Goodzilla vs Cungpret

Bullies
huffingtonpost.com

“Ma, I cried at school today”, ucap Aya Jumat lalu saat kami berdua sedang menunggu Yai nge-Gym. Otomatis reaksi saya adalah menanyakan penyebabnya.  “I don’t want to talk about it”, begitu jawab Aya.

Sebagai ibu yang dengar anaknya nangis di sekolah, tentu saja saya penasaran. Apalagi setelah dengar jawaban Aya barusan, rasa penasaran itu pun semakin besar dan bergemuruh di dada bagai deruan ombak yang pasang dan surut di pantai enggan dikejar.  Tapi kali ini saya hanya membalas dengan kata ‘okay’ tanpa embel-embel apa pun, sengaja.

Dulu, saya pasti udah maksa dia untuk cerita, tapi sekarang saya yakin dia pasti akan cerita saat hatinya sudah lebih tenang dan kepalanya sudah mulai dingin.  Dan kata ‘okay’ yang diucapkan tanpa embel-embel itu adalah strategi saya untuk membuat Aya penasaran karena saya yakin dalam hatinya dia bertanya-tanya, “hmm…. kok tumben mama gak maksa Aya untuk cerita?”

Maka selama kami berdua nungguin Yai nge-gym, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami berdua.  Saya fokus baca buku yang saya bawa, Aya pun demikian.  Ini merupakan bagian dari strategi saya untuk bikin Aya nggak kalah penasaran dengan ‘cueknya’ saya.  Semakin saya diam, semakin besar rasa penasarannya.

Ternyata, strategi saya itu berhasil.  Setibanya di rumah Aya bilang, “Ma, I know I said I didn’t want to talk about it.  Now I do.”

“Sure, kak.  Let’s talk about it.”

“Tadi di sekolah teman Aya ngatain Aya stupid dumb ass.  I don’t like to be called stupid because it is insulting my intelligence.  My intelligence is the only thing I am good at!”

Matanya mulai berkaca-kaca dan gak lama pun airmatanya tumpah bagai air bah.  Sebagai ibu, melihat anak menangis karena dikatain temennya tentu aja bikin hati ini pilu.  Eh… sembarangan banget ya tuh anak ngatain anak loe ‘stupid’.  Pake ‘dumb ass’ pula!  Besok samperin ke sekolah, ajarin tuh anak sopan santun.  Sebuah suara nyinyir tiba-tiba berisik di telinga saya.

Sebentar… sebentar… ngapain juga loe ikutan panas, Git.  Daripada ngajarin anak orang mending loe ajarin anak loe cara jitu ngadepin pembully.  Masak mantan godzilla mau berhadapan sama cungpret ABG!  Suara lain yang sama-sama nyinyir dan nyaring tapi lebih bijaksana nyautin nggak mau kalah.

Dulu, mungkin saya akan ngikutin suara yang pertama.  Tapi kan sekarang status saya adalah mantan godzilla.  Gak level lah nyamperin cungpret.

Saya pun menggeser posisi duduk saya sedikit untuk berdiosiasi.  Saya cermati lagi ucapan Aya tadi.  Semakin saya cermati, semakin terasa ada yang aneh.  Kenapa ada limiting belief ya?  ‘My intelligence is the only thing I am good at’?  Really?  I don’t think so.  Nggak bisa nih dibiarin pikiran yang seperti ini.  Jangan-jangan gara-gara limiting belief ini Aya merespon cemoohan temannya itu dengan tangisan.  Limiting belief ini harus segera dipatah-patahin.

Saya biarkan Aya menangis selama beberapa saat, supaya semua kekesalannya bisa dia keluarkan.  Saya nggak mau meluk Aya kalau kondisi emosinya masih sangat sedih bercampur kesal karena takutnya pelukan saya menjadi anchor perasaan nano-nano nelongso seperti ini.  Baru setelah tangisannya mereda, saya peluk dan ajak dia bicara lagi.

