could you avoid him without having to scream?” saya pun berubah menjadi coach buat Aya.  Goal saya adalah membantu Aya untuk mencari alternatif menghindari papanya disaat mood dia lagi nggak tepat untuk menerima kecupan dan uyel-uyelan.

“Pindah ke kamar iti.  But that’s not our room,” jawab Aya.

“Pindah ke kamar iti untuk apa?” saya bertanya lagi.

“Lock ourselves in there.”

Aha… ada titik terang nih, karena ide ini sebenarnya sempat saya diskusikan ke cikgu saat saya mengeluhkan kerusuhan di rumah.

“Can you lock yourself somewhere else?”

“Emang boleh ya kalo Aya kunci pintu kamar Aya?  Kalo mama mau masuk gimana?” tanya Aya, sedikit heran tapi matanya mulai berbinar.  Tampaknya ada lampu LED kelap-kelip muncul di benaknya saat itu.  Aya menemukan AHA moment seketika.

“Kenapa nggak?  Asal sebelum tidur kamu buka kuncinya jadi mama bisa bangunin kamu sholat Subuh.  Dan kalau mama pengen masuk kan mama bisa ketok pintunya.”

“Oh okay, then.  I’ll do that but I will talk to him first.  Kalo papa masih annoying juga, I will lock myself and put a sign outside the door that says NO PAPA ALLOWED UNTIL HE CHANGES HIS APPROACH TO LOVE US,” ujar Aya.

“Great.  Feeling better now?”

“Yes.  I just got a license to lock my own door, of course I feel better.  Thanks, mama.  I love you.”

Malam itu Aya tidur nyenyak.  Percakapan singkat kami mengantar dia ke alam mimpi.

Mungkin sebagian orang akan merasa heran kenapa saya menyetujui solusi yang keluar dari mulut Aya.  Pada prinsipnya tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya.  Namun ibarat pedagang, belum tentu semua customer kita akan membeli dagangan kita kalau nggak sesuai dengan kebutuhannya.  Pedagang yang jago adalah pedagang yang berhasil ngejual barang meskipun customernya nggak butuh.  Nah orangtua tuh sebenernya lebih beruntung dari pedagang karena setiap anak pasti butuh kasih sayang orangtuanya.  Sayangnya kita sebagai orangtua suka kena penyakit akut bernama “malasitis” yang symptomnya terdiri dari malas mencoba cara baru untuk menunjukkan kasih sayang pada anak, malas mengobservasi respon anak terhadap cara kita memperlakukan mereka dan berbagai malas malas lainnya.  Akibatnya mau sampe bego jadi pinter kemudian jadi bego lagi, anak nggak akan ngebeli kasih sayang yang kita berikan.  Alih-alih disayang balik, yang ada mereka malah sebel sama kita.

Kalau dulu PR saya adalah membangun komunikasi efektif dengan anak-anak, sekarang PR saya adalah membangun komunikasi efektif sama bapaknya anak-anak, menjadi tempat pengolahan limbah bapaknya supaya beliau bisa jadi bapak yang bisa menjual ‘dagangannya’ ke anak-anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s