“Ay, mama bisa ngerasain sedihnya kamu dipanggil ‘stupid dumb ass’ sama temen kamu.  Tapi mama penasaran deh, seyakin apa sih kamu bahwa intelligence kamu itu satu-satunya talent yang kamu miliki?”

Aya terdiam, membisu tapi keliatan kalau pertanyaan itu membuat dia berpikir.  “I am very sure.  The only thing that proves my talent is my grades, nothing else can prove that I have other talents!” ucap Aya.

Saya nggak yakin kalau Aya yakin sama ucapannya ini.  Ini cuma ucapan kopeuh dia aja karena memang mimik wajahnya tidak menunjukkan keyakinan.

“I see.  Kalau gitu, yuk kita analisa.  Beberapa bulan yang lalu kamu bisa lolos speech contest bahkan dengan persiapan yang lumayan minim.  Kamu bisa mengalahkan belasan anak lainnya.  Bahkan di tingkat Jakarta Selatan kamu tetap bisa perform dengan baik meskipun kamu dapat giliran lumayan paling belakangan.  Beberapa tahun yang lalu kamu juga menang story telling dalam Bahasa Myanmar. Bahasa Myanmar lho, Ay!  Berapa orang anak di sekolah kamu bahkan di Indonesia ini yang bisa story telling dalam Bahasa Myanmar?  Beberapa kali juga kamu recital solo piano di Yangon.  Sebelum pulang ke Indonesia juga kamu kepilih untuk ikut Paskibra.  So, given these facts, Aya masih beranggapan bahwa bakat kamu hanya bakat intelektual?” lanjut saya, mencoba mematahkan beliefnya.

Saya yakin saat itu hati kecil Aya berkata, “damn, why is she always correct about me?”

Dan benar aja, nggak lama kemudian Aya berkata pelan, “hmm…. you’re right, ma.”

Meskipun masih ada sisa airmata di matanya, tapi secercah cahaya terlihat dari raut wajah Aya.

“Jadi, sekarang Aya sadar kan kalau kamu itu punya talent lain?  Tinggal bagaimana kamu asah lagi kemampuan kamu itu biar semakin baik,” tambah saya.

Aya mengangguk.

“Iya, ma.  I realise that now.  Tapi Aya tetap gak suka dipanggil stupid dumb ass,” ujar Aya lirih.

Ooh… rupanya masih ada sisa kekesalan juga dalam hati Aya meskipun limiting beliefnya udah terbang entah kemana.

“Nggak ada orang yang suka dipanggil stupid, Ay.  Mama kalau dipanggil ‘stupid’ apalagi pake embel-embel ‘dumb ass’ juga bakalan bete.  Nah, coba ceritain ke mama, apa tepatnya terjadi saat Aya mendengar ucapan teman kamu tadi?”

“Kata ‘stupid dumb ass’ itu bikin Aya kesel, ma.  Rasanya waktu denger kata-kata itu dada Aya langsung sesek, kuping Aya panas.  Kata stupid dumb ass itu seolah-olah kedengeran berulang-ulang terus di kuping Aya.  The world stupid was buzzing in my ears.  Dan saat Aya liat muka temen Aya yang ngatain Aya itu, Aya pengen banget nonjok dia.  But I know it’s not right to do that, so I didn’t do it,” jelas Aya.

Hmm… sepertinya faktor sub-modality auditif (suara) dan visual (wajah temannya) ngefek banget terhadap emosi Aya.  Saya minta Aya untuk berbaring biar dia bisa relax.

“Aya, I am proud of you.  Meskipun rasanya kamu pengen nonjok teman kamu itu tapi kamu tetap bisa level headed untuk nggak nonjok dia.  Sekarang coba tenangin pikiran Aya dan dengerin ucapan mama, ya.  Aya boleh tutup mata Aya juga.  Kemudian munculin wajah teman yang ngatain Aya tadi.  Kalau udah muncul tolong describe ke mama apa yang Aya liat.”

Aya mengikuti perintah saya.  Untuk menenangkan pikirannya, dia memilih untuk berbaring.  Ternyata nggak butuh waktu lama bagi Aya untuk mengakses memori tentang temannya tersebut.

“Tadi kita semua ada di ruang kelas.  Beberapa orang teman Aya lagi main game, tapi Aya nggak ikutan.  Trus ada yang ngelempar pertanyaan.  Karena Aya ngerasa Aya tau jawabannya, jadi Aya jawab.  Abis itu Aya dibilang stupid sama salah satu dari mereka.  I didn’t know what I did wrong,” papar Aya.

Wajahnya mulai menoreh guratan kekecewaan dan kekesalan.  Aya mulai mewek tapi sebelum mewek berubah jadi tangisan lagi, saya ajak Aya untuk mengikuti permintaan saya.

“Apakah Aya melihat kejadian itu seperti melihat film, atau Aya mengalaminya?”

“Aya seperti liat film.”

“Seberapa jelas wajah teman Aya yang tadi ngatain Aya stupid?”

“Jelas banget, ma.  Even now I feel like I want to smack her grinning face!” ucap Aya geram.

“Sekarang mama minta Aya untuk rubah wajah teman Aya itu.  Terserah bentuknya apa.”

Aya berdiam sejenak.  Meskipun matanya terpejam tapi saya lihat pergerakan bola matanya ke kiri dan ke kanan.  Perlahan sebuah senyuman tipis merekah di bibirnya.

“Udah ma.  Boleh nggak Aya coret-coret muka temen Aya itu sekalian?” tanya Aya.

“Oh boleh aja, it’s up to you.  It’s your memory, you’re free to do anything to it now.”

Lalu tangan Aya bergerak seolah-olah dia sedang menggambar sesuatu.

“Aya gambar kumis Hitler di wajah dia, ma,” ujar Aya menepis rasa penasaran di hati saya, kepingin tau kira-kira apa yang dia gambar.

“Aya rubah jadi apa wajah teman Aya itu?”

“Aya rubah jadi wajahnya Professor McGonagall trus sekarang Professor McGonagall-nya pake kumis Hitler.”

Senyumannya Aya merekah, perlahan berubah jadi tawa kecil dan nggak lama pecah menjadi sebuah tawaan geli.

 

“How do you feel now?”

“Muuuuucccchhh better, thanks ya ma,” ucap Aya sambil meluk saya.

“No worries, Ay.  Besok-besok, kamu bisa ulang sendiri teknik seperti ini kalau ada yang ngatain kamu.  Mama yakin apa pun ledekan teman atau orang lain nggak akan ngaruh lagi buat kamu.”

Penasaran kenapa kok karakter dari Harry Potter itu yg dia pilih?  Aya penggemar serial Harry Potter, dan Professor McGonagall adalah salah satu karakter yang dia sukai.  Saat saya tanya sama Aya kenapa memilih karakter Professor McGonagall, jawaban dia adalah, “Because I don’t want to hate her, ma.  I still want to be friends with her, like I am with the others.  Ngerubah wajah temen Aya itu jadi wajahnya McGonagall nggak akan bikin Aya sebel sama dia.  Nambahin kumis pada mukanya McGonagall itu supaya lucu aja, dan Aya nggak akan terpengaruh sama ucapannya,” jelas Aya.

Saya terpukau dengan penjelasan Aya.  Hebat sekali, pikir saya.  Kalau saya jadi Aya, mungkin saya akan pilih wajah Mimi Hitam yang nyebelin di serial Donald Bebek.  Bijaksana juga anak sulung saya ini.  Ternyata anak mantan godzilla adalah seorang goodzilla.

Dari reaksi Aya barusan jelas sekali bahwa emosinya sudah totally berubah hanya dengan mengedit wajah teman yang ngatain dia.  Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk merubah state of mind Aya dari yang sedih, kesel, gondok dan kecewa menjadi state yang lebih ceria?  Sebentar kok, cuma 15 menit aja.

Dengan ngebekalin Aya teknik sub-modality ini saya yakin cungpret akan males nge-bully goodzilla.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s